Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 21b


__ADS_3

BAB 21b


Kunyahan Anggi terhenti. Daging yang belum ***** sempurna ditelannya bulat-bulat begitu mendengar pria di sebelahnya menggumamkan nama Viona. Nama yang menghantam jiwanya hingga memar di mana-mana sejak pertama kali Juna meledak dalam dirinya.


Garpu dan pisau yang dipegang Juna luruh begitu saja dari genggaman. Berdenting nyaring begitu mendarat di atas piring. Dia perlahan berdiri juga diikuti Anggi.


"Juna ...."


Viona yang digandeng Bima dengan Bisma dalam gendongan, mempercepat langkah menghampiri tempat Juna berdiri.


"Vi-Vio," sapa Juna tergagap lantaran tercekat di tenggorokan.


"Apa kabarmu, Juna." Bima tersenyum dan menyapa ramah sambil mengulurkan tangan.


"Kabarku baik," jawab Juna sembari mengulas senyum dipaksakan.

__ADS_1


"Kabarmu gimana, Vi?" Sosok Viona ternyata masih menggetarkan sudut hatinya meskipun tidak sedahsyat dulu. Masih mampu membuat sekujur tubuhnya melemah efek bertemu si cinta pertama.


"Kabarku sangat baik. Enggak nyangka ketemu kamu juga di sini. Datang ke sini sama siapa?" Viona bertanya sambil menyapu pandangan.


"A-aku datang bersama istriku." Juna menjawab pelan dan baru teringat ada Anggi bersamanya.


Anggi mengangguk sopan, mengulas senyum sambil mengamati Viona juga Bima. Dari bahasa tubuh, jelas kentara pasangan yang baru datang ini saling mencinta. Terutama sorot mata si pria, amat memuja wanita yang sedang menggendong bayi itu.


"Jadi ini istrimu? Hey, kenapa tidak dikenalkan padaku?" Viona melayangkan protes pada Arjuna, menyerahkan Bisma pada sang suami dan beralih menyapa Anggi.


Anggi menerima uluran tangan Viona. Di benaknya berlalu lalang. Mungkinkah ini Viona yang sering diteriakkan Juna ketika menggaulinya? Anggi hampir melupakan nama itu sebab tadi sore Juna mendesahkan namanya saat meraih kenikmatan. Membuat benteng hatinya mulai berlubang.


"Iya, Nyonya. Saya Anggita." Sungkan Anggi menjawab, tetapi keramahan Viona sedikit mengurangi kecanggungan itu.


"Pantas saja Juna sering memborong pakaian di butikku kalau berkunjung ke Bandung. Ternyata istrinya cantik, bodynya kayak model. Mau pakai baju apa pun pasti cocok," ucap Viona jujur. "Aku jadi ingin merancang satu yang spesial buat kamu, sebagai hadiah pernikahan."

__ADS_1


"Anda terlalu memuji, Nyonya," cicit Anggi tampak rikuh. Wanita bernama Viona ini begitu berkelas. Akan tetapi, jauh dari kata sombong.


"Panggil Mbak Viona saja. Biar lebih akrab. Kamu pasti lebih muda dari Juna kan? Hei, beruntungnya kamu dapat daun muda, Jun!" Viona menepuk pundak Juna seraya terkekeh. "Iya kan, Mas?" Viona beralih pada Bima yang mengayun-ayun si bayi gembul direngkuhan lengannya.


"Sudah pasti. Karena aku juga sukanya daun muda, yang kayak kamu." Bima mencubit hidung Viona mesra, membuat Anggi mengulum senyum tanpa sadar melihat adegan mesra Bima dan Viona, sementara Juna sejak tadi hanya diam, seolah lidahnya kelu.


"Oh iya, kenalkan, ini Mas Bima, suamiku." Viona mengenalkan Bima dengan bangga pada Anggi.


"Halo Pak Bima, senang bertemu dengan Anda," sapa Anggi sopan.


"Sebelum kembali ke Jakarta, datanglah ke rumah kami. Kita makan siang bersama. Mumpung lagi di Bandung. Kami tunggu ya, Juna, Anggi." Bima menepuk-nepuk pundak Juna sekilas.


"I-iya, nanti kuusahakan mampir." Juna sedikit tersentak, wajahnya yang tadi semringah kini digelayuti mendung dan perubahan air muka Juna tak luput dari perhatian Anggi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2