
Istri Arjuna bab 66a
Juna baru selesai berbincang lagi dengan dokter. Bicara panjang lebar tentang kondisi ibu mertuanya tentunya setelah diperiksa ulang selepas pergi berjalan-jalan.
Saat hendak kembali ke selasar ruang ICU, Juna melihat Ayu yang baru menunjukkan batang hidungnya. Sedang berjalan mengendap-endap di lorong menuju ruang perawatan intensif. Bahasa tubuhnya tampak mencurigakan, sembari celingukan ke kanan dan ke kiri.
Dengan kedua tangan tersembunyi di balik saku celana, Juna memelankan langkah, tidak menyusul kakak iparnya dan memilih memberi jarak lebih renggang lagi. Dengan tatapan lurus dari kejauhan, Juna mengamati gerak-gerik Ayu yang terlihat resah.
Ayu tiba di depan ruang ICU di mana Ningrum berada bertepatan dengan Anggi yang baru saja keluar dari sana. Ayu terperanjat dan membeku di tempat. Dua wanita kakak beradik yang memiliki paras sama-sama cantik namun berbeda kepribadian itu bertemu pandang. Bola mata Ayu bergulir resah, sedangkan Anggi memaku sorot mata tajam. Tak ada yang bersuara. Dua-duanya hanya saling melempar pandangan.
Tangan Anggi mengepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras penuh kemarahan. Melirik ke dalam ruangan sekilas, Anggi menutupkan perlahan pintu kamar di mana ibunya berada.
Tanpa disangka, Anggi menyentak pergelangan tangan Ayu, menariknya dan memaksa membawa kakaknya menjauh dari selasar ruangan ICU. Juna yang melihat gelagat tak biasa istrinya, mempercepat langkah, berjalan lebih lebar mengayunkan kaki panjangnya.
“Lepaskan! Kamu mau membawaku ke mana?” teriak Ayu sembari meronta.
Cekalan tangan Anggi bukannya mengendur, malah semakin kencang saja membuat Ayu memekik kesakitan dan memaki-maki adiknya itu.
“Tanganku sakit, Anggi. Lepaskan! Dasar adik gak punya sopan santun. Aku ini kakakmu, seharusnya kamu bersikap hormat padaku, bukannya begini!”
Ayu berteriak lantang, sedangkan Anggi terus saja melangkah cepat menyeret kakaknya. Tak peduli dengan makian Ayu yang kini mengatainya dengan sumpah serapah.
__ADS_1
Terjadi aksi tarik- menarik dan sesampainya di lorong yang cukup sepi, Ayu berhasil melepaskan tangannya dari cekalan Anggi.
“Ada apa denganmu? Kamu kerasukan hantu rumah sakit atau apa!” geram Ayu marah.
Anggi berbalik badan. Menghunuskan tatapan tajam pada Ayu yang sedang mengusap-usap pergelangan tangannya. Tanpa aba-aba, telapak tangan Anggi melayang, mendarat kencang di pipi kakaknya hingga wajah Ayu tertoreh ke samping.
Juna yang berhasil menyusul, terhenyak begitu saja menyaksikan reaksi istrinya. Anggi memang pernah mengamuk, tetapi baru kali ini air mukanya istrinya itu tampak sangat murka, amarah menyala-nyala nyata di bola matanya.
“Aww.” Ayu meraba pipinya yang berdenyut disertai rasa panas.
Pipinya sakit sekaligus terkejut. Membeliak penuh amarah. Ayu balas menghunuskan sorot mata tak kalah tajam. “Berani-beraninya kamu menamparku!”
“Anggita! Kamu sudah gila!” jerit Ayu tak terima. Ayu mendorong Anggi hingga punggung adiknya itu membentur dinding. Juna yang tadi bergeming dilanda terkejut, tergesa berlari dan menghela cepat tubuh istrinya agar terhindar dari tangan Ayu yang hendak menjambak.
“Mbak Ayu, stop!” pinta Juna yang kini menghalangi, menjadi tameng istrinya.
“Istrimu kerasukan, Juna. Anggi kerasukan!” Racau Ayu yang dilanda gelombang amarah. “Anggi menamparku tanpa alasan, lihat ini, dia menamparku tiba-tiba. Bukan aku yang seharusnya berhenti, tapi adikku yang tak tahu sopan santun itu yang harus kamu sadarkan, bukan aku! Aku korban di sini!” Ayu menunjukkan pipinya mencari simpati, tak tahu malu.
“Jangan bicara sembarangan!” bentak Juna dengan suara meninggi penuh intimidasi khas seorang Arjuna yang mampu membuat Ayu berjengit seketika. Anggi mungkin sudah biasa mendengar nada sopran pria itu, tetapi bagi Ayu tentu saja intonasi Juna kali ini membuatnya bergidik.
Juna beralih pada istrinya yang masih terlihat menahan gunungan emosi. Tercermin dari sorot mata juga raut wajahnya yang menyiratkan kemarahan. Dia khawatir pada istrinya yang sedang hamil mendadak secara impulsif bersikap tak terkendali.
__ADS_1
“Sayang, ada apa? Jangan begini, ingat kamu sedang hamil, terlalu emosi kurang baik untukmu juga kandunganmu.” Juna meremas bahu Anggi lembut sementara istrinya itu menghunuskan kilat penuh permusuhan pada Ayu yang sedang memegang pipinya.
“Mbak pantas untuk ditampar. Ibu mungkin tidak akan melakukannya, tapi aku tidak bisa seperti ibu!” berang Anggi mengamuk.
“Kamu ngawur Anggita!” sergah Ayu tak terima.
“Ngawur? Mbak bilang aku ngawur? Pantas saja Mbak menghilang bukannya berada di sisi ibu yang mungkin saja waktunya tidak lama lagi. Ternyata Mbak adalah biang kerok yang menyebabkan kondisi ibu yang baru mulai membaik menurun drastis terjun bebas hingga ke dasar!” teriak Anggi marah.
“Heh adik durhaka, jangan menuduh sembarangan! Kamu bisa saja kulaporkan atas pencemaran nama baik!” Ayu menunjuk-nunjuk ke arah Anggi.
“Sayang, ada apa ini?’ Juna masih belum mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
Anggi balik menunjuk-nunjuk kakaknya. “Dia, dia yang sudah menghancurkan Ibuku. Kakakku menghancurkan ibunya sendiri!” Jerit Anggi pilu yang kini berurai air mata.
“J-jaga mulutmu, Anggita!” Ayu tergagap mulai gemetaran kini.
Anggi tak ingat lagi akan tata krama dan sopan santun. Emosi tengah menggelegak menguasai.
“Sebelum menyuruh orang lain menjaga ucapan maupun perbuatan, sebaiknya Mbak jaga dulu kelakuan diri sendiri. Sebenarnya, apa yang ada di pikiran Mbak sehingga berakhir hamil di luar nikah tanpa tahu siapa ayahnya! Murahan! Mbak mempermalukan Ibu, Mbak menghancurkan kehormatan kebanggaan Ibu, dan ulah Mbak berhasil membuat kondisi Ibu semakin memburuk. Puas sekarang? Puas!”
Bersambung.
__ADS_1