
Istri Arjuna bab 26b
Bik Tiyas beserta Lina mengintip dari ruang tengah. Tak berani masuk turut campur urusan privacy majikannya. Suara ribut tuan dan nyonyanya mengundang mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Jadi maksudnya, Bu Anggi sekarang lagi hamil dan mau digugurkan tanpa bilang ke Pak Juna begitu?” bisik Lina pelan bertanya pada Bik Tiyas.
“Aku juga tidak begitu paham Lina, dari yang tadi kita dengar memang begitulah adanya. Tapi yang aku cemaskan adalah nasib Bu Anggi setelah ini, apalagi sekarang dia sedang hamil. Semoga Pak Juna bisa lebih mengontrol emosi dan memperlakukannya lebih lembut.”
Sorot mata Bik Tiyas penuh kekhawatiran. Dia tidak tuli maupun buta. Sejak menikah, Juna memperlakukan Anggi bak tawanan. Baru beberapa waktu terakhir tampak normal layaknya suami istri dan menghangat meskipun ternyata tidak bertahan lama.
Terlebih lagi setiap kali tuannya pulang berbalut kemarahan terhadap istrinya, keesokan harinya Anggi sering tak kuasa turun dari tempat tidur bahkan terakhir kali hingga jatuh sakit dan sudah pasti semua itu penyebabnya adalah tuannya sendiri. Wanita paruh baya itu hanya bisa bisa berdo’a untuk keselamatan dan kesehatan sang nyonya dan berharap hati tuannya melembut. Bukan ranahnya untuk ikut campur meski terkadang sudut hatinya tak tega.
__ADS_1
Menggunakan telapak tangan, Anggi menyusut kasar wajah basahnya. Ia mencoba berdiri meskipun kakinya goyah. Kembali menyambung kalimat masih dalam sedu sedannya.
“Beri aku alasan. Kenapa aku harus mempertahankan janin ini? Dia hadir bukanlah buah dari cinta. Tapi dari hasrat yang Mas lampiaskan padaku berpadu pedih di hati yang aku rasakan setiap kali Mas meledak dalam diriku. Setiap kali Mas menyetubuhiku dan meneriakkan nama wanita lain, semua itu mencabik-cabik jiwaku hingga koyak tak berbentuk lagi! Mungkin bagimu aku hanyalah barang penebus, dianggap robot yang harus selalu patuh pada tuannya. Tapi ada yang Mas lupa, aku bukanlah benda mati, aku juga punya perasaan!” Anggi berteriak terbungkus pilu, tak dapat lagi membendung sebah di dada yang selama ini dipendamnya dalam diam.
Juna masih setiap menatap lantai. Enggan menyahuti.
“Apakah aku harus tetap mempertahankannya di saat ayah dari janin ini hanya menganggapku pemuas ranjang semata? Bukankah aku tidak ada artinya bagimu? Lantas kenapa Mas begitu marah? Jawab aku! Kenapa Mas diam saja. Beri aku alasan!” Anggi menekankan intonasi di setiap kata-katanya. Kali ini, sisi emosionalnya tak bersedia untuk berhenti. Meledak bak gunung meletus.
Dirinya terlalu larut dalam duka masa lalunya sendiri dan terlupa bahwasanya Anggi yang paling menderita di sini akibat keegoisannya. Merasa diri paling terluka dan tanpa sadar menorehkan luka lain kepada yang tak memiliki dosa.
“Tidak bisa menjawab bukan? Jadi jangan hentikan maupun menyalahkanku karena memiliki niat berbuat demikian! Penyebab anak ini tidak bisa kulahirkan ke dunia, semuanya kerenamu, Suamiku!” desis Anggi menusuk.
__ADS_1
Anggi menyambar tas selempang yang tergeletak di lantai, kemudian mengayunkan kaki menuju pintu depan. Juna ikut bangkit, menyusul dan menarik lengan istrinya hingga langkahnya terhenti.
“Mau ke mana lagi kamu?” tanyanya dengan nada meninggi. Juna masih tak mampu mengontrol diri.
Anggi menepiskan kasar cekalan Juna di lengannya. Menatap dengan sorot penuh ironi dengan matanya yang sembap dan basah terhalang tirai air mata.
“Aku mau kembali ke tempat yang tadi. Jangan hentikan aku lagi!” semburnya berani. Rasa takutnya saat ini sedang menguap, berganti amarah berapi-api cerminan dari luka hatinya yang sudah terlampau dalam hingga berdarah di mana-mana.
Anggi berderap cepat. Saat kaki jenjangnya mencapai teras, tanpa aba-aba tubuhnya berayun dan melayang di udara. Rupanya Juna meraup tubuhnya dan memanggulnya di pundak. Membawanya naik ke lantai dua tak memedulikan teriakan Anggi yang menjerit-jerit meminta dilepaskan.
“Lepaskan! Lepaskan aku brengsek!” teriak Anggi berulang kali sembari memukuli punggung Juna membabi buta.
__ADS_1
TBC