
Istri Arjuna Bab 37a
Di sebuah butik yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit Satya Medika, Juna duduk dan menyandarkan punggung di sofa. Menatap lurus mengawasi istrinya yang berada tak jauh darinya. Sedang memilih dan sesekali mencoba berbagai jenis model pakaian.
Sudah hampir dua jam Anggi memilih dan mencoba pakaian di butik eksklusif langganan Marina jika berkunjung ke Jakarta. Harus Juna akui, model baju dan gaun mana pun yang dikenakan Anggi selalu tampak indah melekat di raga istrinya itu. Daksa semampai yang berisi pas di bagian-bagian yang seharusnya, menjadikan semua pakaian yang dikenakan selalu berakhir mendarat cantik.
Dengan kedua lengan terlipat di dada disertai kening yang ikut melipat samar, benak Juna bertanya-tanya akan tingkah aneh istrinya itu, tak merasa bahwa dirinya sendiri juga tak kalah anehnya belakangan ini.
Kehadiran si buah hati di tengah pernikahan mereka yang tidak sehat, laksana tabib yang menyuguhkan obat mujarab. Tanpa sadar berefek pada membaiknya hubungan mereka sebagai suami istri kendati reaksi penyembuhannya masih merayap bagai siput.
Juna dengan egonya yang setinggi langit, berusaha menurunkan dan mengontrolnya sekuat tenaga. Sedangkan Anggi yang biasanya bungkam tentang beban di hati, mulai berani terbuka menyerukan apa yang diingini meski masih melalui cara-cara tersirat, bukan secara gamblang.
“Aku pilih semua model yang sudah kucoba. Tolong size M semuanya, mengantisipasi supaya tetap bisa dipakai saat kehamilanku semakin besar, juga bungkus sepuluh gaun rancangan terbaru yang tadi direkomendasikan,” pinta Anggi kepada si pekerja butik setelah puas memilah.
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Selesai memilih, Anggi kini duduk santai sambil menunggu pesanannya disiapkan. Menumpangkan kaki kanan di atas kaki kiri, menyesap secangkir teh hangat juga mencicipi red velvet slice cake yang disajikan sebagai pelayanan spesial bagi pelanggan di butik mewah tersebut.
Juna makin mengerutkan kening keheranan. Istrinya itu memborong sekitar empat puluh persen koleksi butik. Bukan tentang masalah uang. Andai Anggi ingin membeli seluruh isi butik pun Juna sangat lebih dari mampu untuk membayar.
Hanya saja Juna terheran-heran. Anggi yang notabene tidak begitu suka berbelanja terlebih lagi pakaian-pakaian mahal, mendadak berbelanja begitu banyak di butik eksklusif di luar kebiasaan. Padahal jika maminya mengajak Anggi berbelanja, biasanya Anggi tak pernah seantusias sekarang. Baru bersedia memilih dan membeli satu atau dua potong pakaian setelah didesak dan sedikit dipaksa. Kehamilan ternyata membawa banyak perubahan. Pikirnya.
Juna berkedip cepat lantaran terkejut. “Siapa yang melamun? Aku hanya bosan!” elaknya ketus.
“Kalau bosan pulang saja. Seharusnya tadi Mas biarkan Pak Oman mengantarku bepergian. Bersantai di rumah bukankah lebih menyenangkan daripada harus menjadi sopir pribadi?” ujar Anggi santai sambil kembali menyumpalkan potongan slice cake ke dalam mulut.
“Jangan macam-macam!” Juna mendengus tajam. Menggeser duduknya dan mendekatkan mulut ke telinga Anggi. “Sampai melahirkan nanti, kamu hanya boleh bepergian keluar rumah bersamaku! Kalau terus membantah, terpaksa aku akan mengikat dan mengurungmu sampai anakku melihat dunia!” desisnya mengancam, berbisik langsung ke telinga Anggi.
__ADS_1
Membayangkan dirinya terkurung di istana Juna bak Rapunzel, membuat bulu roma Anggi bergidik ngeri. Nyalinya yang tadi berkobar-kobar, sedikit menciut ketika Juna mengaktifkan mode intimidasi. Beberapa bulan hidup satu atap, Anggi sangat tahu, Juna merupakan tipe serius dengan ultimatum yang diucapkan.
Tak kehabisan akal, Anggi menoleh dan menyunggingkan senyum manis. mendekatkan bibir ke telinga Juna hingga napas hangatnya mengelusi daun telinga si pria tampan yang sedang dalam mode garang.
“Tapi, dokter menyarankan supaya ibu dari anakmu ini untuk menghindari stres. Jika Mas mengurungku, sudah pasti stres tak terhindarkan bukan? Kalau sudah begitu, lalu bagaimana dengan nasib darah dagingmu ini, hmm? Kelangsungan pertumbuhan anakmu, semuanya tergantung padamu, Suamiku.” Anggi balas mengancam sambil mengelusi otot bisep lengan suaminya itu.
Anak ternyata memang benar membawa banyak berkah terlepas dari bagaimana janin itu hadir. Kendati mungkin cinta tidak ikut serta saat peleburan yang membuahkan segumpal darah.
Juna memijat pangkal hidung dengan mata memejam. Kecamuk di benaknya lengkap sudah. Ketakutan anaknya digugurkan, hasrat tak tersalurkan ditambah arogansi yang sulit berkutik membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
Para pramuniaga yang sedang menyiapkan setumpuk pesanan berbisik-bisik akibat baper sendiri meyaksikan interaksi pasangan itu dari kejauhan. Ditilik dari sudut mana pun, memanglah dua sejoli itu terlihat begitu intim dan mesra. Tidak tampak seperti sedang berseteru. Padahal pada kenyataannya, mereka tengah saling melontarkan ancaman.
Bersambung
__ADS_1