Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 65b


__ADS_3

Istri Arjuna bab 65b


Mereka kembali setelah sekitar dua jam berjalan-jalan. Ningrum tampak bahagia. Tergambar dari raut wajahnya meski gurat bahagia itu bercampur beban derita.


Di toko kue tadi, Ningrum memberikan kue yang dibelinya kepada Anggi dengan sukacita. Bahkan menyuapi Anggi potongan kue. Suapan penuh sayang seorang ibu untuk anaknya yang tak pernah lekang oleh waktu.


Ningrum berganti pakaian sebelum merebahkan diri lagi di ranjang perawatan. Selama perawat dan dokter bekerja guna memeriksa dan memasangkan kembali beberapa alat ke tubuhnya hingga selesai, Ningrum tak melepaskan genggamannya di tangan putri bungsunya itu. Meminta Anggi untuk tidak beranjak dan dokter hanya menanggapi dengan Anggukkan penuh pemakluman disertai isyarat dari sorot matanya kepada Anggi. Tentu saja sebagai pesan tersirat supaya Anggi sebisa mungkin tetap berada di sisi ibunya.


"Ibu senang sekali hari ini," ucapnya setelah dokter dan perawat undur diri.


"Maka dari itu, Ibu harus berjuang untuk sehat kembali, supaya kita bisa mengulangi jalan-jalan menyenangkan seperti tadi," sahut Anggi dengan senyuman di wajah. Berdiri di dekat ranjang setelah menutupkan selimut sebatas pinggang ibunya.


Ningrum menganggukkan kepala. "Oh iya, bagaimana si kecil di dalam sana? Dia pasti kelelahan. Maafkan Nenek ya, cucuku," ucapnya sembari menggapaikan tangan ingin menyentuh perut Anggi.

__ADS_1


Anggi langsung paham. Segera meraih tangan ibunya untuk diletakkan di perutnya yang menyembul padat.


"Dia baik-baik saja. Dia anak yang kuat," jawabnya.


Ningrum memejam sejenak. Perih merambat merasuki sanubari. Dia kembali teringat pada Ayu yang juga tengah hamil, sama-sama mengandung cucunya.


Hanya saja situasinya berbeda, kehamilan Anggi membawa sukacita, berbanding terbalik dengan kehamilan Ayu yang baginya serupa petaka. Apa jadinya anak sulungnya setelah ini. Hamil tanpa tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Anggi," panggil Ningrum lirih.


"Ibu ingin minta maaf padamu sedalam-dalamnya. Selalu merepotkanmu terus-menerus, Nak." Ningrum berkaca-kaca, meraba pipi Anggi penuh sayang.


"Jangan bicara begitu, Bu. Apa yang kulakukan tak sebanding dengan kasih sayang Ibu padaku hingga aku dewasa. Tak secuil pun bisa menandingi," jawab Anggi. Tenggorokannya mulai tercekat.

__ADS_1


"Ibu juga ingin minta maaf atas nama kakakmu. Selama ini dia pasti banyak merecokimu. Ibu merasa gagal mendidiknya, Ibu merasa gagal, Anggita." Ningrum tak mampu menyembunyikan lagi kesedihannya. Mengalirlah kristal bening dari sudut matanya.


"Kenapa Ibu berkata begitu. Ibu selalu mendidik kami dengan baik. Tak pernah sekali pun mengajarkan hal yang salah. Ibu sama sekali tidak gagal. Mbak Ayu sudah dewasa dan kalau dia berbuat keliru semuanya adalah tanggung jawab dia sendiri, bukan salahi Ibu. Lebih baik Ibu fokus pada kondisi kesehatan Ibu, jangan berpikir tentang hal lain."


Anggi membesarkan harapan kesehatan ibunya dalam dada agar tidak kian mengecil. Menyusut sudut mata ibunya yang basah sembari ikut terisak meski sekuat hati menahan diri untuk tidak menangis.


Perihal Ayu yang sering berbuat ulah bukan hal baru lagi. Ia dan ibunya sudah tahu seperti apa tabiat Ayu. Bahkan Anggi banyak menutupi kebobrokan sang kakak dari ibunya. Tak ingin Ningrum terlalu banyak pikiran terutama setelah ibunya jatuh sakit.


"Tapi, kali ini perbuatan Ayu benar-benar membuat Ibu merasa gagal. Sangat-sangat gagal. Apa yang harus Ibu lakukan, Nak?" Air mata Ningrum kian deras saja.


"Sebenarnya ada apa dengan Mbak Ayu, Bu?" Anggi semakin khawatir melihat ibunya tersedu-sedu.


"Anggita. Kakakmu ... kakakmu tengah hamil dan tidak tahu siapa ayahnya."

__ADS_1


Bersambung.


Maaf agak pendek, Author sedang kurang sehat. Happy reading 🥰.


__ADS_2