
Istri Arjuna Bab 56a
"Rumah tanggamu tetap adem ayem walaupun menikah dengan dijodohkan. Aku tahu, pasti enggak gampang menyesuaikan diri dengan seseorang yang baru kamu kenal. Tapi, sepertinya suamimu sangat baik," ucap Dara yang duduk di sebelah Anggi di jejeran kursi yang tersedia, sementara Freya dengan Fatih, tunangannya, sedang sesi foto bersama keluarga.
Anggi tersenyum simpul. "Mas Juna sosok suami yang baik. Walaupun kami enggak melalui yang namanya penjajakan, tapi begitu menikah, aku dan dia belajar untuk saling memahami. Memang enggak gampang, tapi bukankah segala sesuatunya harus diupayakan supaya terwujud hal yang diharapkan?"
Dara memeluk bahu sahabatnya itu dan sama-sama mengulas senyum.
"Kamu benar. Syukurlah kalau begitu. Aku turut senang. Apalagi sekarang ada buah hati di antara kalian, lengkap sudah kebahagiaanmu. Sebentar lagi Freya akan menyusul kita berumah tangga. Semoga setelah menikah nanti, Freya juga dilimpahi kebahagiaan yang sama," timpal Dara tulus dari lubuk hati.
Anggukkan Anggi merespons pernyataan Dara disambung ucapan, "Kita do'akan yang terbaik."
Dara dan Freya adalah sahabat yang teramat dekat dengan Anggi sejak kuliah dan tetap terjalin baik sampai sekarang.
Suatu waktu, terkadang ingin sekali rasanya Anggi bercerita pada kedua sahabatnya itu tentang segala kisruh rumah tangganya, juga tentang masalah pengobatan ibunya. Namun, itu tak pernah terjadi. Ia memiliki prinsip sendiri yang selalu dipegangnya teguh hingga sekarang. Selagi dirinya masih mampu mengatasi kendati tertatih-tatih, ia tak mau menjadi teman yang malah menjadi beban sahabatnya sendiri.
Anggi sangat menjaga silaturahmi dengan para sahabatnya. Ia banyak berkaca dari kejadian-kejadian yang dialami orang lain di sekitarnya. Tidak semua hal patut diceritakan kendati hubungan pertemanan amat dekat. Terlebih lagi jika menyangkut masalah finansial. Banyak pertemanan yang berakhir buruk disebabkan masalah rupiah.
Juga tentang hal-hal pahit yang dialaminya sejak permulaan pernikahan dengan Juna. Anggi memilih bungkam terhadap siapa pun. Menutup rapat-rapat, tak ingin para sahabatnya tahu yang berakhir membuat banyak orang khawatir. Ia lebih suka, saat orang yang disayanginya tersenyum, bukan bersedih karena dirinya.
Terlebih lagi setelah menikah. Banyak hal yang lebih baik tidak menjadi konsumsi publik termasuk keluarga dan teman sendiri. Melihatnya dari sudut pemikiran dewasa. Lantaran rumah tangga dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya merupakan rahasia yang sebaiknya tidak diumbar. Berusaha dan berdo'a tetap menjadi kunci. Berkeluh kesah serta mengadu tak luput, hanya saja cukup dideraikannya pada Sang Pencipta. Dan setelah melewati onak berduri bahkan hampir terperosok ke jurang dosa, kini kesabarannya terasa manis buahnya.
"Eh, aku mau foto bersama dulu." Dara bangkit dari duduknya saat Wira sang suami melambai padanya, di mana giliran jejeran pengurus Rumah Sakit Satya Medika untuk berfoto dengan pasangan yang baru saja bertunangan itu.
"Oke. Aku juga mau ke halaman tempat parkir kendaraan."
Dara bergabung dengan kerumunan, sedangkan Anggi menuju di mana mobilnya terparkir. Hendak menyusul Bik Tiyas yang sedang mengambilkan obat mualnya yang dari lima belas menit lalu masih belum kembali. Juga bermaksud mengajak Pak Oman untuk ikut bergabung makan siang.
__ADS_1
Mobil diparkir lumayan jauh karena padatnya kendaraan yang datang. Berjarak sekitar lima rumah dari kediaman Freya. Terlihat Pak Oman dan Bik Tiyas sedang berjongkok di samping mobil. Anggi mempercepat langkah ingin tahu apa yang terjadi.
"Kenapa, Bik, Pak?"
"Maaf Bu. Ini, ban belakang kempes, kanan sama kiri. Ban serep cuma bawa satu. Sepertinya di daerah sini banyak ranjau paku yang sengaja ditebar," jawab Pak Oman yang menunjukkan beberapa paku di tangan juga beberapa yang masih tertancap di ban.
