Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 33a


__ADS_3

Istri Arjuna 33a


Berpamitan gemulai, si bola binar raksasa lentera dunia mulai turun ke ufuk barat. Lembayung kuning mengiringi kepulangannya. Menciptakan jejak jingga memukau di angkasa.


Anggi menggosok matanya pelan. Seluruh tubuhnya terasa ringan kala penat enyah dari raga. Tidurnya begitu nyenyak dan saat melihat Arloji ia membulatkan matanya yang masih belum fokus sempurna. Pantas saja badannya terasa segar, rupanya ia tertidur cukup lama hingga sore menjelang.


Menumpukan kedua siku di sofa, Anggi bermaksud untuk bangun. Pergerakannya terhenti ketika matanya menangkap pemandangan tak biasa di dekat kakinya. Juna tertidur dalam posisi duduk sedikit miring, sementara lengannya memeluk kedua kaki Anggi yang berada di atas pangkuannya.


Beringsut perlahan Anggi menegakkan tubuh. Tidak serta merta bangun dan membuat gerakan ribut. Suaminya itu tampak kelelahan. Bagaimana tidak, setumpuk pekerjaan dengan jadwal padat ditambah harus mengurusi perihal rumah sakit dan kepulangan ibunya, sudah pasti menyita waktu dan tenaga Juna meskipun Pandu ikut membantu.


Suaminya itu memang menorehkan banyak luka di hatinya, hanya saja seburuk-buruknya Juna, suaminya itu tidak pernah memukul secara fisik maupun bermain wanita di luar. Selalu mengusahakan sebaik mungkin demi kesehatan dan kesembuhan ibunya juga mencukupi kebutuhan lahiriahnya, berupa uang melimpah dan rumah megah yang sebetulnya lebih mirip penjara baginya.


Ada yang belum Anggi ketahui secara mendalam tentang pribadi pria yang menikahinya itu. Pada dasarnya Juna merupakan tipe setia juga penyayang walaupun terbungkus ketegasan. Akan tetapi, sebab terkungkung obsesi masa lalu, keelokan sifat baiknya itu seakan terkubur, tak begitu terlihat eksistensinya dan hanya sesekali muncul ke permukaan.

__ADS_1


Saat menunduk dan menilik dirinya sendiri, Anggi baru menyadari bahwa tubuhnya diselimuti jas Juna. Ditatapnya lekat wajah tampan yang jika tertidur bak malaikat, tetapi ketika mata itu membuka, intimidasi yang nyata selalu terpancar dari sana.


“Kenapa Mas akhir-akhir ini bersikap manis lagi padaku? Jika itu hanya harapan semu, sebaiknya jangan. Otakku memang terus berseru pada diriku sendiri agar tak mudah goyah. Namun, hatiku terkadang mengkhianati isi kepalaku,” gumam Anggi serak nyaris tak terdengar.


Gelombang suara dari bibir Anggi meskipun pelan, frekuensinya ternyata mampu membangunkan Juna. Pria yang terlelap itu mulai menggeliat, mengucek mata dan tatapannya langsung bersirobok dengan Anggi yang tengah memaku lurus padanya. Anggi terkesiap, cepat-cepat membuang muka, merasa tertangkap basah mengamati wajah tampan suaminya sendiri.


“Emhh, kapan bangun? Kenapa tidak membangunkanku?” Juna bertanya sembari mengedarkan pandangan ke luar kaca raksasa yang mempersembahkan lukisan indah langit jingga.


Di luar dugaan. Alih-alih marah, Juna malah terkekeh. “Benarkah? Mungkin karena aku memeluk guling spesial ini, jadi tidurku nyenyak walaupun sambil duduk.” Juna mengarahkan telunjuk ke betis jenjang nan putih Anggi yang masih berada di pangkuannya.


Buru-buru Anggi menarik kedua kakinya. Wajahnya menghangat sedikit merona. Merasa malu karena sejak tadi membiarkan kakinya tetap berada di pangkuan Juna akibat terlalu nyaman. Anggi berdehem kendati tenggorokannya tak gatal guna mengusir suasana kikuk yang tengah terjadi.


“Ehm, ehm. A-aku mau pulang. Aku lapar,” ucapnya sedikit tergagap seraya menelan ludah. Tetap menekuk wajah sambil sesekali menepuk pipinya sendiri.

__ADS_1


Juna megangguk dan berdiri. “Siap, laksanakan, Mama Baby,” jawabnya dengan nada manis.


Anggi terbatuk beberapa kali. Mata sendunya membeliak terkejut. Melotot nyaris meloncat keluar. “A-apa tadi Mas bilang?” serunya sengit.


“Apanya yang apa?” Juna malah balik bertanya sengaja menggoda.


Anggi membuang napas kasar dan kembali memasang wajah datar. “Kita jadi pulang atau tidak? Kalau Mas masih lama, aku mau naik taksi saja!”


“Tidak boleh. Tunggu sepuluh menitan. Aku mau memilah dulu beberapa berkas yang akan kubawa pulang.”


Juna segera beranjak ke meja kerjanya, sedangkan Anggi mengelusi dadanya berulang-ulang demi menertibkan degup jantungnya yang mendadak gaduh di dalam sana. Anggi benci pada si detak di dalam rongga dadanya yang tak mau berkompromi. Tak dipungkiri, sejumput rasa hangat berselimut jengkel menelusup menari-nari di dalam kalbu saat Juna memanggilnya dengan sebutan ‘Mama Baby’.


TBC

__ADS_1


__ADS_2