
Istri Arjuna bab 43a
Orang-orang terlihat bersukacita mengobrol dengan pasangan mereka saat menuju gate pesawat kecuali Juna. Wajah tampannya menekuk muram diiringi Pandu mengekori.
Semua yang pergi dalam acara ini menggandeng pasangan masing-masing, hanya Juna lah yang berangkat tanpa ditemani istri. Salah satu rekannya di bidang kain yakni Zayn Alvaro Rayan si pengusaha batik pun membawa serta Althea, istrinya yang masih belia. Juna juga sempat melihat sekilas Bima yang menggandeng Viona meskipun belum bertegur sapa lantaran diburu waktu.
Sejak pesawat lepas landas, Juna duduk tak tenang di kursinya. Kabin first class yang ditempatinya terasa tak biasa, amat tak nyaman di penerbangannya kali ini. Tidak ada yang salah dengan kabin kelas satu dari pesawat yang ditumpanginya, segala fasilitas terbaik terdapat di sana dengan pelayanan dari para awak kabin yang super ramah. Memastikan penerbangan Jakarta-Amsterdam yang diperkirakan memakan waktu sekitar empat belas jam tanpa transit ini aman dan nyaman, berhubung Belanda menjadi negara pertama dalam mengawali kunjungan ke Eropa kali ini.
Juna dan Pandu mendapat jatah di bagian tengah yang ideal untuk para couple karena pada awalnya disesuaikan dengan permintaannya yang berencana membawa Anggi Ikut serta. Akan tetapi, sebab yang duduk di sebelahnya bukan Anggi membuat Juna uring-uringan tak menentu. Ahasil Pandu lah yang menjadi sasaran, terkena semprot dari kekesalannya padahal Pandu sama sekali tak berbuat salah.
Juna semakin uring-uringan saat seorang awak kabin melirik dengan tatapan aneh kepada mereka berdua ketika sedang menawarkan beberapa jenis minuman.
Si awak kabin sebetulnya hanya ingin bertanya tentang hal lain lain, hendak bertanya perihal caviar jenis apa yang ingin disajikan sebagai salah satu fasilitas kelas satu yang ditawarkan. Namun, si awak kabin mengurungkan niat dan tak sengaja melempar tatapan aneh.
__ADS_1
Sikap Juna yang uring-uringan pada Pandu mirip para wanita yang sedang datang bulan, sehingga secara impulsif tatapan penuh tanya tersirat muncul begitu saja. Jika ditilik sekilas, interaksi bos dan sekretarisnya itu memang menimbulkan salah paham. Mirip pasangan yang sedang cekcok.
“Jangan duduk terlalu dekat denganku!” titah Juna ketus setelah si awak kabin meninggalkan mereka. Ujung matanya berkilat tajam melirik Pandu.
“Ini juga sudah jauh, Pak. Lagi pula kita terhalang sekat kursi ini.” Pandu menunjuk sekat tipis antara kursinya dengan sang bos.
“Pokoknya minggir lebih jauh lagi! Tatapan awak kabin tadi kentara meremehkan betapa jantannya aku dan itu semua gara-gara kamu yang duduk terlalu menempel padaku!” bentak Juna bersungut-sungut, merasa kesal akan tatapan sekilas si awak kabin tadi.
“Terserah! Bila perlu lipat tubuhmu menjadi lebih kecil supaya bisa jauh-jauh dariku! Orang-orang jadi salah paham! Kamu tidak melihat tatapan aneh awak kabin yang tadi?” bentak Juna kesal. Padahal sejak tadi Pandu tidak pernah melakukan hal yang menjurus, hanya saja efek pikiran Juna yang sedang kesal membuat situasi Pandu menjadi terjepit dan sulit.
Pandu mulai jengkel dengan mood buruk sang bos yang tak henti protes sana sini. Bahkan ketebalan irisan salmon tak berdosa di menu sashimi saat makan siang tadi turut menjadi sasaran, menggerutu karena menurutnya terlalu tipis.
“Bagaimana kalau kita tutup saja pintunya, Pak? Supaya tidak ada lagi lemparan tatapan aneh seperti yang Anda maksud.” Pandu mengutarakan usulan sembari menggeser pintu kiri di sebelahnya. Lalu beranjak bermaksud menutup pintu sisi kanan di mana Juna berada.
__ADS_1
“Jangan ditutup!” sergahnya cepat. “Kamu ingin membuat salah paham dalam peswat ini kian berembus, huh? Jika ditutup mereka pasti berpikir yang tidak-tidak!” desis Juna tajam.
“Lantas, saya harus bagaimana, Pak?” Pandu membuang napas lelah. Ingin rasanya ia berteriak keluar jendela dan meneriakkan sumpah serapah.
“Pokoknya diam saja dan jangan lakukan apa pun!” serunya sambil memijat pangkal hidung lalu menyandarkan punggung.
Pandu hanya bisa mengumpat dalam hati sementara kepalanya bergerak mengangguk tanpa diiringi lisan yang menjawab. Pandu kembali duduk di kursinya. Membuka pintu geser yang tadi ditutupkan dan memilih berpura-pura tidur daripada terus menerus terkena amukan bosnya
Juna mulai tidak mengerti akan dirinya sendiri. Seperti ada lubang kosong dalam jiwanya ketika Anggi tak didekatnya padahal dulu tidak begini. Mungkinkah efek dari si jabang bayi membuatnya tak tenang saat berjauhan dengan ibu dari anaknya itu atau mungkin lebih dari itu? Hatinya bertanya-tanya, tidak kah terlalu dini jika menyimpulkan bahwa rasa menjengkelkan yang sedang menggerogoti hatinya kini disebut, rindu?
Bersambung.
Thank's for reading & Happy Sunday 💜
__ADS_1