Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 81 b


__ADS_3

BAB 81b


Hari perkiraan lahir bayi yang dikandung Ayu semakin dekat. Dokter terbaik yang mumpuni dalam hal kandungan juga kejiwaan ditunjuk oleh Anggi maupun Maharani dalam penanganannya, mengingat mental Ayu terganggu tidak seperti ibu hamil lainnya, baik selama kehamilan juga untuk momen persalinan nanti.


Siang ini Anggi dikabari lebih awal untuk datang ke rumah sakit bersalin yang sudah bekerjasama dengan pihak RSJ padahal seingatnya hari persalinan masih dua hari mendatang. Mengabari bahwa kondisi Ayu drop sejak semalam. Tak mau makan dan hanya menangis.


Anggi ikut mengabari Maharani. Mereka akhirnya berangkat diantar Pak Oman juga membawa serta baby siter. Anggi yang belum begitu pulih pasca operasi sesar masih butuh bantuan dalam mengurus bayi dan belum boleh terlampau lelah, mengingat Brama merupakan jenis bayi yang sangat manja yang kerap rewel jika berjauhan dengan mamanya, sehingga Anggi tidak tega jika harus meninggalkan bayi lucunya bersama baby siter di rumah.


"Sini, biar Brama Mbak yang gendong, kamu belum boleh terlalu memforsir tenaga. Apalagi si tampan ini pasti berat, lihat saja pipinya yang gendut berisi ini. Ughh, lucunya," pinta Maharani yang kemudian menciumi Brama gemas.


Mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit menuju kamar perawatan Ayu. Di depan pintu, dokter sudah menunggu. Tak berbasa-basi, dokter menjelaskan kondisi fisik dan fungsi organ Ayu yang memang menurun dan sejak kemarin semakin drop saja. Kadar hemoglobin pun rendah, tetapi kondisi bayinya masih bisa dikatakan sehat untuk saat ini, entah besok bagaimana.


"Dia juga tidak mau makan, terus saja berbaring miring dan sesekali menangis."

__ADS_1


Baik Anggi maupun Maharani keduanya saling pandang. Anggi memilih masuk ke dalam ruang perawatan, sementara Maharani berbincang dengan dokter meminta keterangan lebih detil.


Tubuh kurus Ayu meringkuk miring di atas ranjang. Membelakangi arah Anggi masuk. Kakaknya sungguh tampak memprihatinkan. Menyusut air mata di ujung pelupuk, Anggi menguatkan diri untuk tidak menangis.


"Mbak Ayu," sapanya lembut. Duduk di tepi ranjang di tempat Ayu berbaring. "Ini aku, Anggita."


Perlahan, Ayu membalikkan badannya. Menoleh dan mengukir senyum begitu melihat Anggi. Satu-satunya orang yang masih dikenali Ayu dengan benar setelah kewarasannya terganggu.


Anggi merapikan rambut Ayu, mengaitkannya ke belakang telinga dengan mata berkaca-kaca. Ingatan Ayu memang terjebak di masa kecil mereka sejak dinyatakan mentalnya terganggu.


"Iya, aku lagi istirahat, jadi bisa ke sini," jawab Anggi dengan suara tercekat. "Pak guru dan Bu guru bilang, Mbak Ayu gak mau makan? Terus kenapa nangis?" Pak guru yang dimaksud Anggi di sini adalah dokter dan perawat.


"Mbak nangis karena kata bapak Mbak gak bener jagain kamu, jadinya kamu dinakalin si Ramdan. Terus Mbak gak mau makan soalnya makanannya cuma ada satu porsi. Mbak nunggu kamu, Mbak gak bisa makan kalau kamu belum makan. Kita bagi dua aja ya?" Ayu menunjuk nampan berisi menu lengkap makan siang membuat Anggi harus mati-matian menahan diri untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Ayo, kita makan," sahut Anggi parau. Amat sedih melihat Ayu semakin kurus dengan mata cekung, hanya bagian perutnya saja yang tampak kontras.


"Tapi, kata ibu, Mbak gak boleh banyak makan. Sejak kemarin Ibu bilang, beberapa hari lagi mau ngajak Mbak pergi jauh ke hajatan saudara. Nanti mabuk perjalanan dan muntah-muntah kalau banyak makan. Ibu juga buatkan baju baru buat Mbak, mirip seperti baju baru ibu. Warnanya putih, cantik sekali. Tapi baju kamu kata ibu belum jadi, masih lama, jadi kamu enggak diajak kali ini."


Anggi terkesiap. Buliran bening yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh sudah. Ayu mengusap air mata Anggi.


"Kamu jangan nangis, Mbak minta maaf bikin kamu nangis. Kamu pingin baju baru juga ya? Tapi kata ibu, baju buat kamu jauh lebih cantik daripada punya kami, makanya masih lama selesainya. Pasti punya kamu spesial, secantik kamu, adik Mbak yang paling cantik," tuturnya, mengulas senyum polos lemah di wajah tirusnya.


Anggi memeluk sang Kakak begitu erat. Menangis tersedu tak terbendung. Ayu menepuk-nepuk punggung sang adik, mengelusnya lembut sembari membisikkan kata menghibur.


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2