Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 25a


__ADS_3

Halo para pembacaku tersayang. Jangan lupa dukungan hadiah dan votenya. Follow juga instagramku @Senjahari2412 untuk mengetahui seputar cerita-cerita yang kutulis. Selamat membaca πŸ€—.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


BAB 25a


Klinik terpencil yang dari luarnya tampak tertutup dan sepi itu, berbanding terbalik dengan suasana di dalamnya. Tampilan klinik dari luar memang sengaja dibuat senyap dan usang seolah tak laku. Bersembunyi dibalik label pengobatan herbal padahal di dalamnya tidak demikian. Bertujuan agar kegiatan ilegal yang berlangsung tidak mengundang curiga.


Anggi mengetahui lokasi ini karena sewaktu kuliah dulu sempat mendengar desas-desus tentang tempat aborsi ini dari para mahasiswi nakal simpanan om-om. Hanya berbekal info samar itu Anggi menemukan lokasi yang dulu tidak pernah dibayangkan akan disambanginya.


Di dalam sana, ternyata sudah banyak orang yang duduk di kursi tunggu. Kebanyakan para wanita muda, perkiraan usia kuliah. Bahkan ada yang tampak masih belia, Anggi memperkirakan kemungkinan wanita muda yang duduk bersisian dengan om-om berperut buncit itu masihlah duduk di bangku SMA.


Anggi tertegun di ambang pintu, meragu untuk masuk ke tempat laknat yang jujur saja membuat bulu kuduknya bergidik ngeri. Tempat yang sama sekali tidak pernah terlintas untuk dikunjungi selama hidupnya.


"Mbak, ada yang bisa saya bantu?"


Anggi mengerjap dan sedikit terperanjat saat seorang wanita yang sepertinya salah satu pekerja klinik bertanya padanya.

__ADS_1


"Mbak mau daftar juga?" tanyanya lagi karena yang ditanya tak kunjung menjawab.


Anggi merasa lidahnya kelu. Ia malah menggigit bibir. Keraguan membelitnya erat, akan tetapi dorongan nyeri di hatinya kembali menguasai. Kepalanya mengangguk meskipun samar.


"I-iya. Sa-saya mau daftar," jawabnya tergagap.


Si wanita berseragam putih itu mengangguk. Tak perlu bertanya lagi, karena maksud kedatangan para pasien ke tempat ini sudah jelas hendak melakukan apa.


"Mbak ke sini sama siapa? Sebaiknya ada yang mengantar. Tidak disarankan pulang sendiri. Khawatir terjadi efek samping setelah prosedur, setidaknya ada yang menemani. Kebanyakan yang ke sini diantar oleh teman atau pasangannya," jelasnya sambil mengarahkan dagu pada jejeran orang-orang yang duduk di kursi tunggu.


"Mbak?"


Si perawat menepuk pundak Anggi membuat Anggi berjengit.


"Sa-saya diantar jemput so-sopir. Jadi tidak pulang se-sendiri," sahutnya berbohong. "Apakah antreannya masih banyak?" Anggi bertanya sambil memerhatikan seisi ruangan.


"Iya, masih banyak yang mengantre. Tapi kalau ingin cepat dan didulukan, itu bisa diatur."

__ADS_1


Si perawat tersebut menyunggingkan senyum keserakahan sebagai isyarat dan Anggi langsung paham akan maksud tersirat itu. Diambilnya sepuluh lembar uang seratus ribuan dari dalam tas, melipat dan menyelipkannya ke saku si perawat.


"Bisa diusahakan lebih cepat?" pinta Anggi kendati tampak tak yakin.


"Beres, Mbak. Tunggu kurang lebih tiga puluh menit lagi, setelah selesai pasien yang sedang ditangani sekarang. Mbak langsung dapat giliran. Nanti saya panggil. Silakan tunggu dulu."


Dengan keengganan, Anggi mengambil tempat duduk paling belakang. Jemarinya yang bertautan, gemetaran juga sedingin es. Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan diri dan mendoktrin pikirannya bahwa keputusannya sudah tepat. Walaupun ditilik dari sudut mana pun, tindakannya merupakan kesalahan besar.


Niat dalam hatinya melemah dan menguat setiap menitnya. Hanya saja setiap kali teringat dirinya hanya dipandang sebagai alat penebus balas budi yang bahkan tidak benar-benar dianggap istri oleh Juna, niat itu menguat kembali.


Jiwanya sudah rapuh akibat terlalu banyak beban kepiluan yang ditumpahkan sebelumnya. Tak sanggup menanggung lagi jika nantinya ia juga harus menyaksikan darah dagingnya tak diinginkan seperti dirinya, sementara ia memang tak bisa melepaskan diri dan lari dari jeratan Juna demi sang ibu yang banyak menyandarkan harapan padanya.


"Nyonya Anggita."


Lamunannya buyar kala mendengar namanya dipanggil. Dengan perasaan tak menentu, Anggi melangkah masuk ke dalam ruangan dokter sambil menahan air bening yang kian mendesak di bola mata serta sesak di dada.


TBC

__ADS_1


__ADS_2