
Istri Arjuna Bab 60a
Anggi menunduk dalam seakan ketakutan setelah Juna melontarkan pertanyaan padanya. Meremat jari-jemarinya. Ia sedang duduk berhadapan dengan Juna di kursi taman belakang vila yang menyajikan panorama cakrawala sore nan indah.
“Kenapa kamu enggak berterus terang?
“Maaf,” cicit Anggi yang kemudian menggigit bibir.
“Kenapa kamu menyembunyikan fakta dariku, kalau Mbak Rani adalah orang yang telah membuatmu jatuh hari itu? Sebab ini kah kamu seperti terkesan menghalang-halangi setiap kali aku hendak mencari tahu penyebab kamu terjatuh di restoran? Karena ternyata kakakku sendiri yang mencelakaimu? Kenapa menyembunyikannya? Juna memberondong tanya dengan nada rendah, tetapi menuntut. Menatap lekat-lekat istrinya yang terus menunduk.
“Ma-maaf. Aku … aku cuma enggak mau hubungan Mas dengan mbak Rani memburuk karena hal ini. Aku enggak mau jadi biang permusuhan antara adik dengan kakaknya. Bagaimana pun juga kita satu keluarga. Lagi pula … lagi pula Mbak Rani pasti tak sengaja mendorongku. Bisa saja itu hanya gerakan refleks saat orang sedang emosi. Mungkin ucapanku waktu itu juga membuatnya marah," jelas ucap Anggi pelan. Masih menunduk, tak berani mengangkat kepala.
“Memangnya apa yang kamu katakan?” Juna bersedekap.
“Ehm. A-aku bilang ... aku bilang kalau Mas Juna lebih tampan dari Mas Bara,” cicit Anggi yang kian menunduk dalam.
“Hah?” Juna menegakkan punggungnya yang asalnya bersandar. Cukup dibuat bingung dengan jawaban istrinya. “Maksudnya bagaimana?
__ADS_1
“Be-begini. Saat itu, aku tak tahan ingin mengutarakan pendapat. Entah kenapa aku tak bisa menjaga nada bicaraku. Aku bilang pada Mbak Rani untuk membuang sifat curiga berlebihan juga supaya jangan sedikit-sedikit cemburu buta pada tempat yang tidak seharusnya. Hari itu aku memakai baju yang dibelikan Mami, warna gaunnya merah cerah. Saat aku bermaksud ke toilet, Mbak Rani mencegatku, menuduhku hendak menggoda Mas Bara di acara makan malam dengan memakai warna gaun yang katanya warna kesukaan suaminya.”
Anggi membasahi bibir menjeda kalimatnya, sedangkan Juna terus memaku pandangan sembari mendengarkan dengan saksama.
“Mbak Rani juga menuduhku yang bukan-bukan. Katanya aku pasti sengaja ingin menggunakan kehamilanku merayu Mas Bara karena Mbak Rani tak kunjung hamil. Sebab bajuku mencetak di bagian perut sehingga perutku terlihat sedikit menyembul. Aku sama sekali tak pernah memiliki niat menggoda. Aku tersulut emosi saat itu karena Mbak Rani terus melayangkan tuduhan tak berdasar. Kemudian aku bilang padanya kalau aku tak tertarik dengan suaminya. Dan aku juga bilang, kalau memang mau menggoda, aku akan menggoda Mas Juna yang bagiku lebih tampan dari Mas Bara. Mbak Rani yang malah bertambah kesal karena jawabanku langsung mendorongku. Maaf, aku enggak bermaksud membicarakan hal buruk tentang kakak iparku sendiri, aku merasa seperti jadi pengadu sekarang,” pungkasnya yang terdengar merasa bersalah.
Juna yang asalnya memasang raut intimidasi, berusaha menyembunyikan senyum yang mendadak ingin melebar. “Jadi menurutmu, aku lebih ganteng?” ujarnya senang, rongga dadanya mengembang begitu saja, merasa dipuja oleh pujaan hatinya.
“Hah?” Anggi merespons salah tingkah.
“Sini.” Juna membuka kedua lengannya lebar-lebar sedangkan Anggi yang tak mengerti malah mengerjap-ngerjapkan mata.
Tak perlu menunggu lama, Anggi langsung turun dari kursinya dan naik ke pangkuan Juna. Memeluk leher suaminya itu dan bergelung di sana. Juna balas merangkul erat. Mengecup mesra pipi juga pelipis Anggi.
“Maafin aku. Seharusnya aku berterus terang dari awal. Jangan marah lagi, ya. Aku mohon. Aku juga andil dalam hal ini. Pasti tanpa sadar aku telah memprovokasi Mbak Rani hingga akhirnya mendorongku. Berdamailah dengan kakakmu, lagi pula, aku dan anak kita sudah baik-baik saja sekarang,” pintanya dengan nada frustrasi, bersandar di bahu kokoh Juna setengah mendongak mempertemukan pandangan.
“Tetap saja. Mbak Rani harus belajar mengontrol emosi. Kalau dibiarkan terus menerus, maka imbas buruknya justru akan berdampak untuk dirinya sendiri. Aku akan tetap bicara padanya supaya merenungi perbuatannya yang kali ini sudah di tahap level membahayakan orang lain. Semakin hari amarahnya terus tak terkendali. Bahkan dia melemparku dengan gelas. Membuatku merasa tak mengenalnya lagi.”
__ADS_1
“Tapi bicaralah baik-baik dengan kepala dingin. Secara dewasa,” pinta Anggi memohon. “Aku tidak mau, karena aku Mas jadi berseteru berkepanjangan dengan kakak sendiri,” ujarnya sedih.
Juna membuang napas, lalu kembali menatap bola mata jernih yang tengah memohon padanya. “Akan aku coba. Tapi aku ingin dengar dulu jawaban dari pertanyaanku yang tadi. Kamu masih belum menjawabnya,” tuntutnya sambil mengulum senyuman.
“Eh, yang mana?” tanya Anggi bingung.
“Yang tadi. Jadi, menurutmu aku ini lebih ganteng?” tanyanya tak tahu malu.
Paras jelita Anggi merona begitu saja. Ia mengangguk lugu dan menenggelamkan wajah di dada bidang sang suami. Disambut tawa renyah Juna juga pelukan yang dieratkan, disusul kecupan di puncak kepala.
Juna menikmati panorama matahari terbenam bersama wanita tercintanya yang didekap di pangkuan. Buncahan bahagia bergetar di dada. Saling meresapi syahdu dari pendar keemasan di ufuk barat, merayu lisan untuk berucap.
“I love you, Papa,” cicit Anggi yang kemudian mengecup rahang Juna mesra.
Juna menoleh. Menggesekkan hidung di hidung bangir istrinya. Menyelami manik Anggi yang memang selaras dengan ucapan dari bibir merah delimanya. Berkata cinta padanya yang bersumber dari hati, bukan hanya manis di mulut semata.
“I love you more. I love you more. Mama baby.”
__ADS_1
Kecupan di bibir tak terelakkan. Saling membalas mengekspresikan rasa. Beratapkan langit senja yang menjadi saksi dua cinta berpadu, merona indah tersipu malu.
Bersambung.