Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 19b


__ADS_3

BAB 19b


Duduk di pinggiran bathtub, Anggi meraba dadanya yang sejak tadi gaduh tak beraturan. Ada getar tak terduga yang membuatnya membeku seketika.


Juna sudah sering menciumnya jika mereka melebur raga, bahkan lebih buas dari yang tadi. Ciuman yang terjadi akibat tergerus hasrat, bukan lembut dan manis seperti beberapa saat yang lalu.


Pipinya memanas. Menggunakan punggung tangan, Anggi meraba wajahnya sendiri. Apakah ia sedang merona sekarang?


Benci reaksi tubuhnya yang seolah sengaja ingin meruntuhkan benteng hati rapuhnya, dengan terburu-buru, Anggi membasuh wajah berkali-kali hingga airnya terciprat ke ke pinggiran wastafel juga lantai. Menyiramkan air sebanyak mungkin supaya pipinya mendingin dan berharap jantungnya ikut kembali normal.


Juna sering bersikap kasar padanya, tetapi tidak pernah sampai bermain wanita di belakangnya. Sisi pengertian juga manis dari Juna yang belakangan naik ke permukaan, membuat Anggi membuka sedikit tirai hatinya ingin menelaah. Walaupun sikap Juna masih terbungkus intimidasi yang tak kunjung surut.


Haruskah ia mulai belajar memahami lebih jauh dan lebih dalam lagi tentang suaminya ini? Tetapi, bagaimana jika saat digali lebih dalam hanya menambah beban derita? Entahlah, Anggi masih ragu.


Tak ingin banyak pikiran, Anggi memutuskan mengguyur diri. Membiarkan air jatuh di ubun-ubun hingga merayap turun mencapai kaki. Seperti halnya nasib hidupnya saat ini. Ia akan membiarkan semuanya mengalir seperti air, tak mau membangun harapan apa pun. Menjaga hatinya dari rasa sakit yang lebih sakit.

__ADS_1


*****


Ruang konferensi Hotel Padma ditata dan didekorasi rapi. Kursi-kursi berjejer dengan air minum sudah tersedia di setiap meja dilengkapi gelas.


Hari ini Anggi mengenakan setelan baju kurung berwarna biru tua. Sopan juga elegan. Serasi dengan jas yang dipakai Juna. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, dilengkapi anting mutiara juga kalung serupa.


Para pejabat pemerintah serta presdir dari perusahaan lain pun kebanyakan datang bersama istrinya. Anggi duduk di bagian belakang. Tempat yang memang disediakan untuk para istri. Sedangkan Juna bergabung bersama para pengusaha juga pejabat tinggi lainnya di bagian depan.


Ini adalah pertama kalinya Anggi diajak menghadiri acara penting mendampingi Juna. Gugup sudah pasti. Kebanyakan istri-istri yang berkumpul tampak berkelas dengan memakai barang mahal bermerek luar negeri dari kepala hingga kaki, sementara Anggi memilih berpenampilan sederhana saja yang penting sopan, walaupun sebetulnya barang-barang bermerek memenuhi isi lemarinya. Kebanyakan dibelikan oleh ibu mertuanya.


Salah seorang wanita menyapa Anggi. Tinggi semampai dengan rambut disanggul ke atas, bajunya sopan namun ketat, berwarna merah tua di atas lulut. Ekspresinya angkuh dan terkesan meremehkan.


"Perkenalkan, saya Anggita, istrinya Arjuna." Anggi berdiri. Mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.


Si wanita itu bukannya menerima jabat tangan. Lebih tertarik menilik Anggi dari atas rambut sampai alas kaki yang menurutnya sama sekali tidak mencerminkan seorang nyonya besar.

__ADS_1


"Wah, jadi Anda istrinya Pak Arjuna. Senang melihat Anda ikut." Salah satu istri pejabat pemerintah membalas uluran tangan Anggi dan menyapa ramah.


"Saya juga, Nyonya. Senang bertemu Anda semua," sahut Anggi sesopan mungkin, berusaha menjaga attitude. Jangan sampai membuat Juna malu, bisa-bisa hukuman seperti yang sudah-sudah akan menyambut.


"Nyonya, bagaimana kabar Anda? Semakin awet muda saja," puji si wanita berbaju merah terbalut misi menjilat.


"Kabar saya baik," jawab istri pejabat itu singkat dan memilih kembali fokus pada Anggi tak ingin meladeni.


"Baju kurung Anda begitu elegan. Siapa yang mendesain? Dan sepertinya kainnya juga halus. Apakah ini kain produk Royal Textile?" Si wanita ramah tadi tertarik dengan baju sederhana Anggi juga jenis kainnnya.


"Saya sendiri yang mendesain. Tentu saja ini salah satu kain premium produksi Royal Textile."


Atmosfer tegang yang tadi melingkupi, perlahan mencair berkat obrolan seputar kain. Antusias, Anggi menjelaskan secara detail, sedangkan si wanita berbaju merah menghunuskan tatapan dengki ke punggung Anggi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2