Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 49 b


__ADS_3

Istri Arjuna bab 50a


Terpaku, itulah reaksi Anggi sekarang. Ini merupakan kali pertama suaminya tampak rapuh. Arjuna yang dikenalnya adalah pria arogan, otoriter juga keras kepala. Tak pernah disangka akan menangis tersedu sembari menderaikan kata sakti yang tak pernah terduga terucap dari lisan, yakni kata maaf.


Juna masih tergugu, memeluk Anggi seraya menenggelamkan wajah di lekuk leher sang istri. Deru napas hangatnya yang nyaris panas ikut mengelusi di sana, kembang kempis bersama sedu sedan.


Punggung kokohnya masih berguncang. Tanpa diperintah, sebelah tangan Anggi yang terbebas dari selang infus menepuk-nepuk lembut punggung kokoh itu, merambat ke atas membelai rambut hitam Juna hingga sedu sedan pria itu mereda.


Bukan berarti Anggi lemah dengan memberi sedikit penghiburan pada si pria penoreh perih yang tiba-tiba serapuh kertas. Sekarang ini bukanlah saat yang tepat mengagungkan ego. Terlebih lagi, Anggi sudah mengetahui penyebab tabiat arogan Juna. Kendati tak dipungkiri, dirinya yang tak tahu apa-apa ikut tersakiti saat terseret menjadi pelampiasan karena masuk di saat dunia Juna masih dipenuhi puing-puing patah hati.


Bagi Anggi, seperti apa pun pernikahannya, janji suci mereka bukanlah permainan, kendati harus berjuang keras tertatih-tatih melayarkan bahtera mereka yang di dalamnya carut marut.


Setiap pasangan memanglah seharusnya bisa membaca situasi agar mampu menerapkan analogi saling melengkapi dalam rumah tangga, tahu kapan waktunya mempertahankan ego keras dan tahu kapan saatnya melembut.


Juna menegakkan tubuh, menyusut wajah basahnya kasar menggunakan punggung tangan. Wajah tampannya terlihat amat kacau, disertai lingkaran mata menghitam mengkhawatirkan akibat belum terlelap dengan benar di dua hari terakhir. Ditambah saat di Eropa dia tak bisa tidur dengan semestinya.

__ADS_1


Anggi menatap lekat-lekat. Banyak hal yang ingin ditanyakannya pada Juna, tetapi diurungkannya setelah membaca gurat kelelahan tergambar begitu jelas di wajah si pria yang kini duduk di tepian ranjang. Anggi juga melirik jam di dinding dan baru menyadari ternyata masih dini hari.


Anggi menghela napas pelan, lalu mengulas senyum tipis. “Mas mengantuk?” tanyanya tiba-tiba membuat Juna menatap Anggi penuh tanya.


“Ya?” timpalnya bingung.


Anggi menggeser tubuh lemahnya sedikit demi sedikit membuat Juna kebingungan.


"Kamu mau apa? Jangan banyak bergerak. Tubuhmu masih lemah." Juna berusaha menghentikan Anggi, tetapi istrinya itu ingin tetap menggeser baringannya di ranjang pasien yang terbilang luas dari ukuran yang biasanya, cukup untuk memuat dua orang dewasa berbaring bersisian.


Meski keheranan, Juna membantu sampai Anggi mendapat posisi yang diinginkan, lalu Anggi menepuk-nepuk kasur yang kini menyisakan ruang untuk satu orang. “Mau tidur?” tawarnya.


“Ti-tidur?” Juna tergagap. Semakin kebingungan bukan main. Anggi tidak bertanya tentang kepulangannya yang tiba-tiba, atau membahas permintaan maafnya maupun tumpahan air matanya barusan.


“Mas terlihat sangat-sangat lelah. Wajah seorang Arjuna Syailendra tidak cocok dihiasi kantung mata,” ejek Anggi yang berujar rendah. Sudut bibirnya tertarik ke atas tersenyum sekilas. “Naiklah dan pejamkan mata sejenak. Sini,” sambungnya lagi.

__ADS_1


"Tapi_"


"Cepat naik. Mumpung masih ada waktu sebelum tanah terang," sambar Anggi cepat memotong ucapan Juna.


Seperti terhipnotis, Arjuna naik perlahan. Merebahkan tubuh jangkungnya hati-hati supaya tidak menyakiti tubuh ringkih istrinya itu. Juna berbaring miring berbantalkan sebelah tangannya yang dilipat sementara tangan lainnya memeluk Anggi pelan juga lembut dengan tetap menjaga supaya tidak menindih bagian perut bawah. Anggi tidak menolak, membiarkan dirinya direngkuh Juna.


“Kamu tidak ingin bertanya sesuatu padaku?” tanya Juna yang mulai disambangi kantuk. Ajaib, saat berdekatan dengan guling favoritnya, rasa kantuk begitu mudah hinggap.


“Nanti saja. kita bisa bertukar kata nanti. Sebaiknya, Mas pejamkan mata dan tidurlah,” sahut Anggi yang berbaring terlentang. Membiarkan Juna memandangi sisi wajahnya.


Tak ada lagi suara maskulin yang menimpali. Anggi menoleh, rupanya tak butuh waktu lama, suaminya itu menutupkan kelopak mata disertai dengkuran halus pertanda sudah memasuki alam tidur.


"Tidurlah, Mas. Istirahatkan jiwa dan ragamu. Jiwamu pasti lelah juga bukan? Tersiksa hati yang patah dalam waktu lama tanpa tahu bagaimana cara mengobatinya," ucap Anggi lirih sambil menatap lekat si pria yang tertidur.


Juna jatuh terlelap begitu mudahnya, tak seperti malam-malam sebelumnya saat rasa kantuk terasa lebih mahal dari hal apa pun di dunia. Disusul Anggi yang ikut kembali memejamkan mata lantaran bernasib sama nyaris delapan malam lamanya. Pantas saja tidurnya tadi terasa pulas walaupun dalam kondisi tubuh nyeri dan tak nyaman, pasti penyebabnya karena ada Juna di dekatnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2