
Halo para pembacaku sekalian. Jangan lupa dukungan like, hadiah dan vote kuponnya juga ya buat Anggita-Arjuna kesayangan kita. Terima kasih kepada semua pembacaku tersayang yang sudah dan selalu mengapresiasi serta mendukung dengan ikhlas, tanpa embel-embel dan tuntutan. Semoga cinta kalian untuk Anggita-Arjuna dibalas dengan kebaikan berlipat, selalu sehat dan bahagia di mana pun berada. Jangan lupa bersyukur. Happy Monday and happy reading π₯°.
Follow juga akun instagramku @Senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
ππππ
Istri Arjuna Bab 67b
Keesokan harinya, Anggi memutuskan untuk membawa ibunya pulang saja. Suasana rumah tinggal sudah pasti lebih nyaman dari rumah sakit. Mau sebagus dan semahal apa pun fasilitas kamar rumah sakit, tetaplah tempat tinggal sendiri pemenangnya. Seperti peribahasa, rumahku laksana surgaku.
Pantauan medis tetap disertakan sesuai permintaan Juna. Dia tak ingin memutus harapan, masih berupaya kendati prediksi kesembuhan ibu mertuanya amatlah tipis, setipis kulit ari.
Semula, Anggi hendak membawa ibunya pulang ke kediamannya dengan Juna. Namun, Ningrum menolak, meminta ingin pulang ke tempat tinggalnya saja, rumah sederhana miliknya, rumah yang dulu dibangun penuh perjuangan bersama sang suami.
Anggi dan Juna ikut menginap di sana, sudah dua hari. Hari ini Juna juga berangkat ke perusahaan dari kediaman mertuanya. Pandu, Bik Tiyas dan Pak Oman lah yang bolak-balik mengantar keperluan. Baik itu untuk Ningrum juga tuan dan nyonyanya.
"Bik, saya akan ke kantor hari ini. Bik Tiyas dan Pak Oman jangan pergi kemana pun. Tetap di sini, jaga istriku dan ibu mertuaku. Segera hubungi kalau ada sesuatu. Jangan ragu atau takut menganggu pekerjaanku." Juna berpesan pada Bik Tiyas yang sedang membenahi beberapa bahan makanan ke dalam lemari pendingin di dapur.
Bik Tiyas menganggukkan kepala. "Baik, Pak."
__ADS_1
"Mas? Mas Juna." Anggi memanggil dari ruang tamu.
Juna muncul dari arah dapur. Menghampiri istrinya yang sedang mencarinya dengan dasi warna marun di tangan. Anggi mendekat dan langsung berjinjit melingkarkan dasi ke leher Juna, yang disambut pria itu dengan mendaratkan kedua tangannya di sisi pinggul istrinya.
"Bekerjalah dengan tenang. Waktu Mas untuk perusahaan banyak tersita karena urusan keluargaku, belum lagi tersita dengan permasalahan di Bali," ucap Anggi yang sedang memastikan dasi bermotif garis-garis itu terpasang rapi.
Wajah Anggi hari ini terlihat ronanya meski tipis. Tidak sepucat kemarin. Juna menunduk menatap lekat-lekat istrinya yang serius mengikat dasi. Begitu teliti, penuh kasih sayang.
"Andai saja ada aplikasi membelah diri, aku adalah yang orang pertama yang akan mengunduh." Juna berkelakar disusul kekehan pelan.
Tawa kecilnya menular pada Anggi yang beberapa hari belakangan selalu dihiasi raut sendu.
"Jangan ikut memikirkan tentang perusahaan. Biarlah itu menjadi urusanku. Saat ini fokuslah pada ibu, dirimu sendiri juga si kecil di dalam sini." Juna membungkuk dan menciumi perut Anggi beberapa kali.
"Aku akan berusaha untuk fokus. Walaupun sejujurnya gak mudah. Pikiranku bercabang-cabang," jawab Anggi jujur. Berbicara pada Juna tentang kecamuk benaknya tanpa ada yang ditutupi lagi, membuka seluruh beban dirinya terpampang nyata di hadapan satu orang untuk kali pertama, suaminya.
Juna mencubit gemas ujung hidung bangir Anggi dan merangkul istrinya itu merapat padanya.
"Masalah Mbak Ayu kita kesampingkan dulu untuk saat ini. Ini perintah, bukan permintaan. Aku tahu betul keresahanmu dan aku sedang berusaha memverifikasi keterangan kakakmu. Apakah benar dia tidak tahu siapa ayah si bayi, atau hanya bualan saja. Semoga ada titik terang. Aku juga ingin ibu merasa tenang, tak ingin di waktu yang masih tersisa diisi kegundahan."
__ADS_1
Menelengkan kepala, Anggi menarik naik kedua birai bibirnya. "Makasih, Papa. Entah bagaimana caranya aku membalas semua upaya yang selalu Mas usahakan untuk keluargaku," desah Anggi penuh syukur.
Juna mengecup mesra kening, kedua pipi, hidung, dan bibir Anggi. Disusul merapikan rambut istrinya itu mengaitkannya ke belakang telinga.
"Kamu memang harus membalasnya. Arjuna Syailendra benci pada orang-orang penyuka gratisan. Hukum take and give tetap berlaku," tukasnya dengan ujung mata meruncing.
"Cih, dasar pebisnis ulung!" imbuh Anggi sebal sekaligus gemas. "Jadi, saya harus membalas dengan cara seperti apa, Pak Presdir?"
"Caranya begini." Juna mencubit lembut pipi kanan dan kiri Anggi lalu menariknya sedikit ke atas. "Aku memerintahkanmu untuk lebih banyak tersenyum sebagai balasan, hanya itu yang kuminta," sahutnya sembari mengulum senyuman.
Menelusup memeluk Juna itulah yang dilakukan Anggi. "Aku sayang kamu, aku cinta kamu, Papa," ucapnya tulus yang dibalas Juna dengan hujan kecupan di puncak kepalanya.
Kegiatan romantis mereka terhenti oleh suara Pandu di ambang pintu. "Pak, kita harus segera berangkat. Beberapa orang dari pemerintahan juga perusahaan yang bekerjasama meminta bertemu kira-kira satu jam lagi. Semoga kita tidak terjebak macet."
"Ck, kau mengganggu saja!" decak Juna sebal pada si asisten yang sudah kebal dengan makiannya itu.
"Sudah, Mas lebih baik cepat berangkat." Anggi menimpali.
"Aku pergi." Sekali lagi Juna mengecup mesra bibir Anggi sebelum berangkat. Tak peduli pada penderitaan si jomblo ngenes di ambang pintu yang mupeng disuguhi adegan intim.
__ADS_1
Bersambung.