
Istri Arjuna Bab 48b
Sekitar tujuh belas jam lebih penerbangan ditempuh Arjuna untuk kembali ke Jakarta. Beruntung jeda transit di Bandara Changi Singapura tidak terlalu molor. Hanya memakan waktu transit sekitar satu jam saja.
Dalam kurun waktu yang bahkan belum genap mencapai sehari semalam itu Juna duduk tak tenang dalam pesawat. Baginya terasa seperti bertahun-tahun dan seperti biasa Pandu lah yang harus menjadi penampungan kerewelannya.
Bukan hanya angka gaji yang mencapai tiga kali lipat dari tempat lainnya yang membuat Pandu bertahan di sisi Juna, tetapi juga karena Juna merupakan sosok yang sangat dihormatinya.
Saat kuliah dulu Pandu adalah adik kelas Juna, dan ketika Pandu yang polos dijahili para senior yang merupakan anak-anak pejabat juga pengusaha, satu-satunya orang berpengaruh yang selalu membelanya adalah Arjuna, satu-satunya sosok yang peduli padanya. Sejak saat itulah kesetiaan Pandu terpatri. Sisi baik Juna selalu membekas di hati terlepas dari sifat keras kepalanya. Begitulah manusia, tidak ada yang sempurna.
Pukul sembilan malam Waktu Indonesia Barat, Juna akhirnya sampai di kediamannya. Ada debar tak biasa begitu melihat gerbang pagar rumahnya dibuka. Lelah yang melanda luruh berjatuhan, berganti degup jantungnya yang melompat-lompat senang.
Tak pernah ada kesan spesial setiap kali dirinya pulang dan memijakkan kaki di rumah. Namun, kali ini berbeda, ada kerinduan terbaca hati dan pikiran yang menyertai kepulangannya. Bukan hanya sekadar pulang ke rumah, tetapi pulang dalam artian yang sebenarnya. Pulang pada si pemilik sekeping hati yang entah sejak kapan telah tertawan.
Menarik dan membuang napas dilakukannya berulang di depan pintu. Juna begitu gugup seperti anak remaja yang hendak menyatakan cinta untuk pertama kalinya. Tangan kanannya bersegera mendorong pintu depan setelah menarik napas panjang, sementara tangan kirinya memeluk erat sebuket Bunga Mawar Merah yang dibelinya di perjalanan pulang tadi. Bunga pertama yang dibelikannya untuk wanita yang menjadi istrinya.
Mengucap salam cukup kencang, Juna berderap masuk dengan langkah ringan yang begitu gembira menuju ruang tengah. Wajah tampannya yang kuyu karena lelah tetap semringah berlumur senyum. Bersama untaian nama pertama yang dipanggilnya, nama si pencuri hati juga ibu dari anaknya. Ingin memberi kejutan dengan sengaja pulang tanpa memberi kabar.
__ADS_1
"Anggita," panggilnya lembut mendayu.
Tak ada sahutan. Rumah tampak lengang. Sepi seolah tak berpenghuni.
"Anggita," panggilnya lagi.
Masih tidak ada jawaban yang membalas panggilannya. Sejak masuk pun tak ada yang menyambutnya, baik itu Bik Tiyas maupun Lina terlebih lagi sang istri.
Bukankah ibu beserta kakak dan iparnya juga sedang berada di sini? Tetapi, tidak ada seorang pun dari mereka terlihat batang hidungnya. Mengabaikan tentang yang lain, Juna naik ke lantai dua berlari kecil menuju kamarnya. Fokusnya saat ini adalah ingin segera melihat wajah cantik Anggi yang telah menyiksanya dengan rasa rindu mengguyur kalbu.
"Anggita, Anggi. Aku pulang. Mama baby."
Bunyi resleting dari ruang ganti menyambangi pendengaran Juna. Tertarik dengan hal itu, dia berbelok ke arah ruang ganti dan mendapati Lina sedang membenahi beberapa barang ke dalam tas jinjing sambil sesekali menyusut sudut mata.
"Sedang apa kamu si sini di jam begini?" tegur Juna sengit. Para pekerja di rumahnya tidak ada yang berani lancang masuk ke ruangan pribadinya dengan Anggi terkecuali untuk melakukan tugas-tugas yang semestinya, hanya saja jam segini bukanlah waktu yang tepat untuk berbenah.
Lina terlonjak dua langkah ke belakang, bukannya menjawab, Lina malah bungkam akibat terkejut dengan kemunculan sang tuan yang tiba-tiba. Lina malah terisak sekarang bertepatan dengan suara Bik Tiyas yang memanggil dari luar pintu.
__ADS_1
"Lina, sudah selesai belum? Sebaiknya kita berangkat sekarang."
Bik Tiyas ikut terperanjat saat menyusul masuk ke ruang ganti. Arjuna sudah ada di sana menatapnya juga Lina bergantian.
"Hal apa yang membuat kalian lancang masuk ke kamarku di jam-jam segini!" seru Juna tak suka. "Juga di mana Anggi?"
"Pak, kami benar-benar minta maaf karena sudah lancang. Tapi Mami Anda yang meminta untuk membawa beberapa keperluan rawat inap," sahut Bik Tiyas dengan wajah pucat menyiratkan sesuatu. "Dan tentang Bu Anggi_" ucapannya tersendat tampak berat melanjutkan.
"Mami yang meminta?" Juna mengerutkan kening tak paham. "Lalu, di mana Anggi?" desaknya tak sabaran.
"Bu Anggi ... Bu Anggi dilarikan ke Rumah Sakit Satya Medika satu jam lalu. Dia terjatuh di acara undangan makan malam salah satu rekan Mami Anda, Pak. Dan sekarang kondisinya juga bayinya dalam keadaan darurat," jawab Bik Tiyas dengan suara tercekat."
Juna merasa kepalanya berputar-putar, sedang mencerna ucapan Bik Tiyas yang terasa serupa hantaman batu besar yang dijatuhkan tepat di rongga dadanya.
Anggi, rumah sakit, bayinya semuanya berkecamuk dalam benak hingga akhirnya matanya membulat sempurna diiringi dengan buket Bunga yang terjatuh ke lantai. Seperti orang gila, Juna melesat berlari hampir menabrak Bik Tiyas, bersama sukmanya yang berteriak memanggil satu nama
"Anggita...."
__ADS_1
Bersambung.