
Istri Arjuna Bab 28b
“Bik, kalau ada apa-apa dengan Anggi, segera beri kabar. Mulai hari ini, jangan biarkan dia pergi kemana-mana apa pun alasannya. Sebentar lagi dua security dari kantor yang kutugaskan untuk berjaga akan datang,” ucap Juna sambil menyantap sarapannya.
“B-baik, Pak,” sahut Bik Tiyas sedikit tergagap. Mendengar niat Juna, menimbulkan keinginan bertanya yang tak mampu ditahannya.
“Tapi, maaf sekali. Kalau boleh tahu, kenapa sampai mendatangkan security untuk menjaga rumah, Pak?” tanya Bik Tiyas memberanikan diri mengutarakan isi kepalanya meski sungkan.
“Untuk mengantisipasi apabila Anggi memaksa ingin keluar rumah. Demi mencegahnya berbuat nekat lagi seperti kemarin. Kemarin sore, dia bukan pergi ke salon. Tapi ke klinik aborsi!” jelas Juna dengan nada geram tertahan. Cangkir yang dipegangnya diremas kuat tanpa sadar saat dia menjawab.
Bik Tiyas terkesiap walaupun kemarin sempat tak sengaja mencuri dengar tentang hal tersebut ketika tuan dan nyonyanya sengit beradu mulut di ruang tamu. Bik Tiyas kemudian hanya merespons melalui anggukan beberapa kali. Enggan menimpali dengan lisan saat mengamati sang tuan yang mulai berekspresi mengeras.
Bik Tiyas teringat akan sesuatu. Mengambil kantung palstik putih di container dapur. Plastik putih berisi obat juga vitamin Anggi serta foto USG yang pagi tadi ditemukan di lantai ketika sedang berbenah.
“Pak. Ini mau ditaruh di mana?” Bik Tiyas menyimpan palstik tersebut ke atas meja makan.
__ADS_1
Juna tertegun sejenak. Permasalahan genting kemarin sore, membuatnya terlupa akan hal penting ini jika Bik Tiyas tidak mengingatkan.
“Bawa ke kamar sambil mengantar sarapan. Apakah makan pagi untuk istriku sudah siap?” tanya Juna setelah selesai menandaskan isi cangkirnya yakni kopi Arabica tanpa gula favoritnya.
“Sebentar lagi siap. Lina sedang menyeduh susu dan akan segera diantar ke atas.”
“Pastikan Anggi makan dengan baik dan berikan kantung obat itu padanya. Pastikan juga istriku meminum obat dan vitaminnya setelah sarapan nanti,” titah Juna mengingatkan.
Juna naik lagi ke lantai dua. Ingin melihat kondisi Anggi sebentar sebelum berangkat ke kantor. Saat tadi dirinya turun ke bawah untuk sarapan, Anggi masih terbaring lemah dalam gulungan selimut.
Si pria tampan yang sudah segar dan rapi dalam balutan kemeja biru laut dipadu celana panjang warna navy itu celingukan begitu masuk ke kamar. Selimut tebal di sana sudah tersibak, sebagian menjuntai ke lantai. Penghuni ranjang besar nan mewah itu tidak ada di atasnya. Kaki panjangnya dengan cepat memutari tempat tidur untuk melihat ke sisi lainnya khawatir Anggi terjatuh, tetapi ternyata istrinya itu tidak tergeletak di lantai.
Juna mengetuk pintu kamar mandi. Tidak serta merta merangsek. Setelah kejadian kemarin, semalaman dia berpikir. Mulai timbul niat untuk belajar menghargai istrinya itu, dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu setelah mengetahui Anggi sedang mengandung anaknya. Walaupun baru niat saja dan belum terikrar dari lisan, setidaknya Juna mulai memiliki secercah keinginan untuk mengikis gunungan beku masa lalu yang menyelubungi kalbu supaya mencair perlahan.
“Anggi, kamu di dalam?” Juna kembali mengetuk, tetapi sahutan yang dinanti masih belum terdengar.
__ADS_1
Membuang napas berat, Juna tertatih membangun sisi pemakluman dalam dirinya meski sulit. Terbiasa otoriter terhadap Anggi, membuatnya harus mengupayakan diri untuk melunakkan sisi egonya sendiri.
Lama menunggu masih tidak ada respons. Juna bahkan kini menempelkan telinga di daun pintu mencoba mencuri dengar apa yang sedang berlangsung di dalam sana. Tak ada suara apa pun, misalnya gemercik air maupun suara keran yang dibuka. Hanya sunyi senyap yang tertangkap telinga.
“Anggi. Apa kamu sedang mandi?” Juna mengetuk lagi sambil bertanya untuk yang ketiga kalinya dan masih saja tidak ada sahutan.
Fondasi kesabaran yang baru saja dipasang dan masih basah itu, kembali terkikis lantaran terus menerus tak mendapat respons. Mengabaikan pemakluman yang baru ditumbuhkan, Juna mendorong pintu kamar mandi dan menerobos masuk.
Alangkah terkejutnya dia. Di dalam sana Anggi terkulai lemas di dekat kloset dengan wajah nyaris tersungkur. Kendati lemah tetapi Anggi masih sadarkan diri.
“Anggita!” teriak Juna panik. Digendongnya Anggi dengan segera. Membawanya ke ranjang dan segera menghubungi Dokter Wulan secepat mungkin.
Efek tekanan pikiran serta hamil muda, ditambah hari kemarin melewatkan makan malam, membuat lambung Anggi bergolak tak tertahankan saat terbangun beberapa saat yang lalu.
Anggi menyeret kakinya ke kamar mandi lantaran tak kuasa berlari sembari menahan dorongan menyiksa yang mendesak pangkal kerongkongan. Begitu mencapai kloset, ia memuntahkan semua siksaan yang mendera dan terkulai lemas setelahnya.
__ADS_1
“Wulan, datang ke rumahku sekarang juga!” perintahnya tak memberi celah bantahan.
TBC