
Istri Arjuna bab 79 a
Selepas makan malam, mereka sedang bersantai di taman samping bagian timur. Menikmati kecipak air kolam berisi puluhan Ikan Koi yang berenang ke sana kemari. Anggi duduk bersandar berselonjor kaki di sofa empuk berbentuk huruf L, sedangkan Juna memilih rebah, mendaratkan kepala beralaskan paha istrinya.
“Apa kamu ngidam sesuatu? Aku baru ingat, kamu tidak pernah merengek meminta hal aneh seperti orang-orang hamil yang sering kudengar.” Juna bertanya pada Anggi yang sedang memijat lembut kepalanya.
“Ngidamku hanya ingin menggampar para wanita yang telah berani menawarkan diri menjadi sugar baby pada suamiku!” geramnya sengit.
Anggi masih sering kesal kala teringat dengan kejadian di pantai beberapa hari ke belakang. Imbas dari rasa dongkol yang masih tersisa, otomatis pijatan jemarinya di kepala Juna bertambah lebih kuat tekanannya membuat Juna meringis lantaran helaian rambutnya ikut tertarik.
“Tapi aku tak butuh sugar baby, yang kubutuhkan hanya satu, Mama baby,” sahut Juna lembut merayu. “Cemburumu itu membuatku ingin memproduksi banyak anak denganmu.” Juna menyambung kalimat sembari mencubit hidung Anggi gemas. Juna suka sekali menggoda ketika istrinya itu sedang dalam mode galak.
“Hih, memangnya aku pabrik anak!” Anggi menyudahi pijatannya sebab sebal pada suaminya ini, tetapi sekaligus cinta. Benar-benar membuatnya pusing sendiri.
Juna bangun dari baringannya. Ikut duduk bersandar dan merangkul Anggi. “Aku ini bukan pria murahan yang begitu mudah terpesona pada wanita. Kamu pasti tahu betul tentang sisiku yang satu itu bukan, hmm?” ujar Juna lembut, mengecup pipi Anggi yang menggembung karena si empunya tengah cemberut.
“Tetap saja aku ini resah. Kalau yang terus menggoda daun muda, bisa saja Mas goyah. Sementara sekarang bentukku sudah bengkak tak karu-karuan,” sungutnya.
__ADS_1
“Hey, tapi aku suka. Justru aku ingin lebih sering membuatmu bengkak begini. Selain supaya rumah kita ramai, aku juga suka melihatmu yang sedang hamil. Kamu pribadi mungkin tidak menyadari, tapi saat kamu mengandung, kecantikanmu itu bertambah berkali-kali lipat di mataku.” Juna mengedipkan sebelah matanya jahil.
“Ish, udah ah. Ngeselin deh!” Anggi merajuk, sewot sendiri. Memanglah para wanita hamil dengan segala sindrom penyesuaiannya kerap dilanda tak percaya diri kala bentuk tubuhnya banyak berubah. Padahal yang namanya orang hamil memang lumrah demikian.
“Iya, iya maaf. Abisnya kamu gemesin.” Juna merangkul Anggi kian merapat, tak menyerah meski wanita hamil itu menyikut perutnya.
“Kita kembali ke pembahasan tadi. Tapi, kali ini jawab dengan benar, oke? Kamu ngidam apa? Coba bilang dan minta padaku. aku sering mendengar istri temanku mengidam yang cukup aneh bahkan sampai ada yang tidak lazim, seperti ingin memeluk kambing misalnya.”
Anggi tampak berpikir. “Mmm … entahlah. Banyak hal terjadi dimulai dari rentang waktu awal kehamilanku hingga satu bulan ke belakang, membuatku bahkan tak ingat juga tak sempat terbersit tentang apa yang kuinginkan. Atau mungkin, baby boy kita memang bukan tipe bayi rewel, anak pintar yang sayang pada orang tuanya, hanya membuat mamanya mual dan muntah normal saja.”
Anggi menyahuti. Tangannya mengelus perutnya sendiri, diikuti Juna yang juga melakukan hal serupa.
“Kalau ngidamnya pingin salaman plus difoto sama cowok bule di pantai gimana?” Anggi balas menjahili. Memintal-mintal ujung rambutnya seraya menaik turunkan alis.
“Haish, tidak boleh!” sambar Juna marah membuat Anggi terbahak kencang.
“Makanya kita itu berjodoh. Sama-sama pencemburu iya kan?” ujar Anggi setelah tawanya mereda.
__ADS_1
“Benar, aku bisa mati cemburu kalau melihatmu berdekatan dengan pria lain,” decaknya tak suka.
“Mas, kenapa perutku gak enak ya?” gumam Anggi, menunduk menatap perut buncitnya.
“Gak enak gimana? Kamu sih, ketawanya terlalu kencang. Jadi gini kan.” Juna mengomel, mengelusi perut Anggi dengan gerakan lembut.
“Tapi ini ambigu, terasa mulas mirip seperti ingin buang air, tapi bukan," tukas Anggi bingung.
“Hasil pemeriksaan Dokter Lalita kemarin sore semuanya baik-baik saja kan? Atau kamu salah makan?” Juna mendadak cemas melihat ekspresi Anggi yang meringis-ringis.
“Semuanya baik. Aku dan bayi kita sehat, perkiraan lahir pun yang direkam Dokter Raisa sudah diserahkan semuanya pada Dokter Lalita dan diagnosa perkiraan lahir pun sama, sekitar sepuluh harian lagi.”
“Apa mungkin efek dari tadi pagi kita bercinta terlalu bergelora?” Juna mulai khawatir. Sebenarnya dia menahan diri untuk tidak menyentuh Anggi secara berlebihan, tetapi tadi pagi istrinya itu malah merengek ingin dibelai sayang, membuat Juna khilaf hingga terlalu lahap dengan berakhir menyembur di dalam terbuai kenikmatan.
“Entahlah, tapi tadi pagi tidak ada reaksi apa pun.” Anggi ikut cemas sekarang. tadi pagi memanglah dia yang memulai, entah mengapa desakan dalam nadinya berdesir deras ingin dicumbu mesra.
“Kita ke dokter sekarang. Kita pergi bersama Mami juga. Aku khawatir terjadi sesuatu,” ucap Juna yang diangguki cepat oleh Anggi.
__ADS_1
Bersambung