
Istri Arjuna Final Episode
Waktu berlalu cepat tanpa disadari oleh penghuni Bumi. Musim berselang silih berganti, antara hujan dan kemarau. Tahun pun telah menginjak lembaran baru, tak terasa hari esok Brama sudah menginjak usia satu tahun.
Payung warna kuning terbentang guna mengahalau terik matahari, dipegang oleh seorang pria yang kian menawan bertambah matang setiap harinya. Memayungi wanita cantik bergaun biru dengan bayi dalam gendongan di lokasi area pemakaman.
Tak hanya mereka bertiga. Bersama mereka ikut datang sepasang suami istri yang juga menggendong bayi. Rona wajah semua orang menyiratkan kebahagian keluarga lengkap, di balik gurat sendu yang selalu hadir setiap kali berkunjung ke tempat ini.
“Aku datang, Ibu, Mbak.”
Wanita cantik bergaun biru itu adalah Anggi. Menyerahkan Brama pada Juna, ia berjongkok di antara dua makam yang bersisian, mengusap nisan ibunya yang terletak di sebelah kanan, juga menyentuhkan jemarinya di nisan sebelah kirinya yang bertuliskan Masayu jelita.
Ya, Ayu menutup mata tepat setelah bayinya dilahirkan ke dunia melalui jalan operasi. Hari itu, kondisinya langsung turun drastis terjun bebas setelah bercakap-cakap penuh rindu dengan Anggi untuk yang terakhir kali. Beruntung bayi dalam kandungannya masih bisa tertolong, kendati si bayi laki-laki yang dinamai Yudhistira oleh Maharani dan Barata itu sempat menghabiskan waktu satu bulan perawatan dalam pengawasan ketat di ruang ICU.
Ayu dikebumikan di sebelah makam ibunya. Anggi masih ingat raut wajah kakaknya sebelum dikafani. Wajahnya cerah, tersenyum cantik, tampak gembira. Anggi sempat menciumi wajah Ayu sebelum jasad Ayu dipulasara, membisikkan kata ke telinganya, teringat Ayu yang terus menderaikan maaf padanya sebelum kondisinya benar-benar drop.
Pergilah dengan tenang, Mbak. Aku sudah memaafkan Mbak, semuanya, bersih tak bersisa. Maafkan aku juga, maafkan keliruku sebagai adik dari lubuk hati terdalam. Semoga segala hukuman duniamu, sakitmu, hingga perjuanganmu melahirkan, menjadi sebab dihapusnya segala dosa dan kesalahan. Aku sayang, Mbak. Selalu.
Maharani dan Barata terbang ke Jakarta dalam rangka menghadiri acara selamatan usia satu tahun Brama yang akan diselenggarakan besok. Mereka sengaja datang lebih awal, ingin meluangkan waktu berkunjung ke makam ibu kandung dari bayi lucu yang kini menginjak usia Sembilan bulan.
Maharani ikut berjongkok di sisi makam Ayu. “Mbak Ayu, aku datang bersama putramu. Walaupun Yudhistira bukan lahir dari rahimku, tapi dia lahir dari hatiku. Aku dan Mas Bara berjanji, akan berusaha melakukan yang terbaik untuk membesarkan putra yang telah kau lahirkan. Terima kasih, berkat dirimu, aku akhirnya bisa merasakan menjadi seorang ibu,” ucap Maharani dengan tenggorokan tercekat dipenuhi haru.
Mereka semua menaburkan bunga-bungaan indah di atas makam Ayu juga Ningrum. Dilanjutkan menderaikan untaian do’a dengan khidmat. Memanjatkan do’a terbaik meminta pada Yang Maha Kuasa, bagi mereka yang telah lebih dulu berpulang.
*****
“Anak Papa udah besar. Mau punya adik enggak?” tanya Juna pada putranya yang tak mau diam meski belum terlalu lancar berjalan. Memakai tuxedo mini mirip dengan yang dipakai Juna hari ini.
