
Istri Arjuna 44b
“Halo,” sahut Juna serak dari seberang sana. Juna yang baru saja tertidur sekitar satu jam terperanjat bangun disebabkan bising bunyi telepon.
Anggi mengembuskan napas lega. Ia memang masih lah marah pada Juna. Namun, tak dipungkiri, rasa cemas menyerbu mengganggu saat pria itu belum juga memberi kabar berita ketika melakukan perjalanan ke negeri orang.
“Mas,” jawab Anggi pelan.
“Anggita?”
Juna baru menyadari yang menghubunginya adalah si penyebab sulitnya dia tertidur setelah suara Anggi memenuhi ruang dengarnya. Saat menerima telepon tadi, Juna yang masih dilingkupi kantuk berat tidak sempat melihat nama yang muncul di layar.
“Iya i-ini aku.” Anggi tergagap, lalu menggigit bibirnya sendiri. Malah kebingungan entah harus mengatakan apa.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada anakku sampai kamu menelepon malam-malam? Atau kamu muntah-muntah hebat lagi? Aku akan menyuruh Wulan datang,” ujarnya terdengar panik.
“Hih ngelantur, ini sudah pagi, matahari sudah bersinar. Malam apanya!” sungut Anggi keheranan.
Anggi melihat keluar ke arah taman melalui jendela memastikan bahwasanya ini memang benar sudah pagi, juga mencubit dirinya sendiri demi meyakini bukan sedang berada di alam mimpi.
“Jelas-jelas masih gelap, pagi dari mananya?” Juna bersikukuh.
__ADS_1
“Ya ampun. Ini betulan sudah pagi, Mas! Matahari sudah benderang menyinari tanah!” sambar Anggi tak mau kalah.
Baik Anggi maupun Juna, sejenak terlupa bahwa mereka sedang berada di belahan bumi berbeda. Keduanya terus beradu argumen yang memang sama-sama benar, sampai akhirnya Juna kembali ingat kalau waktu di tempatnya sekarang berselisih enam jam lebih lambat.
“Kamu tahu kan, aku ada di mana sekarang?” tanya Juna kemudian.
“Aku ini sedang hamil, bukan pikun! Tentu saja aku masih ingat! Sudah pasti Mas sedang berada di Belanda seperti yang Mas bilang padaku sebelum berangkat. Tidak mungkin kunjungan ke Eropa tiba-tiba berubah haluan menjadi rombongan invasi ke Planet Mars!” cerocosnya kesal.
Juna tergelak. Membayangkan ekspresi Anggi yang sedang bersungut-sungut pasti sangat lucu. Membuat rasa baru yang bergolak dalam dadanya kian membuncah saja.
“Kok ketawa sih!” seru Anggi jengkel.
“Mana aku tahu! Aku bukan peneliti frekuensi gelombang telepon maupun satelit. Tanya saja sama ilmuwan!” Anggi sewot sendiri membuat Juna tambah terbahak.
“Hey, jangan marah-marah, Mama Baby. Nanti bayi kita terkejut. Di sini memang masih malam, kita berada di belahan bumi berbeda. Jakarta enam jam lebih cepat dibandingkan waktu Belanda. Jadi saat di sana sudah pagi, di sini masih dini hari,” jelas Juna manis dan renyah. Tidak ada nada meninggi maupun intimidasi seperti yang sering terlontar.
Anggi terbatuk karena kaget. Menjitak kepalanya sendiri merutuki kebodohannya yang malah lupa akan fakta perbedaan waktu.
“Kenapa kamu batuk?” Lagi-lagi Juna panik berlebihan padahal Anggi hanya terbatuk akibat terkejut. “Kalau ibunya sakit batuk apakah anakku juga ikut batuk? Aku akan mengubungi Wulan.”
“Eh, tunggu-tunggu. Ini ... ini cuma tersedak jus,” jawab Anggi beralasan berusaha tenang. Tidak munafik, perhatian Juna yang bertubi-tubi dan cenderung berlebihan menjalarkan rasa hangat di rongga dadanya meskipun semua itu atas nama si jabang bayi.
__ADS_1
“Makanya kalau minum itu pelan-pelan. Bikin kaget saja.” Juna mengomel sepanjang jalan kenangan membuat Anggi terkikik geli. Ayah dari anaknya ini lebih sewot dari ibu-ibu komplek yang ngerumpi di sore hari semenjak tahu dirinya hamil.
“Oh ya, ada apa kamu mengubungiku?” Juna bertanya setelah selesai mengabsen omelannya.
“Oh, itu. Mami memintaku untuk mengubungi Mas karena sejak semalam tidak ada kabar darimu. Padahal mami menantikan,” jawab Anggi. Padahal bukan hanya Marina yang ingin tahu kabar Juna, yang paling resah justru dirinya sendiri.
“Aku tadinya mau mengabari, tapi saat aku sampai di sini, di Jakarta sudah memasuki waktu dini hari. Itulah sebabnya aku menunda memberi kabar. Sampaikan pada Mami, aku sudah sampai dengan selamat.”
“Oke, nanti kusampaikan. Memangnya sekarang jam berapa di situ?” tanya Anggi ingin tahu.
“Setengah dua pagi. Tadi aku lagi tidur,” jawab Juna apa adanya.
Anggi menggigiti kuku merasa tak enak hati karena menginterupsi di kala Juna sedang pulas tertidur. Pantas saja suara pria itu saat mengangkat telepon tadi terdengar serak juga parau. “Ya sudah, Mas lanjutkan saja tidurnya. Aku mau memberitahu Mami.”
“Hmm, jaga anakku baik-baik. Juga_” Kalimat Juna terpotong, berhenti bicara menyisakan sepi membentang.
“Juga apa, Mas?” imbuh Anggi yang menunggu Juna melanjutkan kata-katanya.
“Ehm, juga ... juga jaga dirimu. Sayang,” sambungnya kembali dengan kaya terakhir yang hanya terucap dalam hati sebelum akhirnya panggilan telepon disudahi.
Bersambung.
__ADS_1