Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 78 b


__ADS_3

Istri Arjuna bab 78b


Penuh sukacita, Marina menyambut kedatangan Anggi dan Juna. Rona gembira terukir jelas di wajahnya. Semula, mereka hendak menempati vila pribadi selama rencana tinggal di Bali. Akan tetapi, Marina meminta dengan sangat supaya keduanya tinggal di kediamannya saja.


Juna belum lah berpengalaman, baru seorang calon papa, belum hafal seluk beluk tentang wanita hamil yang sudah mendekati masa persalinan, tidak seperti Marina yang sudah jelas berpengalaman dan tahu lebih banyak.


“Tinggal di sini saja. Jangan khawatir privasi kemesraan kalian terganggu, area bangunan sebelah timur rumah ini sudah Mami siapkan dan rapikan untuk kalian selama tinggal di sini,” jelas Marina penuh pengertian.


Marina sangat paham bahwa Anggi dan Juna terutama sang putra, sedang dalam masa-masa penuh gelora membara dimabuk cinta. Sangat kentara dari gesture juga dari bagaimana posesifnya Juna, tak mau berjauhan dari istrinya yang sedang mengandung si buah hati barang sebentar saja.


“Mami memang yang terbaik, sangat pengertian. Iya kan, Sayang?” Juna merangkul Anggi yang duduk di sebelahnya. Tertawa senang dengan kilat penuh arti di mata pada Marina, sedangkan Anggi sibuk menunduk lantaran wajahnya memanas dan pasti sudah sepenuhnya memerah sekarang.


“Tentu saja, Mami juga pernah muda.” Marina terkekeh pelan.


“Maafkan Mami yang justru meminta kalian datang, seharusnya Mami dan Papi yang terbang ke Jakarta. Tapi, kondisi kesehatan Papi sedang tidak memungkinkan untuk menempuh perjalanan jauh juga naik pesawat dalam beberapa waktu ke depan, sesuai maklumat dokter yang memeriksa, perihal permasalah jantungnya yang baru selesai dipasang ring. Sementara Mami dan Papi sangat ingin menunggui kelahiran juga merawat cucu pertama kami, tak ingin melewatkan momen berharga semacam ini. Mami sangat bersyukur, kalian ada di sini sekarang. Selain Mami merasa tenang bisa memantau masa-masa persalinan Anggi serta bisa turut merawat bayi kalian nanti, juga kondisi Papi pasti akan lebih baik, kalau ikut menyaksikan kelahiran dan ikut merawat cucu yang dinanti.”


****

__ADS_1


Sore ini, Juna dan Anggi bergandengan tangan berjalan-jalan menyusuri pantai. Berjalan memijak pasir tanpa alas kaki. Sensasi telapak kaki telanjang yang menyentuh pasir basah sungguh lah menyenangkan. Debur ombak menerjang lembut ikut menyapu kaki mereka berdua, merendam, membasahi kemudian surut kembali.


“Ahh, ini menyenangkan,” cicit Anggi senang. Berhenti melangkah, memalingkan pandangan ke ufuk barat di mana cakrawala mulai menampilkan serat-serat jingga tipis. Lalu menengadah, memejamkan mata, menghirup dalam-dalam segarnya udara yang bertiup bercampur aroma asin laut.


“Akh, tapi aku lebih suka memelukmu di ruangan tertutup tanpa sehelai benang pun,” bisik Juna jahil ke telinga Anggi yang dibalas delikan sebal dari istri cantiknya yang sedang hamil itu.


“Ish, Aku ini sedang menikmati pemandangan indah. Mas jangan merusak suasana!” kesal Anggi yang kemudian mencubit kencang pinggang suami mesumnya itu membuat Juna tergelak.


“Tapi, bagiku tidak ada yang lebih indah daripada kamu. Apalagi tanpa pakaian,” ujar Juna, menelengkan kepala, sengaja menyeringai menjengkelkan.


“Dasar gombal plus mesum akut!” sahut Anggi sebal. Melepaskan tangannya yang digenggam Juna, berderap lebih dulu dengan wajah cemberut menggemaskan. Meninggalkan Juna sembari bersungut-sungut.


Anggi menghentikan ayunan kaki saat ocehan Juna tidak terdengar lagi. Berbalik badan, Anggi disajikan pemandangan yang membuat banteng betina dalam dirinya seketika bertanduk. Melihat suaminya dikerumuni segerombolan gadis muda yang sepertinya wisatawan pengunjung pantai. Anggi dapat menebak, usia mereka berada di kisaran angka di bawah dua puluh tahunan.


Para gadis yang memakai baju kurang bahan itu, terlihat meminta Juna mengambilkan foto mereka berlatarkan keindahan panorama laut, meminta tolong dengan bahasa tubuh jelas genit merayu.


Anggi berbalik arah mendekati dengan wajah cemberut. Ketika semakin mendekat, ia dibuat tercengang, saat mendengar kalimat tak terduga yang membuat hati juga telinganya panas dalam sekejap.

__ADS_1


“Kalau butuh sugar baby, kami siap Om,” ucap salah stau dari mereka, sebelum kemudian pergi cekikikan genit dan melambaikan tangan seolah memberi isyarat meminta dibelai.


“Puas tebar pesonanya, Pak?” ketus Anggi, bersedekap menghunuskan tatapan galak.


“Hey, siapa yang tebar pesona, Sayang. Para bocah itu hanya memintaku mengambilkan foto mereka,” jawab Juna santai lantaran di matanya para gadis tadi itu hanya lah bocah ingusan.


“Bocah? Yang benar saja! Bahkan salah satu dari mereka menawarkan diri dengan begitu mudahnya!” geram Anggi tak terima.


Suaminya ini memanglah bertambah seksi dan memikat saja di usinya yang semakin matang. Wajar saja banyak mata kaum hawa mudah terpesona. Selain tampan, aura pengusaha pria berduit begitu mengigit menguar terasa.


“Itu kan mereka yang bilang, bukan aku yang berkata demikian. Sepertinya Mama baby sedang cemburu?” goda Juna mengulum senyum, mencolek dagu Anggi.


“Ya, aku cemburu! Ada masalah? Bahkan aku ingin mencakar wajah mereka sekarang juga!” Tunjuknya pada gerombolan para gadis tadi yang masih melirik-lirik penuh minat pada Juna dari kejauhan. “Kita pulang!” seru Anggi marah, memutar arah menuju di mana mobil diparkirkan.


“Sayang, bukannya kamu lagi menikmati pemandangan? Kenapa pulang sekarang?” Juna mengoceh sambil terkekeh, merasa lucu dengan tingkah istrinya itu, dia berjalan mengekori Anggi yang menghentak-hentakkan kaki.


“Sudah gak minat tuh. Pokoknya aku mau pulang!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2