
BAB 24b
Putung-putung rokok serta sisa bakaran tembakau yang terdapat dalam asbak kristal, menguarkan bau asap pekat yang masih lekat tertinggal meskipun jendela sudah dibuka lebar-lebar. Juna menyudahi acara merokok saat memeriksa isi dua bungkus rokok filter di meja sudah habis tak bersisa. Tak lama pintunya diketuk dan ternyata Pandu yang masuk.
"Urusan rumah sakit sudah selesai?" tanya Juna langsung.
"Sudah, Pak. Pihak rumah sakit menyampaikan, Bu Ningrum masih harus dirawat sekitar beberapa waktu ke depan. Seharusnya beliau sudah bisa pulang dua minggu yang lalu. Hanya saja karena kondisinya sempat menurun drastis, pihak rumah sakit menyarankan memperpanjang waktu perawatan," jelas Pandu panjang lebar.
"Oke, aku mengerti."
"Maaf, Pak. Satu lagi. Ada titipan untuk Bu Anggi dari rumah sakit. Saat saya mengurus pembayaran, karyawan bagian administrasi menyerahkan ini untuk diberikan kepada istri Anda."
Pandu menaruh kantung plastik putih ke atas meja kebesaran Juna. Seringnya Anggi juga keluarga Juna berkunjung ke rumah sakit, beberapa karyawan di sana sudah sudah sangat hafal dengan sosok mereka terutama bagian administrasi dan apotek.
"Untuk Anggi?" Juna mengerutkan kening saat pandangannya jatuh pada benda yang ditaruh Pandu.
__ADS_1
"Iya, Pak. Katanya ini obat serta vitamin milik Bu Anggi yang ditinggalkan begitu saja di bagian apotek rumah sakit. Mungkin Bu Anggi lupa. Alasan pihak apotek menitipkan di bagian administrasi karena Bu Anggi dan keluarganya lebih sering berkomunikasi dengan bagian pembayaran. Apakah Bu Anggi sakit, Pak?"
Juna makin tak mengerti, lalu menggeleng samar. "Tidak, Anggi tidak terlihat sakit," jawab Juna kebingungan sambil membuka bungkusan plastik putih tesebut.
Di dalamnya ada tiga macam yang sepertinya vitamin juga obat, serta selembar kartu yang setelah dibaca menunjukkan waktu jadwal kontrol selanjutnya. Juna memang tidak begitu paham tentang obat-obatan karena medis bukanlah bidangnya. Akan tetapi nama poli yang tertera di bagian luar kartu, Juna merasa cukup familiar walaupun tidak begitu yakin.
"Pandu, bukankah poli obgyn itu bahasa sederhananya poli kandungan?" Juna bertanya tanpa mengalihkan fokus dari tulisan yang ditatapnya.
"Iya, Pak. Poli kandungan." Pandu yang beberapa bulan ini rutin bolak-balik ke rumah sakit menjawab tanpa ragu. Dia sering memperhatikan setiap tulisan-tulisan jadwal dokter yang tertera di bagian depan rumah sakit yang sering terlewati olehnya.
Mungkinkah Anggi sedang hamil? Batinnya.
Tergesa, Juna memasukkan semua obat juga vitamin ke dalam kantung plastik serta menyambar kunci mobil. Pergi dari sana meninggalkan Pandu yang masih diliputi kebingungan.
Derap sol sepatu mahal Juna yang memasuki rumah, mengundang Bik Tiyas yang sedang sibuk di area belakang bergegas ke depan. Bik Tiyas sedikit keheranan karena hari ini tuannya pulang lebih awal.
__ADS_1
"Bik, di mana Anggi?" Juna bertanya tanpa berbasa-basi.
"Bu Anggi pergi setengah jam yang lalu, Pak. Katanya mau ke salon. Naik taksi, menolak diantar sopir," sahut Bik Tiyas sopan meskipun sedikit ketakutan.
Anggi tidak biasanya nekat bepergian tanpa diantar sopir terkecuali jika si sopir belum datang ke rumah seperti di pagi buta beberapa hari yang lalu. Juna sudah berpesan, bahwa Anggi dilarang berkeliaran sendirian tanpa diantar dengan alasan citra dirinya dan Bik Tiyas juga tahu akan peraturan itu.
Saat Juna hendak membuka mulut dan bertanya lagi pada Bik Tiyas. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, ternyata isinya adalah foto Anggi yang masuk ke sebuah klinik kecil yang tidak familiar. Disusul panggilan masuk kemudian.
"Ada apa?"
Si penelepon berkata panjang lebar. Juna mendengarkan dengan saksama dan mendadak saja dia terbelalak. Seperti orang gila, Juna berbalik badan berlari menuju garasi. Tancap gas mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa setelah mendengar kalimat si penelepon yang mengatakan.
Istri Anda sedang berada di klinik aborsi.
TBC
__ADS_1