
Brama berlarian ke area depan rumah begitu suara mobil sedan yang sangat dikenalinya terdengar telinga. Meninggalkan pengasuh yang tengah menyuapinya camilan sehat yaitu buah naga.
"Bos kecil, pelan-pelan lari-lariannya," cicit si pengasuh membujuk dan dengan sigap segera mengekori.
"Endak mau. Endak!" tolaknya yang masih cadel tanpa menghentikan ayunan kencang kaki mungilnya seraya menggelengkan kepala.
"Hati-hati, awas jatuh." Si pengasuh kembali berkata, sebab khawatir takut Brama tersandung.
"Dangan belicik!" serunya lucu menggemaskan.
Bocah tiga tahun itu berjingkrak-jingkrak di teras. Mengangkat kedua lengan, Brama melompat-lompat kegirangan begitu melihat papa dan mamanya turun dari mobil.
"Yeay, Mama cama Papa puyang!" ujarnya senang.
"Eh, anak ganteng Mama," sapa Anggi gemas, melihat Brama yang belepotan dengan warna merah buah naga di sekitar mulut.
__ADS_1
Anggi dan Juna bergegas ke teras, menyisakan jarak sekitar tiga meter dengan Brama. Mereka berdua berjongkok di dua sisi berlainan, membuat Brama menatap orang tuanya bergantian. Kebingungan karena Mama dan papanya tidak berjongkok berdekatan.
"Ayo sini, peluk Mama," Anggi melambaikan tangan. Memberi isyarat supaya Brama mendekat.
"Lebih baik sama Papa, sini, nanti digendong di pundak," rayu Juna yang sengaja supaya Brama mendekat padanya.
"Nanti Mama gendong juga lho, pakai gendongan singa kesukaan Brama. Ayo sini." Anggi tak mau kalah dari Juna. Ikut melancarkan rayuan memakai iming-iming gendongan favorit anaknya.
"Mending sama Papa, nanti kita balap mobil-mobilan di halaman belakang pakai bom-bom car," ucap Juna sengaja supaya dia dipilih putra mereka guna membuat istrinya jengkel.
Brama tampak berpikir. Menelengkan kepala, bocah itu menatap mama dan papanya bergantian. Kakinya tampak ragu, kebingungan harus berlari ke mana. Setelah satu menit berlalu, Brama tertawa lebar dan kakinya mulai berayun. Awalnya melangkah pelan, sejurus kemudian berlari kencang menghambur ke pelukan sang Papa sembari memekik senang.
"Mau cama Papa. Ayo, kita naik mobil balap di beyakang," pintanya sudah tak sabar. Kedua lengan mungil Brama memeluk erat leher Juna begitu tubuhnya terangkat dalam gendongan sang papa.
Anggi mendesah frustasi karena setiap kali adegan serupa terjadi, Brama selalu lebih memilih Juna. Melipat kedua lengan, Anggi cemberut menekuk wajah cantiknya membuat Juna terbahak senang. Si balita tampan nan pintar malah ikut-ikutan tergelak, walaupun dia sebetulnya tak paham apa yang membuat papanya tertawa.
__ADS_1
"Cie, yang dipilih, seneng banget!" ujar Anggi sebal.
"Iya dong Mama." Juna yang masih tertawa menukas gembira. "Makanya, kalau nggak mau rebutan, kita harus rajin bikin Brama baru."
"Bikin Blama balu?" celoteh balita tiga tahun itu tak mengerti, memiringkan kepalanya pada Juna.
"Papa! Mulutmu." Anggi berujar geram, komat kamit dengan kaki mengentak lantai.
"Iya, bikin Brama baru. Biar nanti Brama juga ada temannya.Tapi Papa nggak bisa buat sendiri, harus dibantu Mama," jawab Juna yang dihadiahi pelototan galak dari istrinya. "Brama mau enggak ada temannya di rumah?"
"Mau ... mau cekalang bikinnya." Brama mengangguk-angguk lucu. "Tapi, Blama mau ikutan juga buatnya, mau lihat," cicitnya antusias sambil bertepuk tangan.
Juna mengerjap kebingungan harus menjawab apa yang dihadiahi delikan puas dari istrinya. Anggi memilih hendak masuk ke dalam rumah sambil melipat bibir dan berhenti sejenak untuk berbisik ke telinga suaminya.
"Rasakan, Papa! Senjata makan Tuan!"
__ADS_1