Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 46a


__ADS_3

Istri Arjuna bab 46a


Makan malam berlangsung dalam keheningan. Tak ada kehangatan akibat Maharani menyulut api ketegangan di ruang makan beberapa saat lalu. Rasa iri yang dipeliharanya kian menjadi saat kini Anggi semakin mencuri perhatian kedua orang tuanya setelah diketahui mengandung. Ditambah lagi, dia menaruh benci lantaran pernah mendapati Bara mengamati Anggi dari jauh sewaktu pesta pernikahan walau hanya sebentar.


Barata memang benar pernah mengamati Anggi sekilas dengan tatapan kagum yang diartikan Maharani sebagai lirikan penuh minat.


Akan tetapi, bukan berarti Barata hilang akal dan lupa dengan posisinya. Wajar saja apabila saat melihat sosok Anggi kala menjadi mempelai dia terpana dan terpesona untuk sejenak, bukan hanya Barata yang terbius rupa jelita Anggi, tetapi berpasang-pasang mata pria lainnya. Seumpama para wanita bersuami yang terkagum-kagum dengan ketampanan aktor Korea Selatan maupun Turki. Hanya sebatas kekaguman saja secara impulsif, tidak lebih.


Anggi memiliki aura daya tarik yang teramat kuat sebagai seorang wanita, terutama bola mata sendunya yang berkilauan begitu hidup, seolah berbicara saat beradu pandang. Kendati tatapan Barata kala itu berlangsung singkat dan hanya sebatas kekaguman saja, Maharani yang keras kepala tetap bersikukuh pada asumsinya. Tidak menerima mendengar penjelasan, menurutnya hanya pendapatnya lah yang paling benar.


Marina dan Anggi bersantai di kursi taman selepas makan malam. Menikmati sejuknya semilir angin ditemani berbagai jenis tanaman Anglonema yang begitu cantik mengelilingi sekitaran tempat duduk. Sedangkan Barata dan Maharani langsung masuk ke kamar tamu dan sempat terdengar cekcok di dalam sana.

__ADS_1


“Diminum dulu susunya.” Marina menggeser gelas tinggi berisi susu itu lebih dekat pada sang menantu, segelas susu hamil hangat yang baru saja diantar Bik Tiyas.


Anggi meringis. Jujur saja ia tak suka aromanya, sedikit membuatnya mual, tetapi ia juga tak sampai hati menolak perhatian Marina. Anggi meraih gelas dan meminumnya sedikit saja.


“Lho, kenapa tidak dihabiskan?”


“Ini, Mi. Masih panas,” ujar Anggi. Padahal alasan sebenarnya bukanlah terletak pada suhu cairan isi gelas.


“Mami masih tidak menyangka, pada akhirnya kamu mengandung anak Arjuna. Terima kasih, Anggi,” ucap Marina tulus sambil menggenggam tangan kiri Anggi. Raut mukanya kentara amat penuh syukur, tercermin dari ukiran senyum yang terus tersungging.


Marina menggeleng pelan. “Tidak, sama sekali tidak biasa. Ini luar biasa. Maaf, karena Mami dan Papi pasti menempatkanmu dalam posisi sulit.” Marina berkata dengan suara tercekat juga tatapan sendu.

__ADS_1


“Kenapa minta maaf? Justru aku berterimakasih, karena keluarga Mami membantu masa-masa sulitku ketika berada di titik putus asa mencari biaya pengobatan ibu," sahut Anggi sambil balas menggenggam.


“Itu tak seberapa dengan kebahagian yang kamu bawa pada kami. Saat mendengar kamu hamil, Mami hampir tak percaya. Kehamilanmu merupakan anugerah bagi Mami dan Papi sebagai orang tua, bahagia tak terkira. Tak pernah menyangka Arjuna yang selalu terkungkung dalam cangkang masa lalu dan bersikukuh tak mau keluar dari sana, kini akan menjadi seorang ayah dengan memiliki keturunan darimu. Bahkan begitu khawatir dengan kondisi darah dagingnya."


“Maksud Mami?” Anggi keheranan seraya menegakkan punggung juga mengubah posisi duduknya.


“Apa kamu sudah tahu bahwa Arjuna pernah hampir bertunangan sebelum menerima perjodohannya denganmu?” tanya Marina hati-hati.


Anggi tercengang dengan mulut sedikit ternganga, matanya memicing karena terkejut. “Ti-tidak, Mi,” jawabnya terbata.


“Cerita ini memanglah bukan kisah yang indah untuk didengar. Lambat laun kamu pasti akan mengetahuinya. Daripada mendengar selentingan dari luar yang kebanyakan malah jadi melebar kemana-mana, lebih baik kamu mendengar dari Mami langsung. Maaf, Mami menginterogasi Bik Tiyas juga Lina tadi siang. Dan setelah mendengar keterangan mereka, Mami merasa harus bercerita padamu tentang masa lalu Arjuna yang membuatnya jadi seperti itu, juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, maaf telah menyeretmu dalam pusaran ini. Mungkin cerita ini akan terdengar seperti pembelaan seorang ibu terhadap anaknya. Mami tidak membenarkan sikap Juna, tapi Mami harap, kamu bersedia memaklumi walaupun permintaan ini pastilah terdengar egois.”

__ADS_1


Anggi mengerjap dan meneguk saliva. Meski tak yakin ia kembali bersuara setelah menarik napas panjang. “Ceritakanlah padaku, Mi. Aku ingin mendengarnya.”


Bersambung.


__ADS_2