
Istri Arjuna Bab 64a
Kaki Ayu mundur kembali saat melihat punggung Juna. Masih belum berani menemui Anggi juga adik iparnya. Kejadian menurunnya kondisi ibunya kali ini seluruhnya akibat ulahnya.
Dia menarik diri. Dengan tubuh lemasnya Ayu memilih menjauh. Belum siap diinterogasi oleh sang adik. Bersama ketakutan yang kian menyerbu tanpa ampun. Takut akan nasib dirinya ke depannya, takut akan kemungkinan terburuk kondisi ibunya, juga takut dengan keberlangsungan pundi-pundinya. Mengingat utang-utangnya pada teman-teman sepergaulannya kembali menumpuk.
Dia menjajakan diri karena tergerus pergaulan buruk demi memenuhi gaya hidup dan juga demi membayar utang bekas memanjakan keinginannya sendiri. Terlampau terlena, dia sejenak terlupa dengan keamanan dirinya sendiri, tak disangka akhirnya dia hamil yang tak tahu harus ke mana meminta pertanggungjawaban.
Pergi menggugurkan kandungan pun dia tak punya uang sepeser pun sekarang. Sungguh, akibat ulahnya sendiri menempatkannya dalam kekalutan. Semua perbuatan seenak jidatnya menjadi bumerang kini. Terpintal bak benang kusut dalam kepalanya. Entah dari mana harus memulai mengurai benang yang terlanjur kusut itu, buah dari keserakahan, iri, dengki juga akibat karena tak pernah mengindahkan nasehat orang tua.
Sementara itu di dalam ruangan intensif, aura kesedihan merebak kuat melingkupi.
“Ibu … Ibu,” panggil Anggi dengan suara tercekat.
__ADS_1
Hanya satu kata itu yang bisa Anggi ucapkan dengan bibir gemetar. Ia meraih salah satu tangan Ningrum yang terbebas dari peralatan medis. Menempelkannya di pipi. Memejam, meresapi hangatnya telapak salah satu orang yang paling disayanginya di dunia ini dengan air mata yang berderai kembali. Air mata penuh syukur karena ibunya kembali membuka mata, bercampur rasa takut yang merongrong, masih belum berkurang kadarnya sedikit pun.
“Jangan menangis, Nak. Ibu hamil tidak boleh banyak menangis. Kasihan cucu Ibu. ”
“Ibu ... Ibu.” Lagi-lagi Anggi menderaikan kata yang sama sambil terisak-isak.
“Anggitaku yang Jelita. Gadisku yang baik hati. Gadisku yang penyabar. Gadisku yang kuat. Gadisku yang pantang menyerah,” ucap Ningrum serak sembari meraba pipi putri bungsunya, berlumur tatapan sayang juga syukur. “Gadisku yang selalu berbakti pada orang tuanya,” sambungnya lagi.
Ningrum mengukir senyum lemah. Sudut matanya ikut menggenang. Rasa haru berpadu sebah mencabik sanubari. “Sama sekali tidak, Anakku sayang. Justru Ibu yang harus minta maaf. Telah banyak merepotkanmu. Belum bisa menjadi Ibu yang membahagiakan anaknya seperti orang tua lainnya.”
Anggi menggeleng. “Tidak, Bu. Sama sekali tidak begitu. Ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, seperti halnya saat Ibu memilihkan suami untukku. Pilihan Ibu tak pernah salah. Selalu yang terbaik untukku.”
“Seperti kamu yang juga selalu dan selalu mengusahakan yang terbaik untuk Ibu. Kamu adalah hadiah terindah yang diberikan Sang Pencipta. Putri dambaan setiap orang tua. Merasa beruntung, bangga juga bersyukur karena kamu ditakdirkan lahir dari rahim Ibu, Anggita.”
__ADS_1
Ningrum tak mampu membendung air mata. Di satu sisi, salah satu putrinya selalu mengusahakan yang terbaik untuknya. Mengobati sakitnya. Akan tetapi, yang satunya lagi malah memperparah kondisinya, membangkang dan bahkan kini mencoreng kehormatan keluarga yang selama ini terjaga sebagai satu-satunya hal yang bisa dia banggakan. Ningrum merasa berhasil menjadi seorang ibu saat melihat Anggi, tetapi sekaligus merasa gagal ketika mengingat si sulung.
Dirinya dalam dilema sekarang saat Anggi terus bertanya penyebab kondisinya mendadak menurun dalam sekejap. Inginnya berterus terang, tetapi khawatir Anggi yang sedang mengandung semakin banyak pikiran. Juga khawatir anak-anaknya terlibat perseteruan. Ningrum selalu ingin anak-anaknya akur, walaupun pada akhirnya memang Ayu lah yang selalu berulah. Bahkan pernah terang-terangan menyatakan dengki pada Anggi di depannya. Menyebut Ningrum pilih kasih saat menyetujui Anggi diperistri Juna, karena menurutnya seharusnya pinangan itu diberikan padanya sebagai anak tertua.
“Anggi. Ibu ingin pergi jalan-jalan denganmu membeli kue tart di toko kue yang ada di Bintaro itu,” pinta Ningrum tiba-tiba.
“Ya?” tanya Anggi tak mengerti.
“Kalau boleh, ibu ingin berjalan-jalan denganmu sore ini. Mau kan? Ibu ingin sekali membeli kue.”
Firasat buruk menguat. Isakannya semakin menghebat walaupun tak urung Anggi mengangguk. Dengan tenggorokan tercekat Anggi berkata, “Apa pun yang Ibu inginkan, mintalah padaku. Aku akan selalu mengusahakannya.”
Bersambung.
__ADS_1