
Istri Arjuna bab 24a
Juna bersandar di kursi kebesaran Royal Textile. Memutar posisinya menghadap kaca tembus pandang yang menampakkan hiruk pikuknya ibukota di bawah sana dari lantai enam belas. Sebatang rokok terselip di sela-sela bibir. Kaca Jendela di sudut sengaja dibuka supaya asap bakaran tembakau yang dihisapnya tidak terakumulasi di dalam ruangan.
Pandu masuk dengan membawa cangkir di tangan berisi kopi. Ditaruhnya secangkir Vietnam Drip Robusta pesanan sang presdir ke atas meja.
"Mau saya pesankan makan siang, Pak?" tanya Pandu sebelum undur diri.
"Aku sedang tidak berselera. Kamu pergilah makan," sahut Juna tanpa menoleh.
Pandu sudah hafal betul tabiat Juna. Dia sudah bekerja bersama Juna cukup lama, sejak bosnya itu baru terjun ke dunia bisnis. Juna hanya merokok jika suasana hatinya sedang buruk. Pandu khawatir. Juna yang dalam mode begini biasanya akan terus meneguk kopi dan menghabiskan berbungkus-bungkus rokok tanpa mengisi perut dengan makanan.
Ketika sang presdir baru pulang dari pertemuan dengan menteri perdagangan beberapa hari lalu pun, Juna datang ke tempat tinggalnya hanya untuk membakar puluhan batang rokok ditemani kopi hitam tanpa ingin diganggu hingga larut malam. Ini sudah hari kedua terhitung dari hari itu dan Juna belum juga berhenti melakukan hal serupa.
__ADS_1
"Pak, hari ini jadwal pembayaran rumah sakit. Mau ditransfer atau tunai?" ucap Pandu.
Juna mengusap wajah. Meniupkan asap rokok dari mulutnya kemudian menjawab, "Bayar tunai saja. Sekalian kamu belikan parsel buah untuk ibu mertuaku dan sampaikan salamku. Pergilah setelah makan siang."
"Baik, Pak. Tapi, sebaiknya Anda juga makan. Jangan lalai dengan kesehatan." Pandu mencoba mengingatkan walaupun harap-harap cemas dengan nasibnya. Seumpama tengah mengundang resiko terkena semprotan amarah sang bos.
"Aku tidak membayarmu untuk menceramahiku! Pergilah, aku sedang ingin sendiri," sahut Juna dingin seraya melirik tajam.
Tanpa banyak kata Pandu mengangguk, lalu segera keluar dari ruangan Juna.
Setelah satu tahun lebih, akhirnya Juna kembali bertemu muka dengan Viona, yaitu tiga hari yang lalu. Saat beberapa kali mampir ke butik VN Fashion pusat ketika sedang ada keperluan di Kota Parahyangan, Juna hanya bertemu Sita si manajer kepercayaan Viona. Sita mengatakan bosnya lebih sering bekerja dari rumah, apalagi semenjak melahirkan anak kedua.
Juna sedang belajar agar nama Viona menjadi sebuah kenangan bagian dari kisah perjalanan hidupnya. Namun, ternyata tidak mudah, apalagi ketika paras Viona kembali tertangkap retina. Dulu, pohon harapannya yang sudah menjulang tinggi dicabut paksa, sisa serabut-serabut akarnya masih tertinggal. Tertimbun di dasar sanubari, membusuk dan berdenyut nyeri serupa penyakit karena tidak tercabut sempurna.
__ADS_1
Andai Juna paham bahwa obat nestapa di hatinya berada di dekatnya, mungkin rasa nyeri itu kini telah membaik dan ladangnya siap ditanami kembali dengan pohon yang baru. Sayang, Juna tidak menyadarinya. Sang Pencipta mengirimkan Anggita masuk dalam kehidupannya sudah pasti untuk sebuah alasan. Begitulah manusia, kerap menolak menelan jamu pahit yang menyembuhkan serta baik baginya dan lebih memilih sirup manis yang memiliki banyak efek buruk di kemudian hari. Tak ubahnya seperti yang dilakukan Juna saat ini.
*****
"Stop di depan sana, Pak. Dekat minimarket."
Anggi meminta taksi yang ditumpanginya berhenti di jalanan tikus ibukota, tepat di sebuah minimarket yang tampak sepi. Membayar sejumlah uang dan turun dari taksi.
Ia memastikan alamat yang terpampang di layar ponsel tepat berada di sini. Anggi tertegun, menelan ludah akibat kerongkongannya tercekat. Dadanya sesak terasa mengimpit jantung. Kakinya gemetar dan keringat dingin mulai berembun di dahi.
Sore ini cuaca mendung, seolah ikut murung. Bola matanya memanas. Ia tahu apa yang diputuskannya merupakan suatu kebodohan, hanya saja Anggi tidak ingin membiarkan rasa tak relanya semakin larut, walaupun setelah ini dirinya mungkin akan menjadi manusia mati rasa. Saat ini ibunya adalah prioritas, terlebih lagi Anggi juga tidak ingin buah hatinya nanti ikut tersakiti karena harus hidup dalam jeruji balas budi.
Dengan perasaan tercabik bersama buliran bening yang mulai berjatuhan dari pelupuk, Anggi melangkahkan kaki lunglainya. Menyeberangi jalanan dan masuk ke sebuah klinik praktek dokter yang lokasinya terpencil itu.
__ADS_1
Maafkan Mama, Nak. Hukum saja Mama seumur hidup dengan rasa bersalah. Maafkan Mama, sayangku. Jeritnya pilu dalam hati.
TBC