“Dak, dak,” jawabnya dengan suara cadelnya. Berceloteh khas balita begitu menggemaskan. Berkata yang mendekati kata tidak, tetapi kepalanya mengangguk-angguk lucu. Jawabannya selalu sama setiap kali sang Papa bertanya hal serupa.
“Jadi mau atau enggak? Papa sudah kangen pingin bikin dedek buat Brama, biar calon adeknya gak terus ditampung karet lalu dibuang.”
__ADS_1
Sebuah dasi melayang ke wajah Juna. Pelaku pelemparnya adalah istrinya sendiri yang semakin hari bertambah cantik dan seksi saja pasca satu tahun melahirkan putra mereka.
“Jangan mencemari anakku dengan kalimat mesummu, Papa!” Anggi yang sudah cantik dalam balutan gaun merah selutut, berkacak pinggang juga melotot pada Juna begitu keluar dari ruang ganti. “Lagian juga dokter menyarankan jeda dulu. Ini bawaannya pingin bikin adonan terus!” ketusnya.
Dulu, mungkin Juna akan menyalak garang andai Anggi berani berbuat demikian. Namun, sekarang, Juna bahkan tak keberatan jika dilabeli suami takut istri. Seiring waktu, Juna lah yang berangsur melunak, kebalikannya dengan Anggi yang kini cenderung galak setelah menjadi seorang ibu.
“Argh, takut. Mama galak,” canda Juna sembari mengangkat Brama dalam gendongan. Berlari-lari kecil berpura-pura menjauh membuat sang anak tertawa kegirangan, merasa senang diajak berlarian.
“Sudah-sudah. Mas cepat pakai dasinya, acara sudah mau dimulai.” Anggi menghampiri dan memungut dasi yang tadi dilemparnya bersamaan dengan Marina yang muncul di ambang pintu kamar mereka.
“Mana cucu Oma yang mau ulang tahun? Sini, sini, gendong sama Oma. Yuk kita turun duluan.”
Marina mengangkat kedua lengannya dan Brama si bayi pintar langsung mencondongkan tubuh pada sang nenek meminta digendong.
“Aku akan turun sebentar lagi, Mi. Mau pasangkan dasi Mas Juna dulu,” ucap Anggi sembari menunjukkan dasi di tangan.
“Iya tenang saja. Acara baru akan dimulai sekitar lima belas menit lagi. Kalian bersiap-siap saja. Biar Brama Mami bawa turun mumpung ada Yudhistira, biar mereka akrab, maklum jarang bertemu.” Marina berlalu turun sembari berceloteh gembira mengajak cucunya mengobrol.
“Ya, mau bagaimana lagi. Desainku memang seperti ini, tinggi memesona,” sahutnya percaya diri tak merasa malu sedikit pun.
Anggi memutar bola matanya malas. Sudah bukan hal aneh lagi, suaminya ini memang memiliki kadar percaya diri over dosis. Walaupun semua itu memanglah sesuai.
“Jangan cemberut begitu, Mama.” Juna merangkul pinggang Anggi supaya merapat padanya. “Lagi pula, tinggiku ini memang pas untukmu, sehingga ukuran lainnya juga sesuai, sama-sama menjulang. Kalau tidak sesuai dan pas, tidak mungkin desahanmu selalu sekencang itu saat kita menyatu di ranjang,” bisiknya sensual menggoda membuat wajah Anggi merona malu.
“Ish. Sudah ah! Kenapa bahasannya malah meluber ke sana sih!” ketus Anggi yang tak habis pikir dengan Juna yang semakin bertambah usia malah semakin ganas saja menggodanya, terlebih lagi di tempat tidur.
“Siapa suruh kamu semakin seksi,” desisnya. Juna meraih dagu Anggi disusul sebuah pagutan singkat mendarat di bibir istrinya itu.
“Mas. Lipstikku jadi rusak!” Anggi meninju bahu Juna sebal, berusaha menyembunyikan riak tersipu yang jujur saja selalu merambat setiap kali Juna memesrainya begitu intim meski mereka bukan pengantin baru lagi. “Kita harus cepat turun. Jangan sampai membuat tamu undangan menunggu.”
