
Spesial Bab Dua Belas
Stasiun besar Pasar Senen menjadi tujuan seorang suami membawa-bawa istrinya yang sedang hamil di tengah malam. Banyak mata menyimpulkan salah paham, mengira si suami yang tampak resah tak tenang tengah khawatir lantaran istrinya hendak melahirkan. Padahal, kenyataanya sama sekali bukan seperti yang terlihat.
“Lho, Pak. Kalau istrinya kontraksi seharusnya segera dibawa ke rumah sakit terdekat, bukan malah dibawa ke stasiun dan menanyakan perihal jadwal kereta beroperasi. Bagaimana kalau brojol di sini?” Salah satu petugas kereta api yang ditanyai Juna di stasiun menegurnya sewot. Pandangannya tertuju pada perut si wanita yang saat datang tadi digandeng Juna.
“Istri saya belum waktunya melahirkan dan saya ke sini untuk tujuan lain, Pak, bukan hendak menanyakan jadwal keberangkatan maupun kedatangan kereta,” jelas Juna cepat. Tak ingin disalahpahami lebih jauh dan dianggap suami tak bertanggung jawab membawa-bawa istrinya berkeliaran di tengah malam.
__ADS_1
“Tujuan lain? Untuk apa?” tukas si pria usia lima puluhan berseragam biru itu, nada bicaranya sengit sekarang. “Semua orang ke stasiun itu pasti keperluannya terkait transportasi kereta api serta jadwalnya. Maaf, di sini tidak ada lowongan pekerjaan. Jangan -jangan kamu memang sengaja membawa-bawa wanita hamil supaya dikasihani dan diberi pekerjaan tanpa mau melalui prosedur ribet pihak perusahaan kereta api!” tuduhnya, memindai waspada sosok Arjuna dari ujung kepala hingga kaki.
Juna semula membeliak tersulut marah. Hanya saja dia tertarik menilik diri sendiri, baru sadar sepenuhnya dan wajar saja dirinya disalahpahami. Saat ini tampilannya hanya memakai piyama dilapisi jaket beralaskan sandal sederhana. Kendati apapun yang dikenakan, tidak memudarkan ketampanan serta karisma seorang Arjuna Syailendra. Hanya saja dalam tampilan sederhana banyak yang tidak mengenalinya, apalagi ini tengah malam.
Juna bisa saja bersikap arogan menunjukkan kekuasaannya, tetapi saat ini sama sekali bukan momen tepat menjadi otoriter mengingat di sini merupakan fasilitas umum. Juga yang punya kepentingan mendesak adalah dirinya, bukan si stasiun.
Sementara itu tak jauh darinya, si wanita hamil pembuat ulah malah asyik senyum-senyum sendiri. Mengedarkan pandangan antusias ke sekitar sembari mengelus-elus perutnya. Elusannya direspons tendangan demi tendangan dari si janin di dalam sana, seakan-akan sedang bersorak-sorai merayakan kegembiraan karena keinginan super merepotkannya akan segera terpenuhi.
__ADS_1
“Lalu, apa maksud dan tujuan Anda datang ke sini?” imbuh si petugas, menuntut penjelasan.
“Begini, Pak. Bapak lihat kan, istri saya itu sedang hamil?” Juna mengrahkan lima jarinya pada Anggi yang sibuk melihat-lihat area stasiun di malam hari, tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Iya, saya juga bisa melihat kalau istri Anda sedang hamil. Mata tua saya belum rabun separah itu sampai tidak bisa menyimpulkan dengan tepat walaupun saat menmbaca huruf yang ukurannya kecil-kecil saya harus pakai kacamata baca!” balas si petugas, mulai kesal dilontarkan pertanyaan retorika yang jawabannya terpampang nyata.
“Nah. Kehamilan itu adalah sumber dari kedatangan saya kemari. Saya ingin membeli pop mie seduh yang dijual di kereta dan menyantapnya di dalam kereta, bukan mau bepergian. Adakah kereta yang bisa diusahakan beropreasi tanpa harus melaju lengkap dengan pelyanan pop mie seduh di dalamnya? Istri saya yang sedang hamil ini mendadak bangun di tengah malam dan merajuk sangat ingin makan pop mie dan kukuh harus yang dijual di kereta api. Saya akan membayar berapapun, asalkan keinginan istri saya terpenuhi. Bukan bermaksud menyepelekan maupun menganggap enteng saat berbicara nominal. Tapi, hal ini saya lakukan sebagai bentuk tanggung jawab suami kepada istrinya yang sedang mengandung. Saya sangat berharap bantuannya, Pak.”
__ADS_1
Juna menyodorkan salah satu kartu debit yang dibawanya. Wajah si petugas yang semula menekuk galak terurai kekehan seketika. Bukan melunak karena jenis kartu yang disodorkan, melainkan anggukan paham akan maksud Juna dan gurat judes di wajahnya berganti senyum.
“Bawaan bayi toh rupanya. Anak sulung saya juga lagi hamil dan keinginannya kadang suka aneh-aneh. Sebentar lagi saya akan jadi kakek,” ujarnya semringah, malah berujung curhat. “Tunggu sebentar. Sepuluh menit lagi akan tiba kereta dari Semarang. Setelah penumpang turun seluruhnya, saya akan mengatur supaya istri Anda bisa merealisasikan keinginannya.”