
Istri Arjuna Spesial Bab Satu
Hari ini kandungan Anggi genap berusia empat bulan. Tidak ada fase mual muntah seperti di kehamilan pertamanya semenjak dirinya dinyatakan positif hamil. Kali ini ia mengandung adem ayem, segar bugar, tanpa ada gangguan menyiksa, mungkin efek dari suasana hatinya yang selalu baik dan bahagia, berbeda dengan situasinya dulu yang dipenuhi tekanan batin dari berbagai penjuru.
Di jam sembilan pagi ini, Anggi yang baru saja turun dari lantai dua begitu cantik bersinar dalam balutan gaun hamil di bawah lutut berwarna hijau tua, sedang serius berkutat di dapur. Ia sibuk menyapa cabai merah, gula jawa beserta teman-temannya, tidak lupa sekeranjang buah-buahan yang rasanya jauh dari kata manis bertengger di meja kabinet dapur menunggu untuk dikupas.
“Bu, biar saya saja yang buatkan bumbu asinannya, nanti baju ibu kotor lagi, sudah cantik dan wangi.” Bik Tiyas menyela kegiatan Anggi yang sedari tadi serius tidak ingin diganggu.
“Jangan, Bi. Lidah Mas Juna sangat peka. Mudah sekali menebak makanan yang kubuat dengan tanganku sendiri atau bukan walaupun tampilannya sama. Kalau mau bantu, tolong kupasin buah-buahannya saja, ya. Kalau untuk bumbu asinannya biar aku saja yang buatkan.”
__ADS_1
Ya, Anggi sedang membuatkan asinan buah-buahan untuk suaminya makan siang nanti, hendak diantarkan ke kantor Royal Textile sebelum tengah hari. Memang di kehamilan keduanya ini Anggi aman sentosa dari bawaan mengidam menyiksa, tetapi justru Juna lah yang terserang sindrom itu.
Setiap pagi, Juna lah yang terkena morning sickness, mual muntah tak terelakkan. Cuma akan mereda saat Anggi dekat-dekat dengannya. Hanya saja urusannya semakin ribet ketika waktunya bekerja, saat berpergian ke mana-mana, Juna harus membawa bra milik Anggi di dalam tas sebagai penawar. Saat mualnya tak terkendali, hanya aroma kain pennyangga berenda milik istri tercintanya itulah yang mampu meredakannya. Meredam lambungnya yang bergejolak saat dihirup dalam-dalam.
Memang terkesan mesum, karena lain daripada yang lain, tetapi mau bagaimana lagi. Lumrahnya orang mual mencari aroma Eucalyptus atau wewangian aromaterapi, tetapi Juna malah harus mengendus benda pelindung bukit kembar favoritnya.
Tak jarang di tengah malam Juna terbangun, bermanja pada Anggi dan bersedu sedan cengeng seperti bayi. Otaknya berseru untuk tidak berbuat demikian, bertentangan dengan sisi arogannya. Akan tetapi, perasaan impulsifnya berkhianat, sering mendadak sensitif bak hello kitty. Mengatakan maaf berulang kali atas kesalahannya dulu yang pernah bersikap tak seharusnya ketika Anggi mengandung Brama, berucap menyesal sembari bergelung di pelukan Anggi erat.
“Halo istriku. Akh, melihat wajah cantikmu mualku ikut berkurang. Aku kangen,” ujar Juna yang terlihat bersandar di kursi kebesarannya, padahal mereka baru berjauhan beberapa jam saja.
__ADS_1
“Hei, kasihannya suamiku. Tapi Mas jadi begitu juga akibat ulah bisa ular buasmu yang menyembur tak terkendali. Haruskah setelah anak kedua kita lahir, Mas mengkarantinanya supaya dia jinak? Atau, haruskah si buas libur total?” goda Anggi, menggigit bibirnya sensual.
“No! tidak ada yang namanya karantina apalagi libur. Memangnya si buas itu virus menular berbahaya! Aku sama sekali tidak keberatan, kalau harus mual-mual begini setiap kali kamu hamil, Sayang.”
Juna merajuk di seberang sana, membuat Anggi mengulum tawa.
“Benarkah? Tapi itu kayaknya mual lagi? Enggak enak kan?” goda Anggi.
Dan benar saja, Juna menaruh ponselnya yang masih tersambung setengah melemparnya, dan langsung tunggang langgang sembari membekap mulut yang sudah pasti tujuannya adalah kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung.