
Istri Arjuna Bab 72a
Setelah beberapa kali Juna bertemu langsung dengan pihak berwajib dan menjelaskan alasan permintaannya, akhirnya izin pun di dapat. Ayu diperbolehkan untuk dibawa melihat makam ibunya setelah nanti vonis ditetapkan. Sekitar di penghujung bulan.
Anggi hanya bisa sabar menunggu sampai waktu itu tiba. Kendati izin didapat dengan menerapkan berbagai persyaratan ketat, Anggi bersyukur polisi bersedia memberi sedikit kelonggaran
Ia kerap kali merasa tak tenang sebelum membawa kakaknya langsung melihat makam ibu mereka. Ibunya mungkin bersedih di sana karena anak sulungnya belum mengunjungi peristirahatan terakhirnya.
Waktu yang dinanti pun tiba. Ayu divonis 18 bulan kurungan. Rasa sedih tentu saja dirasakan hati lembut Anggi, tetapi kesalahan tetap memiliki harga yang harus dibayar. Anggi berharap, di masa kurungan ini, kakaknya bisa menelaah semua kesalahan, introspeksi diri dan mau memperbaiki diri demi anak yang dikandungnya.
Izin yang dijanjikan pun dipenuhi polisi keesokan harinya. Ayu diperbolehkan melihat makam ibunya dengan dikawal penjagaan ketat hanya dua jam saja.
Mobil khusus yang membawa Ayu dari lapas dengan pengawalan ketat polisi mengikuti mobil yang ditumpangi Juna dan Anggi. Melaju beriringan memandu jalan menuju pemakaman di daerah Tanah Kusir.
Mobil berhenti bersisian. Ayu dibawa turun dengan tangan diborgol juga dipegangi dua orang polisi. Anggi segera mendorong pintu tanpa menunggu Juna, turun lebih dulu dengan hati-hati sembari memegangi perutnya yang semakin membuncit.
__ADS_1
"Bagaimana kabar, Mbak?" sapa Anggi dengan ekspresi prihatin juga terselip rasa tak tega melihat kakaknya dengan tangan terborgol, juga tampak lebih kurus setelah hampir satu bulan lebih tak bertemu.
Ayu mendelik, menghunuskan tatapan tajam bukannya menjawab sapaan sang adik. Sifat keras kepala dan semaunya sendiri masih kental membelit.
"Aku menitipkan satu keranjang besar berisi susu hamil, vitamin, tablet mual muntah dan makanan kecil bernutrisi pada pihak lapas. Cukup untuk satu bulan. Akan kukirimkan setiap satu bulan sekali," ucap Anggi lagi.
Ayu berdecih. "Cih, enggak usah sok peduli! Kalau kamu betul peduli, seharusnya kamu minta uang yang banyak pada suami kayamu itu untuk membebaskanku, bukan malah membiarkanku dipenjara!" desisnya tajam.
Anggi sudah memperkirakan respons ini sebelumnya. Kendati begitu ia tak bisa membuang sapaan tanpa menyapa seolah tak saling kenal. Seburuk apa pun, bagi Anggi, Ayu tetaplah kakaknya.
"Bagaimana kandungan Mbak?" tanyanya lagi.
Juna menghela Anggi merapat padanya supaya jangan berdiri terlalu dekat dengan Ayu. Khawatir kakak iparnya itu kalap dan mendorong Anggi. Meski kedua tangan Ayu terborgol, tetap saja dia harus waspada, memastikan anak dan istrinya aman selamat.
"Kami ke sini memang hendak memenuhi permintaan Mbak Ayu yang ingin bertemu ibu. Sebaiknya kita bersegera, jangan membuang waktu. Tinggal satu jam tiga puluh menit waktu tersisa yang disepakati dengan polisi."
__ADS_1
Juna ikut angkat bicara. Dia tidak sesabar Anggi, jujur saja dia jengkel dengan sikap Ayu yang ternyata masih sama keras kepala bahkan lebih parah, hanya saja sekarang Juna lebih pandai mengolah emosi setelah sering bicara dari hati ke hati dengan wanita tercintanya.
"Apa ibu sedang berkunjung ke makam bapak?" tanya Ayu lagi. Masih tak percaya dengan kabar ibunya yang telah berpulang.
"Ayo, Mbak, kita temui ibu." Anggi menyahuti dengan ajakan. Berjalan masuk ke area pemakaman digandeng Juna, bersama Lina yang juga ikut mengekori membawakan keranjang bunga.
Polisi menggiring Ayu masuk. Dia mengedarkan pandangan mencari-cari Ningrum. Ingin segera bertemu dan memaksakan keinginannya seperti yang sudah-sudah. Ingin segera terbebas dari jeratan yang membelitnya dengan misi utama setelah terbebas ialah melenyapkan bayi yang bersemayam di rahimnya.
Anggi dan Juna berhenti di sebuah makam yang di atasnya dipenuhi taburan bunga paling banyak. Anggi bersimpuh di sana. Memeluk pusara dengan mata terpejam, lalu mengambil alih keranjang bunga dari tangan Lina dan menaburkannya, sementara Ayu terus celingukan merotasikan matanya ke sana kemari.
"Ibu, aku datang membawa Mbak Ayu." Anggi berkata lirih dan Ayu yang asalnya sibuk mengedarkan pandangan ke sekitar menurunkan pandangan.
Anggi menoleh, sedikit menengadah. "Mbak, ibu ada di sini," ucap Anggi dengan bola mata mengkilap mulai terhalang tirai air mata.
Ayu mengeja huruf yang tertera pada pusara, lalu matanya beralih pada gundukan tanah yang dipenuhi bunga, kemudian kembali menatap adiknya.
__ADS_1
"Sapa lah, ibu pasti sudah lama menunggu Mbak berkunjung."
Bersambung