
Istri Arjuna bab 44a
Gorden yang menjadi tirai penutup kaca besar tembus pandang di kamar hotelnya disibakkan lebar-lebar. Lampu utama kamar sengaja dimatikan, hanya menyisakan penerangan remang-remang dari lampu tidur di sudut ruangan.
Seluruh tubuh Juna luar biasa lelah. Ingin berbaring dan memejamkan mata guna mengistirahatkan daksa supaya esok pagi segar kembali, mengingat jadwal selepas sarapan besok cukup padat sampai delapan hari ke depan. Delapan hari diagendakan sebagai kunjungan resmi, sedangkan sisanya dijadwalkan untuk waktu bersantai di kota romantis Paris dengan menjadikan Perancis sebagai negara paling akhir dalam jadwal susunan kunjungan kali ini.
Namun, semua itu hanya angan-angan saja, rasa kantuk seolah memusuhinya, sulit sekali diraih. Satu jam berlalu dihabiskannya hanya dengan berguling-guling di atas kasur hingga seprainya kusut masai dengan bantal dan guling terpental ke lantai. Guling favoritnya yang hangat dan harum jauh dari jangkauan, membuatnya kesulitan tertidur.
Bola mata tajamnya bergulir mengamati kelap-kelip lampu kota yang terhampar serupa permadani. Mengamati lekat dan dalam. Memusatkan fokus pada kaca tembus pandang raksasa yang menyajikan pemandangan malam Amsterdam di bawah sana, berharap mengurangi gundah di dada.
Semula kesyahduan melingkupi, sedikit mengobati rasa menyiksa yang menggerogoti hatinya. Akan tetapi, lama-kelamaan suasana syahdu memudar digantikan dengan bayangan Anggi membias menggoda, begitu cantik dalam balutan lingerie hitam tanpa bra seperti ketika kejadian malam gagal membelai sebab orang tuanya datang tiba-tiba. Senyuman manis tersungging di bibir merah Anggi yang ranum, membuatnya kian tersiksa.
“Arghhh, sial!” Juna mengacak rambutnya frustrasi. Menarik gorden dalam satu tarikan kencang lalu membanting tubuhnya kembali mendarat di ranjang.
Juna menyambar ponselnya yang tergeletak di kasur. Mengotak-atik satu nomor yang ingin dihubungi meskipun bimbang menggayuti, disusul memeriksa penunjuk waktu di ponsel yang menunjukkan pukul 10.30 malam waktu setempat.
Juna mendesah resah, jika menelepon hanya untuk sekadar berbasa-basi rasanya amat tidak cocok mengingat di Jakarta sekarang ini sekitar jam empat pagi, pasti Anggi masih tertidur pulas.
__ADS_1
“Hhh, kenapa aku jadi resah begini?” keluhnya lelah, membuang napas kasar dan berusaha menepis berbagai macam luapan rasa menyebalkan yang merecoki jiwanya.
Setelah bergelut dengan kecamuk menjengkelkan hingga larut, akhirnya alam bermurah hati menghadiahkan kantuk padanya hingga si pria resah itu mendengkur. Pertanda nyenyak telah sepenuhnya memeluk erat. Kendati Juna berbaring serampangan tak beraturan di atas kasur yang sudah kusut seprainya itu.
*****
Pagi-pagi Anggi turun ke lantai satu, menuju ruang makan dengan langkah lesu. Matanya berkantung menghitam akibat tak bisa tidur semalaman.
Awalnya Anggi merasa senang bisa terbebas dari cengkeraman Juna selama suaminya itu pergi ke Eropa. Ingin bernapas bebas tanpa ada embel-embel Juna yang mencerocos padanya. Akhir-akhir ini Juna semakin overprotective dan semakin mengikatnya kuat dalam peraturan-peraturan mencekik setelah dirinya dinyatakan hamil.
Namun, perkiraannya meleset jauh. Tanpa adanya Juna di dekatnya, hanya resah gelisah yang mengisi kegelapan. Hasrat untuk tidur seakan punah, kendati sudah memaksakan mata untuk memejam.
Aroma maskulin Juna tak tercium di udara, membuatnya merasa gundah tak menentu. Padahal kesempatan untuk bisa terentang jarak jauh dengan Juna dalam waktu yang cukup panjang adalah hal yang paling dinanti-nanti sejak lama.
Bukankah si pria yang telah menanamkan benih di rahimnya itu telah menggoreskan luka di hatinya? Seharusnya ia membenci dan menyumpah tanpa ampun. Akan tetapi, kenapa di kala berjauhan yang sedari dulu diimpikannya, otaknya malah terus memikirkan Juna, membuatnya jengkel sendiri. Entahlah, ia mulai tak mengerti akan dirinya.
Anggi menarik kursi. Di meja makan belum ada yang lain. Sepertinya ibu mertua beserta kakak iparnya masih berada di kamar tamu.
__ADS_1
“Bu, matanya kenapa?” Bik Tiyas yang muncul membawa senampan perkedel jagung ke meja tampak terkejut melihat penampakan sang majikan.
“Ah, ini, Bi. Mungkin efek hamil muda, aku susah tidur tadi malam,” jawab Anggi.
“Begitu rupanya. Efek hamil atau rindu, Bu?” timpal Bik Tiyas tak tahan untuk menggoda.
Dia tidak muda lagi dan sudah banyak makan asam garam kehidupan. Bik Tiyas tahu situasi pasangan yang menjadi majikannya ini tidak lah seperti rumah tangga pada umumnya. Meski begitu ia kini bersyukur, karena semakin hari terlihat perkembangan menuju ke arah yang lebih baik lagi.
“Dih, Bik Tiyas apaan sih!” Anggi meraba pipinya sendiri. Rasa hangat menjalar begitu saja di wajahnya disertai degup jantung menggila. Pikirannya terus menyangkal kerena merasa tak mungkin ia merindukan si pria garang otoriter yang membangun jeruji tak kasat mata untuknya. Walaupun sekarang memang berangsur melembut setelah hadirnya si buah hati dalam kandungannya.
“Sebaiknya buatkan aku jus buah tropis lengkap, sekarang juga!” titahnya dengan nada meninggi yang baru kali ini terlontar dari mulutnya. Biasanya Anggi meminta dengan ramah dan sopan, bukan memerintah. Hanya saja karena jengkel akibat Bik Tiyas malah senyam senyum sendiri ke arahnya, spontanitas mengambil alih nalar.
“Baik, Bu,” sahutnya seraya mengangguk sopan, berjalan ke dapur sambil menahan senyum dikulum.
Anggi merogoh saku dan mengambil ponselnya. Meletakkannya di meja dan sesekali mengambilnya lagi yang dilakukan berulang. Tengah menimbang untuk menghubungi Juna lebih dulu atau menunggu dihubungi. Membuang napas kesal akhirnya ia mendial nomor Juna daripada terus-terusan digerogoti ras tak tenang. Jika Juna bertanya ia akan berdalih bahwa ibu mertuanya lah yang memintanya menghubungi.
Panggilan tersambung dan tak lama berselang terdengar suara jantan menyahuti, membuat air muka Anggi mencair seketika.
__ADS_1
“Halo?” jawab Juna serak dari seberang sana.
Bersambung.