Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 57b


__ADS_3

Istri Arjuna 57b


"Arjuna! Kamu kenapa, Nak? Kenapa bisa jadi begini!" jerit Marina yang terkejut. Berjongkok memeriksa kondisi putranya dengan mata basah.


Tangisnya pecah saat melihat cairan merah yang merambat di sisi wajah putranya. Juna mengerang rendah kemudian hilang kesadaran membuat Marina kian panik.


"Papi, tolong putraku. Bagaimana ini, bagaimana ini?" Tangis Marina semakin kencang sembari mengguncangkan bahu Arjuna yang sudah tak sadarkan diri sepenuhnya.


Dokter pribadi dipanggil Surya untuk datang segera. Surya, Barata dan dua sopir membopong Juna ke kamarnya yang terdapat di rumah tersebut, sedangkan Marina yang merasakan kakinya lemas masih terduduk di ruang makan dengan isakan seorang ibu yang terus menggema.


Dua ART membantu untuk berdiri saat Marina ingin menyusul ke kamar. Ingin melihat kondisi Arjuna. Sementara itu Maharani menangis di sudut ruangan dengan raut takut juga tertekan. Tak ada ART yang berani mendekat, mereka takut terkena damprat tanpa dosa. Hanya Barata yang kembali menghampiri setelah selesai membantu membawa Arjuna ke kamar.


"Sebenarnya awalnya bagaimana? Kenapa Juna bisa sampai terluka?" tanya Marina pada salah satu ART yang memapahnya.


"Tadi, Den Juna mendadak datang dalam kondisi marah besar pada Non Rani, Bu. Dan Non Rani... Non Rani melemparkan gelas tepat ke kepala Den Juna."

__ADS_1


Marina semakin tersedu. Bersedih untuk hubungan persaudaraan putra putrinya yang memburuk. Juga sedih karena si sulung sebagai kakak bukannya melindungi adik-adiknya, tetapi justru menjadi pembawa petaka.


Jam setengah sembilan malam kediaman Marina kedatangan tamu tak terduga. Tamu yang langsung menerobos masuk membuang basa-basi pada ART yang membukakan pagar.


Marina yang baru menutupkan pintu kamar si bungsu. Beranjak ke bagian depan rumah begitu mendengar derap kaki tak sabaran memasuki rumahnya. Rupanya menantunya yang datang. Anggi terlihat panik juga kacau.


"Mami. Apa Mas Juna ke sini? Mas Juna ada di sini kan?" cecarnya langsung. Bahkan lupa untuk menyapa sebagaimana mestinya.


"Anggi, kamu ke sini sama siapa, Nak? Kenapa kamu bepergian jauh? Bukankah kondisimu baru stabil?" tanya Marina khawatir. Mengingat Anggi yang sedang hamil dan baru membaik kondisinya, tiba-tiba muncul di rumahnya malam-malam.


Anggi menggigit bibir. Tertahan untuk melanjutkan kalimat. Dari keterangan Pandu, Juna berangkat setelah mengetahui fakta perihal jatuhnya ia di restoran. Fakta yang tidak ingin Anggi kuak ke permukaan. Selalu berusaha mengaburkan keinginan Juna yang ingin mencari tahu.


Ia memilih bungkam karena memiliki alasan tersendiri, tak ingin hubungan persaudaraan suaminya retak disebabkan insiden tersebut.


Maharani mendorongnya hingga terjatuh setelah terlibat adu mulut sebelumnya, tentu saja pancingan percakapan yang membuat sakit kepala itu dipelopori oleh si kakak ipar yang cemburu buta padanya dalam berbagai hal. Anggi mencoba memberi pengertian kala itu, tetapi Maharani yang diliputi cemburu berlebih malah mendorongnya hingga terjatuh.

__ADS_1


"Juna ada di kamarnya. Ayo."


Marina menuntun Anggi masuk ke kamar Juna. Tidak menuntut Anggi merampungkan kalimat, paham bahwa saat ini menantunya tengah cemas luar biasa, terlihat dari gesture Anggi yang kentara gelisah juga resah.


Anggi memekik kaget dan menghambur ke ranjang, saat melihat Juna terbaring dengan perban di kepala. Mata suaminya itu memejam rapat, wajah tampannya juga pias.


"Mas Juna kenapa, Mi. Kenapa bisa jadi begini?" Anggi meraba-raba daksa suaminya. Terkejut juga cemas menjadi satu. Mendorong gumpalan sebah mencekat di tenggorokan, diiringi kristal bening mendesak di bola mata.


Marina menunduk mendengar pertanyaan menantunya yang kini mulai terisak. "Kita bicara besok. Juna baru kembali tertidur setelah meminum obat. Sebaiknya kamu juga istirahat. Ini sudah malam. Ingat, kamu sedang hamil, Nak. Mami akan meminta ART menyiapkan keperluanmu. Mami tinggal dulu."


Sepeninggal Marina, Anggi tak bisa membendung tangisnya. Ia naik ke tempat tidur. Memeluk Juna erat dan tersedu di sana. Terkejut bukan main mendapati Juna dalam kondisi terluka.


"Kamu kenapa jadi begini, Mas. Apa yang terjadi?" lirihnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2