Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Penyergapan


__ADS_3

Freya berdiri di pinggir jalan dan menatap Bayu dengan ekspresi ragu.


“Saya ikut mobil yang mana, Pak?” tanyanya.


Dari dalam mobil Lexus yang pintunya masih terbuka, terdengar suara Pram yang tidak sabar, “Kamu ingin tebar pesona kepada siapa? Cepat masuk!”


Freya memonyongkan bibirnya. Apanya yang tebar pesona? Ia ‘kan bertanya baik-baik. Kenapa pria itu selalu berbicara dengan nada ketus kepadanya? Kalau tidak suka, cari saja orang lain untuk dinikahi. Kenapa harus menjerat dan menyiksanya seperti ini? Dasar paman tua menjengkelkan!


Gadis itu masuk dan duduk di sisi paling ujung, membuat jarak sejauh mungkin dari bosnya yang galak itu. Kalau bisa mundur, ia sangat ingin melepaskan diri dari perjanjian pernikahan yang konyol ini.


“Lain kali, tidak peduli apa pun yang sedang kamu lakukan, angkat telepon dariku. Mengerti?”


Freya hanya melirik sekilas dan menjawab, “Baik.”


Pramudya bersandar ke kursi sambil mengernyit. Entah mengapa meskipun gadis itu menjawabnya dengan patuh, ia tetap merasa kesal untuk alasan yang tidak jelas. Sepertinya gadis itu tidak sungguh-sungguh mendengarkan ucapannya dan asal mengiyakan agar tidak perlu berbicara dengannya lagi.


Apakah gadis itu sebegitu tidak suka kepada dirinya? Mengingat ucapannya yang tidak berperasaan saat di tempat Valentina tadi membuat Pram semakin kesal. Ia menarik dasinya dengan asal sehingga kerah bajunya sedikit kusut.


Freya membuang napas dan menoleh ke luar jendela. Ada apa lagi dengan bos galak itu? Kenapa mukanya selalu seperti orang yang emosi sepanjang waktu? Mungkin ia akan terbawa suasana dan menjadi lebih cepat tua setelah menikah dengan pria yang emosional itu.


Mobil perlahan meluncur melewati jalanan yang sudah masih cukup ramai. Jalanan ibu kota memang tidak pernah mati, 24 jam tetap aktif dengan kehidupannya sendiri. Freya terus menatap ke luar jendela, mengamati sepeda motor dan mobil yang melintas di sisi jalan yang berlawanan. Kebanyakan gedung-gedung perkantoran sudah gelap, tetapi gerai makanan cepat saji tetap terang benderang dan dipenuhi pengunjung.

__ADS_1


Freya tiba-tiba teringat kepada Doni dan ingin mengiriminya pesan, tapi dia takut si bos galak akan marah la gi, jadi keinginannya itu ditahannya. Nanti saja kalau sudah sampai di rumah.


Freya menoleh ke sisi kanan, mengamati sebuah mobil hitam yang tidak terlalu jauh dari mobil yang ditumpanginya. Mobil itu tampak familier. Tiba-tiba mobil itu melambat dan mundur hingga posisinya berada di belakang. Freya membalikkan tubuhnya dan mencoba melihat plat nomor mobil itu. Keningnya berkerut dalam. Ia tidak salah ingat.


“Apa yang kamu lakukan?” tegur Pramudya dengan kesal. Gadis itu hampir memanjat jok mobilnya dan melongok ke belakang. Seperti anak kecil saja.


“Di mana mobil Pak Bayu? Mobil itu mengikuti kita sejak pergi dari tempat Kak Valentina,” ucap Freya seraya kembali duduk di kursinya. “Apakah itu mobil salah satu pengawal Anda?”


“Apa?” Pramudya terkejut.


Ia menoleh ke belakang dan mengamati mobil Toyota hitam yang mengikuti dengan stabil dari belakang. Itu bukan mobil milik orang-orangnya. Ia sudah memerintahkan Bayu untuk langsung pulang ketika mereka keluar dari toko tadi. Mereka berpisah di pertigaan pertama. Sedangkan mobil pengawalnya berada di depan dan belakang, dua buah mobil anti peluru, sama seperti mobilnya yang merupakan edisi terbatas. Namun, ada baiknya tetap berjaga-jaga.


“Bukan pengawal Anda?” tanya Freya seraya menoleh ke belakang sekilas, lalu menatap ke depan.


“Oh, saya melihatnya parkir di gedung sebelah saat kita keluar tadi. Plat nomornya sama. Saya pikir itu salah satu mobil Anda.”


“Kamu hafal hanya dengan sekali lihat?” tanya Pram tak percaya.


“Hm. Itu B 1765 KYL.” Freya mengangguk cepat. “Plat mobil ini B 9 RAM. Itu nama Anda, bukan? Ckckck, norak sekali ....”


Pramudya hanya bergumam tidak jelas. Apakah gadis ini tidak ada kerjaan? Menghafal plat mobil yang parkir ... benar-benar tidak masuk akal. Ia mengambil ponselnya dan memberi instruksi kepada pengawalnya di depan dan belakang. Benar-benar tidak berguna. Bahkan diikuti oleh orang lain pun tidak sadar. Tampaknya ia harus mengganti pengawal-pengawal itu dengan orang-orang yang lebih kompeten.

__ADS_1


“Apakah mereka bermaksud jahat?” Freya menoleh sekali lagi ke belakang.


Mobil itu terhalang oleh dua mobil, tapi masih mengikuti dengan stabil. Freya mengumpat dalam hati. Kenapa nasibnya sial sekali? Ia bahkan belum menikahi bosnya yang galak, tapi sudah diincar oleh orang jahat.


“Tenanglah, ada aku. Siapa yang bisa berbuat jahat kepadamu?”


“Saya tidak khawatir. Saya bisa melarikan diri dengan mudah, Anda lah yang diincar oleh mereka. Mereka mungkin tidak akan melepaskan Anda dengan mudah,” ucap Freya tak berperasaan.


Pramudya sangat ingin mencekik gadis tengil di sampingnya itu. Kalau tidak bisa bicara yang baik, kenapa tidak diam saja? Hanya bisa membuat orang emosi.


Ponsel Pram berdering. Ia segera menjawab panggilan itu setelah melihat Bayu yang meneleponnya. Freya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Bayu, ia hanya mendengar ucapan Pram di telepon.


“Tidak, aku masih baik-baik saja. Cepat kirimkan bantuan. Aku akan memancingnya menuju jalan tol. Oke.”


Freya mencengkeram sandaran kursi di depannya. Apakah mereka akan kejar-kejaran seperti di film action? Adrenalinnya meningkat pesat. Sepertinya malam ini akan sangat seru.


***


Hai, makasih udah mampir...


Jangan lupa komen, like, dan vote yaa

__ADS_1


Thank you, kesayangan 🥰


__ADS_2