
Istri Arjuna Bab 42b
“Titip istri dan anakku ya, Mi,” ucap Juna yang sudah rapi di pagi buta. Berdiri di teras menunggu Pandu selesai merapikan koper ke dalam bagasi sambil tak lupa memeriksa kembali dokumen kelengkapan yang akan dibawa.
“Bawelnya! Sudah berapa puluh kali kamu mengatakan hal serupa sejak semalam?” cerocos Marina gemas pada sang putra. “Berangkat dan bekerja lah dengan tenang, Juna. Selama kamu pergi ke luar negeri, Mami akan menemani Anggi di sini sampai kamu kembali. Jadi, buang juah-jauh rasa khawatir berlebihanmu itu.”
Memang benar, sejak semalam, Juna terus saja mengulangi rangkaian huruf yang sama berderai dari lisan membuat Marina hampir bosan mendengarnya.
“Semuanya sudah siap, Pak. Penerbangan kira-kira satu jam lagi, sebaiknya kita berangkat sekarang.” Pandu menunjukkan arloji yang dipakainya pada Juna, nada suaranya menyiratkan supaya bergegas.
Juna menghela napas panjang merasa berat hati untuk pergi. Ini memang bukan pertama kalinya dia bepergian jauh mengurus masalah pekerjaan. Namun, semenjak mengetahui kehadiran si buah hati, mendadak saja semuanya terasa berbeda. Apalagi situasinya dengan Anggi bisa dikatakan tidak seperti rumah tangga lainnya. Belum saling menaruh kepercayaan.
“Jangan pergi ke mana pun tanpa Mami selama aku tidak ada.” Juna kembali memperingatkan. Anggi mengangguk malas lantaran merasa jengah mendengar titah Juna yang bunyinya sama terus berdengung sejak kemarin.
“Iya,” jawabnya singkat. Sedari tadi Anggi lebih sering berekspresi datar, hanya sesekali tersenyum tipis.
__ADS_1
Tanpa diduga Juna membungkukkan tubuh jangkungnya, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di perut Anggi. “Papa pergi dulu, Baby. Jaga Mamamu untuk Papa, ingatkan dia supaya tidak nakal lagi,” cicit Juna dengan maksud tersirat.
Anggi melongo tanpa kata, ikut menunduk menyaksikan apa yang sedang dilakukan Juna. Bahkan saat Juna mencium pipinya pun, ia seperti orang kebingungan. Juna menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengusak puncak kepala Anggi gemas. Anggi tidak menepiskan tangan Juna seperti biasa efek dari serbuan manis yang membuatnya linglung seketika.
“Sudah waktunya, Pak.” Pandu kembali mengingatkan. Dia tahu sang bos sedang dilanda berat hati lantaran pergi tanpa bisa membawa Anggi ikut serta. Terlihat jelas dari sorot mata juga bahasa tubuhnya.
“Aku berangkat,” ucap Juna sambil mencium punggung tangan Marina dan tak lupa berpamitan pada Anggi.
“Iya, hati-hati di jalan,” jawab Marina seraya mengusap pundak sang putra.
“Tunggu!” serunya sambil menghampiri dengan langkah cepat membuat pergerakan Juna yang akan menutup pintu terhenti. Membeliak ngeri karena wanita yang sedang mengandung anaknya itu mengayunkan kaki setengah berlari.
“Kenapa lari-lari!" protes Juna tajam dengan dahi berkerut.
Anggi tampak ragu-ragu membuka mulut, meremat sisi keliman gaun rumahan yang dipakainya. Menatap Juna juga lantai garasi bergantian dan sesekali menggulirkan pandangan tak tentu arah.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Juna lagi.
“I-itu. Anu, aku … aku belum salim,” cicit Anggi polos sambil mengulurkan tangan kanannya, tetapi wajahnya berpaling ke arah berlawanan.
Juna tercengang untuk sesaat. Istrinya bertingkah tak seperti biasanya. Menelengkan kepala, Juna tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya. Tingkah Anggi saat ini tampak begitu lucu di matanya.
Diterimanya uluran tangan Anggi dan istrinya itu buru-buru mencium punggung tangannya, setelahnya melepaskan kembali secepat kilat.
“Hati-hati, Mas.” Anggi mengucapkan kalimat tersebut sambil menunduk sebelum kembali berderap ke teras.
Juna memaku tatapan pada dua wanita yang berdiri di teras saat mobil melaju meninggalkan garasi rumahnya. Dia melambaikan tangan melalui jendela mobil yang diturunkan kacanya.
Ribuan kupu-kupu seolah mengantarkan keberangkatannya pagi ini. Juna terusik rasa baru yang begitu menyenangkan utuk dicicipi, semakin makin lama semakin manis. Ingin mencecapnya lagi dan lagi tak mau berhenti.
Bersambung.
__ADS_1