Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 71a


__ADS_3

Istri Arjuna 71a


“Kita mampir dulu ke tempat lain sebelum ke rumah ibu untuk berbenah. Tempat yang cukup penting.”


“Ke mana? Ke kantor?” tanya Anggi. Menelengkan kepala pada suaminya yang sedang mengemudikan mobil. Hanya kantor Royal Textile yang terlintas di benaknya tentang tempat yang layak disebut penting.


Juna menoleh, mengulas senyum sekilas, meraih tangan Anggi dan menggenggamnya.


“Bukan, duduklah dengan tenang. Nanti kamu juga akan tahu.”


Anggi nyaris ambruk saat Juna membawanya ke kantor polisi. Baru mengetahui kakaknya ternyata tertangkap tepat pada hari di mana ibu mereka berpulang. Sedu sedan kekecewaan masih berselimut kehilangan kembali tumpah membasahi netra cantiknya.


“Kamu juga pasti berbohong. Kamu bersekongkol kan dengan si asisten suamimu itu kan? Membual tentang ibu? Ibu pasti ada di rumah berbaring malas seperti biasa!” teriak Ayu pada pada Anggi yang berurai air mata di rangkulan lengan kokoh Juna.

__ADS_1


“Asal Mbak tahu, bahkan di saat-saat terakhir, yang paling ibu khawatirkan adalah Mbak. Tapi Mbak sama sekali tidak pernah mencemaskan ibu. Terus sibuk mengumbar nafsu sendiri yang berakhir menyeret Mbak ke tempat ini!” balas Anggi, sarat kekecewaan mendalam di setiap untaian kalimatnya.


“Kamu pasti bohong, Anggita! Jangan hanya demi membuatku merasa bersalah, kamu membuat lelucon semacam ini!” teriaknya lagi.


Anggi terhenyak tak percaya. Di saat terjepit begini pun, kakaknya terus saja keras kepala.


“Mbak pikir hal seperti ini layak dijadikan guyonan? Sepertinya Mbak memang cocok berada di tempat ini, supaya otak dan hati Mbak kembali bekerja dengan baik. Supaya dapat merenung atas segala keliru! Tapi satu yang pasti, ibu sudah sudah tidak ada lagi dan Mbak menyia-nyiakan kesempatan yang sedikit itu dengan lebih mementingkan ego sendiri!” seloroh Anggi terbungkus kecewa juga lara.


“Mas, ayo kita pergi.”


“Anggita, heh adik macam kamu membiarkan saudaranya di sini! Jangan pergi seenaknya, bebaskan aku dulu Anggita. Aku akan mengadu pada ibu. Bebaskan aku dari sini! Kalau ibu tahu, ibu pasti akan membebaskanku dengan cepat tidak seperti kamu!”


Ayu berteriak-teriak tanpa bisa menyusul Anggi karena dia segera diseret oleh beberapa polisi untuk kembali dikumpulkan di satu sel dengan komplotannya.

__ADS_1


Anggi masuk dan membanting pintu mobil Xpander hitam yang hari ini dipakainya bepergian dengan sang suami. Mengusap matanya yang kembali basah. Padahal baru saja tadi malam netranya itu mengering. Jika kemarin ia menangis karena berduka ditinggal orang yang begitu berharga dan dicinta, lain halnya dengan hari ini yang menangis karena luapan rasa marah pada sang kakak.


Juna membuka pintu bagian kemudi, ikut naik dan duduk di sana, menepuk-nepuk dan mengusap lembut punggung Anggi yang kembang kempis.


“Marahlah, menangislah. Jika itu bisa membuat hatimu terasa ringan dan lebih tenang.” Juna berusaha menenangkan, membelai lembut kepala istrinya itu


Tadi, Juna juga sengaja tak turut serta bersuara saat istrinya meluapkan unek-unek terpendam pada sang kakak yang sangat wajar Anggi lakukan. Juna hanya berusaha supaya tidak terlalu banyak kepala juga mulut yang ikut membuat situasi kian panas, lantaran semua itu hanya akan membuat suasana di kantor polisi semakin keruh saja.


“Kasihan ibu Mas. Ibu sibuk khawatir tentang Mbak Ayu terus menerus sebelum kepergiannya, tetapi Mbak Ayu yang begitu dikhawatirkan malah membuat ulah mencengangkan!” geramnya Anggi tak dapat membendung emosi yang berkecamuk di hati sembari menepuk-nepuk dadanya yang kembang kempis.


“Aku paham, seperti apa perasaanmu sekarang." Juna terus berusaha menghibur. Dengan elusan, pelukan juga kecupan sayang di ubun-ubun istrinya itu.


"Tentang Mbak Ayu, adakah yang ingin kamu upayakan?” Juna mencoba bertanya. Bukannya bersedia membantu mentolerir kesalahan, hanya saja ingin tahu keputusan istrinya itu seperti apa untuk Ayu setelah ini.

__ADS_1


Anggi mengusap wajah dan menarik napas. Terdiam sejenak kemudian berkata, “Biarkan dia mengikuti proses hukum yang berlaku secara sebenar-benarnya. Serahkan pada yang berwajib sebagai mana mestinya. Kuharap Mas jangan meletakkan tangan untuk membantu. Supaya Mbak Ayu tahu, bahwa atas perbuatan salahnya dia harus mencicipi ganjaran konsekuensi dengan hukuman setimpal.”


Bersambung.


__ADS_2