"Terus, gimana?" Anggi yang tak paham perihal masalah kendaraan malah bingung sendiri.
"Paling ini diganti dulu sebelah pakai yang ada. Yang sebelahnya lagi masih tersisa udara, jadi masih bisa dibawa ke bengkel terdekat untuk mengatasinya. Tapi klo muat orang takutnya peleknya ikut rusak," jelas Pak Oman.
"Kira-kira berapa lama?" tanya Anggi kemudian.
"Kalau tidak antre, tiga puluh menit juga selesai, Bu. Tapi kalau banyak pelanggan, pasti lumayan lama," sahut Pak Oman.
"Ya sudah. Bawa saja ke bengkel. Kalau nanti ternyata lama, Pak Oman segera kabari aku atau Bik Tiyas. Tentang masalah pulang biar aku hubungi Mas Juna sambil menjelaskan."
"Wajar kok, Pak. Namanya juga kendaraan dipakai. Lumrah mengalami yang namanya ban kempes. Sebaiknya secepatnya berangkat."
Anggi mengajak Bik Tiyas kembali ke area pesta pertunangan sembari mengirimkan pesan pada Juna perihal masalah mobil. Bik Tiyas memilih menjaga jarak demi adab kesopanan. Tidak terlalu berdekatan dengan Anggi yang kini duduk bergabung dengan Dara dan Wira. Walaupun begitu, Bik Tiyas memilih posisi yang tetap leluasa memantau sang nyonya. Takut majikannya yang sedang hamil muda kelelahan atau butuh sesuatu.
Pukul dua siang, Anggi mulai merasa letih. Hamil muda menjadikan staminanya mudah lelah. Belum lagi efek nikmat membakar kalori tadi pagi yang berlangsung beberapa kali.
"Bik, Pak Oman belum mengabariku. Apa sudah kembali?" tanya Anggi pada Bik Tiyas.
"Barusan telepon ke handphone saya, katanya masih antre, Bu."
"Duh. Ini Mas Juna juga tumben belum balas pesan. Aku mau telepon Pandu saja biar jemput kita sebentar. Takut Mas Juna lagi sibuk. Aku pengen pulang. Kepalaku agak pusing. Mungkin karena suasana bising."
__ADS_1
Akhirnya Anggi menghubungi Pandu. Meminta menyampaikan pada Juna perihal kempesnya ban mobil juga keinginannya untuk pulang. Bisa saja ia memesan taksi atau meminta salah satu sopir kantor menjemput mengunakan mobil lainnya yang terparkir di garasi rumah. Akan tetapi, ia tetap harus meminta izin pada Juna terlebih dahulu. Tak ingin membuat suaminya khawatir.
"Pandu, apa Mas Juna masih sangat sibuk? Padahal tadi pagi Mas Juna bilang selepas makan siang acaranya agak sedikit santai, hanya mengunjungi beberapa gerai para relasinya. Pesan yang kukirim juga masih centang satu sejak satu jam lalu." Anggi memberondong cepat saat Pandu membalas pesannya dengan panggilan telepon.
"Mmm, begini, Bu. Ada hal mendesak. Juga mungkin ponsel beliau kehabisan daya. Saya sebentar lagi tiba di lokasi Anda," sahut Pandu cepat.
"Lho, memangnya Mas Juna enggak lagi sama kamu?"
"Nanti ... nanti saya jelaskan, Bu."
Suara Pandu yang terdengar aneh membuat Anggi mengernyit. Ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Anggi mengurungkan niat mengingat Pandu sedang mengemudi.
"Baiklah," jawab Anggi singkat sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Anggi beranjak mendekati para sahabatnya untuk berpamitan. Bertukar kata sejenak sambil menunggu jemputan tiba, dan tak lama kemudian mobil Pandu pun datang.
"Pandu, memangnya Mas Juna ada pertemuan lain sampai-sampai ponselnya susah dihubungi?" cecar Anggi ingin tahu begitu mobil melaju pulang. Tidak biasanya suaminya begini.
"Tidak ada pertemuan lain, Bu. Tapi_" Kalimat Pandu terhenti.
"Tapi apa?" tukas Anggi tak sabaran.
"Tapi ... Pak Juna terbang ke Bali menggunakan pesawat pribadi, sekitar tiga puluh menit yang lalu," jawab Pandu jelas serta padat dan jawabannya tersebut sukses membuat Anggi terperanjat.
"Hah, Bali?"
TBC
__ADS_1