Juna terkekeh senang. “Tapi, sedari dulu kamu lebih cocok tanpa lipstick, Sayang. Mmm, bagaimana kalau satu ronde kilat dulu sebelum turun,” bujuknya penuh arti. Berdekatan dengan sang istri, merupakan kelemahan Juna, karena testosteronnya kerap mendominasi.
__ADS_1
Juna memasang raut wajah memelas yang biasanya selalu ampuh membuat Anggi luluh. Anggi menguatkan diri untuk tidak goyah saat melihatnya. Mengatur napas dalam rangka menjada tekad untuk tidak luluh kali ini mengingat acara ulang tahun putra mereka sudah mendekati waktu dibuka.
“Enggak, Papa,” jawabnya tegas. “Sekarang waktunya kita turun. Masalah ronde kilat maupun ronde panjang, terpaksa harus ditunda. Ingat, anakmu mau berulang tahun!”
“Ah, kenapa kalian berdua menggemaskan,” desahnya frustrasi. “Yang satu menggoda untuk diciumi dan diajak bermain, sedangkan yang satu lagi menggoda untuk ditiduri,” keluhnya.
“Erghh, mulutmu, Mas! Ayo cepat, kita harus turun!”
Anggi menggandeng sang suami turun setengah menyeretnya. Tak memedulikan Juna yang terus merengek padanya. Sungguh pemandangan harmonis dan manis.
Perjalanan mereka berdua diawali dengan amarah dan air mata. Kendati begitu garis jodoh dari yang maha kuasa yang telah ditetapkan ikut andil di dalamnya. Bisa berada di titik saling memahami memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bukan hal mustahil jika diupayakan. Bermodalkan kesabaran seluas samudera juga perjuangan tak kenal lelah. Meski terseok-seok nyaris terjerembab dalam kubangan salah kala angin kencang membelokkan arah, tetapi kini mereka berakhir saling menguatkan, berpegangan tangan dalam menapaki jalan hidup ke depannya yang pasti tidak selalu lurus dan mulus.
Begitulah kehidupan. Takkan selamanya tertawa, juga takkan selamanya menangis. Takkan selamanya benar, takkan selamanya salah. Setiap orang baik pernah berbuat keliru, begitu pula setiap orang jahat pasti memiliki sisi baik. Perjalanan kita di dunia selalu diisi dua warna, yakni suka dan duka, juga tentang pribadi manusia, sudah pasti semua insan pernah salah dan lupa, karena sejatinya tidak ada yang sempurna di alam fana.
TAMAT
Alhamdulillah wasyukurillah. Akhirnya kita sampai di penghujung kisah Anggita Jelita dan Arjuna Syailendra. Terima kasih yang tak terhingga tercurah dariku untuk seluruh pembacaku tersayang yang telah menemani perjalanan kisah ini dari awal sampai akhir. Berharap, semoga ada hikmah baik yang bisa dipetik dari cerita ini. Bukan hanya sekadar bacaan hiburan semata.
Terima kasih juga atas semua cinta dan dukungan kalian berupa vote, hadiah, like komentar dan lainnya untuk kisah-kisah yang kutulis. Apresiasi kalian sangat berarti buatku.
Sebagai tanda cintaku atas apresiasi kalian, tiga teratas Podium dukungan novel ini akan mendapatkan giveaway alakadarnya berupa pulsa sebesar 50 ribu rupiah per orang. Akun pemenang akan aku PC guna mengirimkan nomor yang akan diisi pulsa. Dan terkhusus untuk podium posisi satu, akan mendapatkan satu buah novel cetak author yang akan rilis mendatang. Semoga berkenan.
Follow juga Instagramku untuk mengetahui info-info seputar cerita-cerita yang kutulis di @Senjahari2412. Baca juga novelku yang lainnya dengan klik profilku ya.
Nantikan bonus chapter untuk kisah Anggita-Arjuna dan sampai jumpa lagi di kisah-kisah berikutnya. Love you all 💜💕.
With love,
Senjahari_ID24
__ADS_1