
Kegiatan kerja bakti terlihat berlangsung di sebuah aula lapas. Mulai dari yang menyapu, mengepel, sampai mengelap meja-meja kayu yang ada di sana. Di sudut kiri paling ujung, seorang wanita duduk terdiam di sana sementara yang lainnya sibuk mengerjakan ini itu.
Wajahnya tirus, matanya cekung, tubuhnya kurus, rambutnya digulung sembarang, hanya di bagian perutnya saja yang tampak begitu kontras, menonjol membuncit pertanda ada kehidupan yang bertumbuh di baliknya.
Dia termenung, tak terganggu dengan hiruk-pikuk pikuk di sekitarnya, memandang ke area luar dengan tatapan kosong di mana cuaca cerah beratapkan langit biru tengah melingkupi.
"Heh, jangan duduk diam saja! Bantu bersih-bersih kek, mentang-mentang hamil bukan alasan untuk jadi pemalas!" Seorang wanita bertubuh gempal berwajah sangar melempar lap kotor bekas mengelap meja tepat ke wajah si wanita termenung yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayu.
Ya, wanita yang termenung itu ialah Ayu. Semenjak hari di mana dia diperlihatkan gundukan tanah ibunya, Ayu membisu seribu bahasa. Kerap melamun sepanjang waktu, tak mau bertemu siapa pun termasuk Anggi yang pernah beberapa kali meminta bertemu saat mampir mengirimkan keperluan ibu hamil. Kakaknya memang harus dihukum, tetapi bagi Anggi keponakannya yang dikandung sang kakak memiliki hak untuk mendapatkan perhatian yang layak.
__ADS_1
"Dia itu sengaja bermalas-malasan dengan memakai alasan perut buncitnya itu. Padahal dari berita yang kudengar, yang bertumbuh di dalam perutnya itu cuma anak haram! Sama sekali tak cocok dijadikan pengecualian," cibir yang satunya lagi seraya berkacak pinggang.
Ayu bergeming. Dicecar sebanyak apa pun dia hanya membeku tak bereaksi. Bahkan saat si wanita gempal menoyor kepala dan menjambak rambutnya pun, Ayu hanya diam saja, tak melawan mau pun menyahuti. Sedangkan yang lainnya hanya melirik sekilas tanpa berani berkomentar, si wanita gempal yang kini tengah mencecar Ayu adalah napi langganan yang keluar masuk sel, merupakan ketua preman di lapas wanita dan hampir semua napi tak ingin berurusan dengannya.
"Sejak pulang setelah hari di mana dia diizinkan keluar oleh polisi, dia tak lagi bisa diajak bicara, terus saja termenung sambil memegang sisir dan kuncir," bisik salah satu wanita yang sedang membilas kain pel dan mencelupkannya kembali ke dalam ember berisi air yang dicampur cairan pembersih lantai. Berbicara pada temannya yang sedang mengelap meja.
"Iya, kudengar hari itu, dia dibawa untuk melihat makam ibunya dan saat pulang dia seolah kehilangan kemampuan bicaranya, asik terdiam saja setiap hari sampai sekarang dan bertambah parah setiap harinya. Tahu sendiri sebelumnya dia kerap berteriak-teriak berisik meminta ingin bertemu ibunya, menganggu ketenangan kita di dalam sel."
"Eh, di sana, Bu," jawab mereka sembari menunjuk takut-takut. Di mana Ayu sedang dikerubuti beberapa orang yang langganan mengganggu.
__ADS_1
"Hei, bubar-bubar! Kembali pada tugas kalian!" seru si sipir tegas juga lantang.
Mereka langsung bubar. Meninggalkan Ayu yang semakin tampak menyedihkan dengan rambut acak-acakan bekas jambakkan.
"Masayu, ikut saya, sudah waktunya memeriksa kandungan," ucap si sipir.
Ayu yang tertunduk mengangkat wajah. Mengerjap dan menatap si sipir kemudian tiba-tiba saja menarik kedua sudut bibirnya menampilkan tawa tipis.
"Anggi, kamu mau Mbak kuncir ya?" cicitnya sembari mengangkat sisir juga kuncir di tangannya.
__ADS_1
Bersambung.