
Meski tidak tinggal untuk menetap di Indonesia, Carissa tetap memilih salah satu rumah di kawasan perumahan elit untuk disewa. Ia menyukai segala sesuatu yang berkelas. Itu melambangkan status sosialnya yang tinggi.
Ia sangat berterima kasih kepada Tommy Antasena yang telah membantunya mencarikan beberapa apartemen dan rumah untuk disewa. Dan kebetulan ia merasa cocok dengan rumah ini. Masalah biaya, ia tidak terlalu memusingkannya. Ayahnya tidak pernah keberatan mengeluarkan uang sebanyak apa pun demi dirinya.
Pagi itu, di dalam ruang tamu yang terlihat megah dan mewah, Carissa duduk berhadapan dengan Tari Antasena. Jika bukan karena untuk mempermudah tujuannya mendapatkan Pramudya kembali, ia pasti sudah meminta pelayan untuk mengusir wanita tua yang ia panggil dengan sebutan “Bibi” itu. Pagi buta datang mengganggu waktu istirahatnya saja.
Memangnya wanita tua itu tidak tahu? Waktu tidur yang cukup dapat membuat seorang wanita menjadi awet muda!
“Halo, Bibi. Apa kabar?” sapa Carissa berbasa-basi. Padahal baru beberapa hari lalu mereka bertemu untuk membicarakan kesepakatan kerja sama lanjutan untuk menjatuhkan Antasena Grup.
Ya, ia tidak segan membuat Pramudya bangkrut jika itu bisa membuat Pramudya bertekuk lutut dan memohon untuk kembali kepadanya.
Tari mengulas senyum palsu dan membalas, “Kabar Bibi baik, sayangnya Bibi datang kali ini datang membawa kabar buruk untukmu.”
Tubuh Carissa langsung menegang begitu mendengar kalimat pembuka itu.
Kabar buruk?
Kabar buruk apa?
Jangan katakan kalau gadis kampung itu sudah hamil! Dia tidak pantas mengandung garis keturunan Keluarga Antasena!
“Bibi jangan membuatku gugup seperti ini, katakan saja langsung ... ada apa?” tanya Carissa harap-harap cemas.
Diam-diam ia bersumpah dalam hati, jika memang benar gadis kampung itu sudah mengandung anak Pramudya, ia pasti akan melakukan apa saja untuk melenyapkan si jabang bayi dan wanita tidak tahu diri itu!
“Pramudya pergi berbulan madu dengan istrinya. Mereka berangkat pagi-pagi sekali. Salah satu orang kepercayaanku yang melaporkannya,” jawab Tari.
“Apa?!” Carissa hampir melompat bangun dari sofa. Meski bukan mengandung anak Pramudya, tapi itu sama saja, sangat berbahaya.
Carissa bangun dan berjalan mondar-mandir sambil mengepalkan tangannya. Kalau bukan karena harus menjaga imejnya di depan Bibi Tari, ia pasti sudah akan menghancurkan semua barang yang ada.
__ADS_1
Siapa yang tahu apa yang dilakukan oleh Pramudya ketika hanya berduaan dengan si gadis kampung itu. Di depan orang banyak saja dia berani menciumnya secara terang-terangan.
Atau ... bagaimana kalau gadis kampung itu yang memanfaatkan kesempatan dan menjebak Pram?
Gawat.
Benar-benar gawat!
Seberapa bagusnya gadis kampung itu hingga Pramudya memilihnya? Bahkan mengajaknya pergi bulan madu.
Carissa sangat kesal. Apakah dirinya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan gadis dekil, kumal, liar, dan kampungan itu?
Tari menyilangkan kakinya dan bersandar dengan santai. Ia merasa sangat senang melihat respons Carissa. Kalau begini, akan lebih mudah baginya untuk memprovokasi gadis kaya yang manja ini.
“Itu benar. Ada dua orang kepercayaanku yang menyusup sebagai pelayan di kediaman Pram. Mereka mengirimkan foto ketika Pram dan istrinya keluar dari rumah sambil membawa koper, diantar oleh Pak Tua. Kamu mau lihat?” Tari sengaja melemparkan umpan lagi. Semakin banyak umpan semakin bagus. Ikan akan lekas masuk perangkap.
Carissa berhenti tiba-tiba, berbalik dan menatap Tari dengan air muka yang terlihat menyeramkan. Emosinya melonjak sampai ke ujung kepala. Untuk apa menawarinya melihat foto Pram dan istrinya yang jelek itu? Ingin membuatnya emosi sampai mati, ya?
