
Spesial Bab Enam
Kelimpungan.
Ya, Juna dibuat kelimpungan. Sepanjang mengarungi pernikahannya dengan Anggi, baru kali ini istrinya itu merajuk parah seperti sekarang. Juna juga tidak tahu di mana letak kesalahannya, apa jenisnya, sebab perubahan mood wanita hamilnya berubah drastis mendadak di level akut.
Juna hendak menggedor pintu yang dikunci dari dalam itu. Namun, dia mengurungkannya karena tidak ingin membuat Anggi semakin marah padanya, Juna khawatir mood istrinya bertambah jelek dan berefek buruk pada si jabang bayi juga yang mengandungnya.
Mondar-mandir di depan pintu, Juna berpikir keras. Memutar ingatan, tetapi tetap saja tidak menemukan biang kerok yang membuatnya disebut jahat oleh sang istri.
"Hhh, sebenarnya apa yang membuat Anggi marah?" kesalnya, sembari mengacak rambutnya.
Walaupun agak sulit, Juna menggenggam egonya kuat-kuat. Berseru pada dirinya sendiri untuk memberikan Anggi waktu sampai emosinya mereda.
__ADS_1
"Jangan lama-lama marahnya, Sayang. Bagaimana aku tidur nanti kalau kamu masih marah padaku? Bisa-bisa aku mual-mual terus dan enggak bisa tidur," gumamnya frustrasi di depan pintu kamar, sebelum kembali ke kamar utama untuk mengguyur diri guna mendinginkan kepala.
Pukul delapan malam, Anggi masih mengurung diri. Tak kunjung keluar dari kamar untuk anak keduanya dengan Juna. Bahkan melewatkan waktu makan malam. Membuat Juna semakin khawatir, tetapi juga bingung sebab masih mau menemukan titik terang tentang penyebab kemarahan Anggi. Tidak mau keluar saat diberitahu makan malam sudah siap, juga menolak diantar makanan ke kamar, berseru kesal dari dalam dengan seruan klasik wanita merajuk yang sebetulnya meminta dibujuk sedemikian rupa yang berbunyi.
Tinggalkan aku sendiri!
Juna baru selesai menemani Brama menggambar bersama. Mulai merengek karena mengantuk.
"Pah, mau bobo, nantuk. Mau puk puk," rengek Brama yang rebah di kasur karakter Tayo sembari menepuk-nepuk p*ntatnya sendiri setelah menghabiskan sebotol susu. "Mama ana?" tanyanya yang baru menanyakan perihal Anggi, terlalu asyik menggambar.
Sementara mengeloni sang anak, Juna baru teringat sesuatu, yaitu tentang rekaman CCTV ruangannya di gedung Royal Textile yang langsung tersambung ke ponsel canggihnya. Berharap menemukan penyebab kemurkaan sang istri. Sedari tadi terlupa akibat kelabakan.
Membuka ponselnya, Juna memutar di bagian rentang waktu selama rapat pribadinya berlangsung. Memperhatikan dengan saksama saat dan dia menegakkan punggung begitu melihat bagian di mana Anggi membuka laci meja kebesarannya. Barulah sekarang Juna mengerti apa sabab musabab merajuknya sang istri. Pasti cemburu juga mungkin karena tertoreh kembali kenangan buruk di awal-awal pernikahan mereka.
__ADS_1
Anggi celingukan keluar dari kamar, waspada, tidak ingin melihat wajah ganteng sang suami yang menurutnya sangat menyebalkan kali ini. Ia masih marah sebetulnya dan ingin berdiam di kamar, hanya saja merasa lapar. Juga kasihan pada si jabang bayi yang membutuhkan nutrisi tumbuh kembang.
Berjingkat, mengendap-endap turun, Anggi menuju ruang makan dan Bik Tiyas yang sedang berbenah di sana tergopoh menghampiri.
"Ibu mau makan apa? Saya siapkan. Tadi bapak minta saya buatkan semua menu kesukaan ibu. Barangkali mau dilihat dan dihangatkan," tawar Bik Tiyas antusias, tetap sopan.
Anggi mengamati isi meja dan menggeleng. "Maaf, Bi. Aku lapar, tapi lagi enggak selera dengan semua menu ini. Pengen makan creamy pasta buatan Mas Juna," ujarnya bingung sembari mengelusi perutnya.
Ia ingin meminta pada Juna, tetapi gengsi, masih marah, bertepatan dengan suara maskulin yang menggema lembut di belakang punggungnya, nadanya riang.
"Silakan duduk, Nyonya Syailendra, pasta akan siap sebentar lagi."
Bersambung.
__ADS_1
Selamat Idul Adha semuanya 🤗.