Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 31b


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 31b


“Terima kasih banyak Juna. Sampai repot-repot meluangkan waktu untuk mengantar Ibu pulang dari rumah sakit. Padahal cukup Anggi saja. Ibu jadi tidak enak, pasti pekerjaanmu terganggu,” ucap Ningrum begitu duduk di kursi ruang tamu rumahnya.


“Sama sekali tidak merepotkan, Bu. Sudah seharusnya aku ikut mengantar pulang. Lagi pula untuk sekarang dan seterusnya, saya tidak bisa membiarkan Anggi pergi tanpa saya temani,” jawab juna yang kini sama-sama duduk di kursi berhadap-hadapan dengan ibu mertuanya.


“Lho, lho. Anggita, kamu memangnya kenapa, Nak? Sakit?” Ningrum beralih menatap Anggi. Dari sorot mata juga nada bicara Ningrum sangat kentara amat khawatir.


“Ah, ti-tidak kok, Bu. Aku cu-cuma_”


Belum juga Anggi merampungkan kalimatnya, Juna sudah menimpali.

__ADS_1


“Anggi sedang hamil, Bu. Kami akan segera menjadi orang tua." Juna menukas cepat dengan senyum mengembang.


Anggi ternganga mendengar perkataan Juna. Tadinya ia belum berniat memberitahu perihal kehamilannya lantaran masih terganjal kegamangan di hati. Akan tetapi, tak menyangka malah Juna yang mendahului menyampaikan kabar tersebut.


“Yang benar? Kenapa tidak memberitahu Ibu lebih cepat?” Ningrum tampak terkejut sekaligus senang dalam waktu bersamaan. Sementara Ayu yang sedang menyiapkan teh manis mendelik tajam dari tempatnya berdiri.


“Kami juga baru tahu beberapa hari yang lalu, jadi belum sempat memberitahu. Benar kan, Sayang?”


Juna berkata dengan wajah sumringah lalu melirik Anggi yang kini terheran-heran. Ini merupakan kali pertama Juna memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’ tanpa sungkan di depan keluarganya.


Sebetulnya Juna memang sengaja menyampaikan soal kabar kehamilan Anggi kepada ibu mertuanya. Sebagai upaya dalam menghentikan kenekatan istrinya yang mungkin saja kembali berniat menggugurkan kandungan.

__ADS_1


Semalam tadi, Juna membolak-balik otaknya hingga tercetus ide ini. Apabila orang tua mereka mengetahui tentang kehamilan Anggi, otomatis istrinya itu tidak akan bisa berkutik. Selain kepada Ningrum, dia juga sudah berencana mengabari orang tuanya di Bali.


Jika para orang tua sudah mengetahuinya, Juna meyakini satu hal. Mau tak mau, Anggi harus menjaga kandungannya sebaik mungkin dan menghempas jauh-jauh niatan nekat sebelumnya. Juna belum mengetahui bahwa Anggi sudah tidak lagi berniat membuang si janin tak berdosa yang dititipkan di rahimnya. Sayangnya, komunikasi mereka yang buruk membuat masing-masing kepala akhirnya berasumsi sendiri-sendiri. Itulah mengapa banyak pepatah orang tua yang sering diulas, bahwa komunikasi lancar yang baik mutlak diperlukan dalam setiap hubungan pernikahan. Sebagai salah satu jalan guna memahami pasangan satu sama lain.


“Selamat untuk kalian berdua. Akhirnya Ibu akan punya cucu,” ucap Ningrum penuh haru juga gembira. Mengelusi lengan putri bungsunya yang duduk di sebelahnya.


“Makasih, Bu. Do’akan aku juga bayiku selalu sehat ya, Bu.” Anggi mengusap perutnya sambil mengulas senyum tipis.


“Untuk itulah saya sebagai suami sedang belajar untuk lebih siaga. Demi menjaga kondisi buah hati kami juga Ibunya, Anggi hanya akan bepergian jika saya mendampingi. Khawatir terjadi sesuatu. Maklum, Bu. Anak pertama,” jelas Juna renyah gembira membuat Anggi kembali tercengang dan tertarik mengamati suaminya lekat-lekat. Dipindai dari sudut dan sisi mana pun sama sekali tidak terdengar nada kepura-puraan dalam setiap untaian kata yang berderai dari mulut Juna, serta raut wajahnya pun mencerminkan bahagia yang nyata.


Ningrum mengangguk penuh suka cita. Tasbih syukur mengudara, merasa bahagia juga tentram memiliki menantu penuh tanggung jawab juga menyayangi putri bungsunya itu. “Jaga Anggi juga cucu Ibu dengan baik. Ibu mengandalkanmu, Juna.”

__ADS_1


“Pasti, Bu. Saya akan berusaha,” sahut Juna mantap.


TBC


__ADS_2