
Istri Arjuna Bab 48a
Kalang kabut. Begitulah yang terjadi pada Pandu ketika sang bos memberi titah seenak jidat tanpa peduli bahwa malam kian larut. Perintah yang tidak menerima bantahan walau secuil.
Si pemuda berkacamata itu dibuat kelabakan. Mengabaikan lelah serta rasa kesal yang bercokol ingin menyumpahi sang bos, Pandu tidak membuang-buang waktu, langsung bergerak cepat melaksanakan perintah.
Selain harus mencarikan jadwal penerbangan tercepat yang tidak mudah mengingat rute perjalanan termasuk dalam kategori jarak cukup jauh, Pandu juga harus menjelaskan dan memberi alasan kepada panitia penyelenggara terkait keinginan mendadak bosnya yang meminta kembali pulang lebih dulu di saat agenda masih dua hari tersisa.
Meskipun dua hari ke depan bukanlah agenda penting, tetapi tetap saja berpamitan dan memberi alasan jelas mutlak diperlukan. Sebagai adab tata krama, juga agar panitia tidak kelimpungan jika nantinya mendapati dua peserta kunjungan mendadak hilang.
Juna termenung di saat Pandu sibuk ke sana kemari. Berdiri menghadap kaca besar di kamar hotelnya dengan kedua tangan masuk di saku celana.
__ADS_1
Dia sedang menelaah satu-persatu kecamuk di benaknya. Seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencengkeram si segumpal daging penyelam rasa di balik rongga tubuhnya, menancapkan kuku-kuku tajamnya hingga merobek dan mengoyak egonya.
Anggita Jelita. Tasbih nama itu kini kian menggaung dalam kalbu, meluap menggebu-gebu, setelah sang hati tertatih-tatih mengais kepingan keliru juga rindu.
"Pak, penerbangan tercepat yang bisa saya dapatkan sekitar dua jam terbang dari sekarang." Pandu langsung masuk dan melapor tanpa mengetuk, tak peduli jika Juna murka. Yang jelas saat ini dirinya diburu waktu akibat ulah sang bos juga.
"Kau pikir aku sesabar itu, huh?" decak Juna tak puas. Menoleh disusul lirikan mata berkilat tajam mengalahkan ketajaman silet, membuat Pandu cukup terperanjat kendati sudah sering mendapatkan tatapan serupa.
"Ini sudah yang tercepat, Pak. Itu pun saya dapatkan karena kebetulan ada tiga penumpang yang membatalkan penerbangan mereka. Harga tiketnya pun lebih mahal dari biasanya mengingat kita memesan mendadak, sehingga terkena charge close in booking free," jelas Pandu dengan tetap mengontrol nada bicaranya yang terdengar hampir menangis karena kesal. Mengikat kuat rasa geram yang menendang-nendang di dalam sana agar tidak menyembur keluar.
"Aku tak peduli dengan harganya. Sepuluh kali lipat pun bayar saja! Pokoknya carikan yang lebih cepat!"
__ADS_1
"Tidak bisa, Pak. Saya sudah mengerahkan seluruh kemampuan serta informasi. Jika tidak mengambil penerbangan ini, jadwal tercepat lainnya adalah esok pagi pukul lima."
Juna mendengus kesal seraya mengusap wajahnya sendiri. Terdiam sejenak kemudian kembali berkata, "Baiklah, kita ambil yang dua jam ke depan."
Pandu menurunkan bahu sambil membuang napas. Merasa sedikit lega saat sang bos menyetujui sehingga usahanya pontang-panting hingga menjelang tengah malam tidak sia-sia
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya akan mengepak koper di kamar saya. Permisi." Pandu hendak undur diri, akan tetapi langkah kakinya terhenti kala perintah lain meluncur lugas dari mulut sang bos yang dijulukinya "bos darting'.
"Enak saja main pergi. Kemasi dulu semua barang-barangku! Setelah itu barulah mengemasi kopermu sendiri. Aku tidak berbakat dalam mengemasi koper, membuatku sakit kepala saat melakukannya. Kutunggu di lobi hotel dalam tiga puluh menit. Dilarang melewati batas waktu yang kuberikan. Kamu pasti tahu aku paling benci menunggu lama," titah Juna enteng. Melenggang keluar sambil memijat pelipis. Sedangkan ekspresi Pandu sudah mirip banteng betina yang siap menubruk apa pun yang ada di hadapannya.
TBC
__ADS_1