Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 62a


__ADS_3

Istri Arjuna 62a


Senja mulai membias di ufuk barat. Tak begitu cerah, lantaran binar keemasannya terhalang separuh oleh awan abu-abu.


Di sebuah kamar yang jendelanya menghadap kolam renang, Juna duduk di kursi dengan kedua siku bertumpu di lutut sementara kedua telapak tangannya menangkup wajahnya sendiri.


"Mas," cicit Anggi yang kini berdiri di hadapan suaminya. Merapatkan diri, memeluk kepala Juna mengelusnya lembut.


Juna mendongak. Bola matanya bergulir menyelami tatapan Anggi yang menunduk padanya. Menelisik dalam, seolah sorotnya bertanya.


Apa yang harus kulakukan.


"Aku ikut prihatin dengan kondisi Mbak Rani. Ternyata dia menyimpan beban berat yang berusaha dipendamnya seorang diri dan imbas buruknya membentuk dirinya menjadi pribadi yang sulit mengontrol emosi."


"Aku pun begitu. Prihatin akan fakta yang disembunyikan Mbak Rani bertahun-tahun. Tapi dia masih belum minta maaf sama kamu. Beban itu masih mengganjal rasanya. Sebagai suami aku merasa gagal memperjuangkan hak mu akan permohonan maaf dari kakakku sendiri," keluh Juna resah.


"Sudah, untuk sekarang sebaiknya jangan membahas tentang hal ini dulu. Berikan Mbak Rani waktu, pasti berat baginya memendam fakta divonis takkan pernah bisa mengandung. Sebagai sesama wanita, kenyataan semacam itu pasti amat sulit untuk diterima."

__ADS_1


Tadi, Dokter Lalita datang menyusul tak lama setelah Barata tiba. Dia menjelaskan segala sesuatunya tentang Maharani pada keluarganya. Dia menyatakan sudah saatnya keluarganya tahu meski Lalita sempat menjadi sasaran amukan Rani siang tadi.


Maharani divonis takkan bisa mengandung tepatnya dua tahun yang lalu. Bukan hanya satu dokter yang menyatakan, bahkan dua dokter lainnya. Tak ada seorang pun keluarga yang tahu karena Maharani memohon dengan sangat pada para dokter yang memeriksanya untuk tidak memberitahu siapa pun termasuk Barata.


Namun, Maharani tak mau menerima fakta itu begitu saja kendati dokter menyatakan tidak ada terapi yang bisa mengatasi, bahkan dengan operasi sekali pun. Dia memaksa Lalita untuk memberinya terapi hormon secara berkala dan dengan keras kepala meyakini bahwa suatu saat akan mengandung jika terapi tersebut terus dilakukan.


Lalita sempat menolak karena efek samping dari terapi tersebut biasanya akan berefek pada mood yang mudah memburuk. Dan khusus untuk kondisi Rani yang memang tak ada harapan, jika terus dilakukan dalam jangka panjang, khawatir malah membuatnya depresi. Untuk itulah, Lalita akhirnya membeberkan semua pada keluarga Maharani sekarang. Tak ingin kondisi psikis Maharani kian terganggu.


Lalita terus menjelaskan. Tak peduli saat Maharani berteriak padanya untuk menutup mulut. Demi kebaikan Maharani dia melakukannya, tidak ingin mental temannya itu memburuk lebih dalam lagi. Karena Maharani sulit dihentikan. Berharap jika seluruh keluarga tahu, bisa menguatkan dan membujuk serta memberi pengertian. Bahwa yang dilakukannya selama ini hanya akan terus menyakiti dirinya sendiri juga orang-orang di sekitarnya.


"Sebaiknya untuk sekarang kita pulang. Biarkan Mbak Rani menjernihkan pikiran dulu. Berikan dia dukungan dengan memberinya waktu. Aku sudah ikhlas kok Mas, walaupun Mbak Rani tak meminta maaf secara gamblang," ucap Anggi sambil terus membelai rambut Juna.


Anggi mengangguk. "Hmm, aku paham maksud Mas. Bagaimana kalau sekarang kita bersiap. Bukannya enggak betah di sini, tapi Aku sudah rindu kasur di rumah. Seempuk dan semahal apa pun ranjang yang lain, tetap yang di rumah yang rasanya paling nyaman."


"Lebih nyaman dipakai mendesah bukan?" ucap Juna tak risih sedikit pun seraya menaikkan alisnya penuh arti disusul kekehan pelan.


"Ish. Mesum!" seru Anggi jengkel. Menghentikan usapan telapak tangannya dan berniat menjauhkan diri, tetapi kalah cepat karena Juna langsung merangkul dan mengeratkan lingkaran kedua lengannya di pinggang Anggi.

__ADS_1


"Sebaiknya begitu. Sudah terlalu lama aku meninggalkan pekerjaan, hampir seminggu. Aku juga kangen kasur kita. Kangen rintihan merdu dan eranganmu, Mama baby," imbuhnya dengan ekspresi nakal dan jahil yang direspons Anggi dengan tinju kencang di bahunya.


Sementara itu di kediaman ibunya Anggi. Suasana mencekam menyesakki seluruh ruangan.


"Apa ini, apa maksudnya ini, Ayu?" Ningrum memegang sebuah benda di tangan yang ditemukannya di dalam tempat sampah di kamar anak sulungnya. Tangannya gemetar. Sorot matanya kecewa.


Ayu yang baru selesai mandi memucat. Bergeming di ambang pintu kamarnya. "I-Ibu. I-itu."


"Apa yang sudah kamu lakukan di luar sana Masayu! Kamu tega mengecewakan ibu seperti ini!" jerit Ningrum syok sambil berpegangan pada sisi kusen.


"Ibu, i-itu enggak seperti yang ibu pikirkan!" sanggahnya dengan bibir bergetar.


"Jadi, rupanya ini penyebab akhir-akhir ini kamu sering sakit mual dan muntah? Siapa ayahnya? Katakan! Dengan siapa kamu berbuat hina hingga membuahkan janin dalam rahimmu, Masayu!" teriak Ningrum murka, berurai air mata. "Teganya kamu mencoreng kehormatanmu juga Ibumu ini!"


Ayu langsung berlutut memeluk kaki ibunya. "Ampun, Bu. Ampun. Aku juga tidak tahu siapa ayahnya," jawabnya sembari menangis sesenggukan.


Mendengar jawaban Ayu, Ningrum limbung tiba-tiba. Wanita paruh baya yang memang tidak sehat sepenuhnya itu, ambruk di lantai. Pingsan tak sadarkan diri seketika.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2