Carissa mengentakkan kakinya ke lantai sebelum kembali dan duduk di sofa. Ia melipat tangan di depan dada dan mengerutkan bibirnya. Membayangkan Pram yang sedang bermesraan dengan gadis kampung itu membuatnya sangat jengkel.
“Menurut Bibi, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya setelah berhasil meredam emosinya. Hal ini tidak boleh ditanggapi dengan amarah. Ia harus tenang dan berpikir jernih untuk menemukan cara memisahkan Pram dan istrinya.
Tari tersenyum lebar. Pertanyaan inilah yang ditunggu-tunggu olehnya.
“Menurutmu, apa yang membuat Pram bisa tertarik kepada gadis itu?” Tari balik bertanya sambil memainkan jari-jarinya yang dipenuhi cincin bertahtakan permata dan berlian.
Carissa terdiam dan berpikir sejenak. Apa yang bisa membuat Pramudya tertarik kepada gadis kampung itu? Jika dilihat dari penampilan dan kekayaan, jelas ia lebih unggul. Apa kelebihan gadis itu?
“Mungkin karena kepolosannya? Pram tidak pernah menyukai wanita yang genit dan penuh make up. Dia juga sangat membenci perempuan yang suka mencari perhatian di depannya. Gadis kampung itu sepertinya terlalu bodoh hingga berhasil menarik sedikit minat Pram.” Carissa mencibir sinis.
Jika dibandingkan dengan dirinya, istri Pramudya tidak ada apa-apanya. Ia lebih cantik, menarik, tahu cara merias diri dengan tidak berlebihan, juga memiliki kekayaan yang setara dengan Keluarga Antasena.
__ADS_1
Atas dasar apa gadis kampung itu merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya begitu saja? Ia tidak akan membiarkannya!
Tari mengangguk setuju. Ia pun memiliki pemikiran yang sama. Gadis kampung itu terlihat polos dan apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat. Mungkin karena itulah Pramudya merasa sedikit tertarik.
Wajar saja, selama ini Pramudya selalu dikeliling oleh wanita-wanita kalangan atas yang serba glamor dan gemerlap. Ketika dia akhirnya melihat setangkai bunga anggrek liar di antara ratusan kuntum mawar, tentu saja anggrek liar itu akan menarik perhatiannya.
“Jadi bagaimana menurutmu?” pancing Tari seraya menaikkan alisnya dan menyeringai penuh arti.
Carissa mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Bagaimana lagi? Tentu saja hancurkan kepolosan itu sampai tidak ada lagi yang tersisa. Ia ingin melihat, apakah Pramudya masih akan tertarik kepada gadis kampung itu.
“Bibi tenang saja. Aku akan mengurusnya,” ucapnya seraya menyeringai kejam.
Mata Tari Antasena bersinar cerah. Reaksi Carissa tepat seperti yang ia inginkan. Dengan begini, ia bisa cuci tangan. Ia tidak perlu ikut serta dalam rencana untuk menghancurkan ja lang kecil itu, hanya perlu memancing dan memperingatkan Carissa agar jangan sampai gagal seperti rencananya sebelumnya.
“Jangan gegabah, gadis itu memiliki kemampuan bela diri yang lumayan. Orang-orang bayaranku dikalahkannya dengan mudah.”
“Benarkah?” Carissa menatap Tari dengan ekspresi sedikit tak percaya. Istri Pramudya terlihat kecil dan lemah. Apa benar memiliki kemampuan seperti itu?
Tari mengangguk tanpa ragu. Ia memang gegabah dan terlalu meremehkan istri Pramudya sebelumnya sehingga membayar orang-orang yang tidak berguna. Ia tidak ingin Carissa melakukan kesalahan yang sama.
“Ya, untuk mengatasinya, kamu harus orang-orang yang kompeten. Kamu tahu ‘kan, maksud Bibi?”
“Bibi tenang saja, aku akan mengaturnya dengan baik.” Air muka Carissa terlihat lebih bersemangat. Sudah ada sebuah rancangan di kepalanya.
“Sebagai ucapan terima kasih karena Bibi sudah berkunjung, bagaimana kalau kita pergi belanja? Aku yang traktir,” imbuhnya .
Tari mengiyakan dengan antusias. Siapa yang tidak suka belanja? Terutama karena akan ditraktir ... ia sangat menyukai barang-barang yang didapatkannya secara cuma-cuma.
Apalagi, bonusnya adalah bisa melihat kehancuran Pramudya, tentu saja ia akan menerimanya dengan sukacita!
__ADS_1
***