
Setelah keheningan panjang yang membuat situasi terasa sangat canggung, akhirnya Pramudya meletakkan ponselnya, berbalik dan menatap lurus ke arah Freya.
Ia mengawasi gadis itu sejenak, berusaha membaca perubahan di wajahnya yang bulat dan mungil itu dengan saksama.
“Pelayan mengatakan bahwa kamu tidak makan dari siang.”
Pernyataan itu lebih terdengar seperti tuduhan, bukannya sedang memastikan. Freya dibuat salah tingkah.
Ia menunduk dan menjawab, “Saya ... sedang tidak ingin makan ....”
“Karena kekasihmu sudah kembali?”
Freya mendongak dan menggelengkan kepala dengan cepat. Ia menggoyangkan tangan ke kanan dan kiri dengan panik.
“Tidak. Bukan seperti itu. Saya ....” Freya terdiam tiba-tiba.
Kenapa harus panik?
Bukankah dalam perjanjian disebutkan bahwa mereka tidak boleh mencampuri urusan pribadi satu sama lain? Jadi ia bisa menyukai pria mana pun, ‘kan?
Yah, meskipun ia belum memutuskan apakah akan memberikan kesempatan kedua untuk Yoga atau tidak, tapi Pak Pram tidak berhak menginterogasinya seperti ini.
Lagi pula, sebenarnya ia dan Yoga bukan kekasih. Mereka tidak pernah mengikrarkan komitmen secara langsung.
Hanya saja, Freya memang pernah memiliki perasaan untuk Yoga. Meskipun Yoga juga tidak pernah menyatakan perasaan secara langsung, tapi semua tindakannya menunjukkan bahwa pria itu memiliki rasa yang sama.
Itu adalah semacam sebuah kesepakatan diam-diam bahwa mereka saling menyukai. Tapi sekarang ....
“Benarkah bukan karena hal itu? Kalian bahkan berpelukan dengan tidak tahu malu di depan perusahaan.”
Gaya Pramudya terlihat santai. Nada bicaranya pun sangat tenang, tetapi Freya bisa merasakan kata demi kata menusuk ke dalam hatinya dengan sangat presisi.
__ADS_1
Kenapa ucapan yang keluar dari mulut pria ini selalu terdengar menjengkelkan?
Tanpa sadar Freya memiliki dorongan untuk membela diri.
“Saya tidak memeluknya. Dia yang datang dan memeluk tiba-tiba. Saya tidak sempat menghindar.”
Freya menatap Pramudya dengan berapi-api. Akan tetapi, ketika melihat tatapan Pramudya yang lebih mengintimidasi, nyali Freya kembali menciut.
Pria itu terlihat seperti akan mematahkan kaki dan tangannya kalau ia berani berbohong, membuatnya merasa sedikit gugup.
Sial, aura Pak Pram sangat menindas. Ia hampir tidak bisa bernapas. Padahal dulu ia sering mengalahkan laki-laki yang tubuhnya lebih tinggi dan besar daripada CEO Pram. Kenapa sekarang ia selalu gagap dan tidak percaya diri jika berhadapan dengan pria ini?
“Bukannya aku ingin ikut campur, tapi semua orang di perusahaan saat ini mengetahui bahwa kamu adalah istriku. Kalau ingin berpelukan dengan kekasihmu, lakukan di tempat lain. Jangan mengotori tempatku. Jangan sampai membawa citra buruk bagi perusahaan.“ Pramudya bersedekap, menatap Freya dengan dingin dan melontarkan kalimat itu tanpa ampun.
Freya menggigit bibirnya dengan kuat. Ucapan “suaminya” itu terlalu tidak berperasaan.
Apanya yang lakukan di tempat lain?
Memangnya ia wanita murahan?
Bukankah ia sudah menjelaskan bahwa ia tidak melakukannya dengan sengaja?
Bajingan ini ....
Freya mengepalkan tangannya dengan kuat, sedikit membungkukkan badan sambil berkata, “CEO Pram tidak perlu cemas. Lain kali akan saya lakukan di tempat lain. Mohon maafkan kesalahan saya kali ini.”
Kali ini Pramudya yang terkejut dengan respon Freya. Namun, keterkejutan yang melintas di matanya hanya sekilas. Ia mengendalikan diri dengan cepat, berdiri tegak dan mengetatkan rahangnya sehingga geliginya saling beradu.
Gadis tengil ini berani meledeknya dengan sebutan CEO Pram. Lihatlah air mukanya yang penuh perlawanan itu, seolah-olah sangat patuh tapi mengejeknya dengan tatapan menghina. Benar-benar ....
Pramudya mendengkus dan memalingkan wajahnya. Melihat gadis itu hanya akan membuat perasaan tidak nyaman di dadanya kembali bergejolak.
__ADS_1
“Pergi ganti pakaian, kita akan pergi makan malam,” perintahnya tanpa menoleh ke arah Freya. Ia kembali sibuk dengan ponsel di tangannya.
Freya mendengar perintah itu dan menggertakkan gigi dengan kuat. Pria ini, setelah memanggilnya datang, hanya mengatakan kalimat yang tidak enak didengar, lalu memerintahnya sesuka hati. Apakah pria ini sedang memperlakukannya seperti pelayan?
Freya mencibir dirinya sendiri dalam hati. Perlakuan seperti ini tidak tercantum dalam surat perjanjian, tapi Pramudya Antasena bebas memperlakukannya sesuka hati. Bukankah dirinya hanyalah sebuah barang, sebuah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pria itu. Lagi pula, ia telah dibayar dengan sangat mahal.
“Kenapa masih berdiri di situ?” Pramudya melirik istrinya dengan kesal. Kenapa ekspresi wajahnya semakin tidak enak dilihat?
Freya tersadar dari lamunannya. Ia memaksakan diri untuk tersenyum, lalu menundukkan kepalanya dan berkata, “Baik, Tuan. Saya permisi dulu.”
Pramudya tercengang untuk waktu yang cukup lama. Ia bahkan hanya terpaku menatap punggung Freya yang menghilang di balik pintu.
Apa-apaan itu panggilan “Tuan” barusan? Apakah dia sedang menyamakan dirinya dengan pelayan? Apakah pernikahan adalah sebuah siksaan baginya?
Sial!
Pramudya menahan keinginan untuk menghantamkan ponselnya ke meja. Gadis tengik itu benar-benar sangat “berkarakter”. Persis seperti cabai rawit. Saat dia merasa tidak senang, dia akan menyerang balik tanpa ampun.
Ketika berinteraksi dengan orang lain, gadis itu akan tersenyum dan bersikap sangat ramah. Namun, ketika berhadapan dengan dirinya, dia akan menjadi sangat kaku dan memanggilnya “Pak Pram” dengan sungkan.
Lalu sekarang, ketika dia marah, dia akan memanggilnya dengan sebutan “CEO Pram” dan “Tuan”, seolah sedang mengejeknya dan memberi garis pembatas yang jelas di antara mereka.
Suara embusan napas yang panjang terdengar dalam ruangan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Pramudya tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap seorang perempuan. Ia tidak bisa terlalu lembut, juga tidak bisa terlalu keras. Perasaan ini ... benar-benar serba salah.
Pramudya menyugar rambutnya dan duduk di kursi, menatap chat dengan Bayu yang pura-pura ia baca dengan serius tadi.
Bayu baru saja mengirimkan hasil investigasi lain yang ia minta terkait insiden lima bulan lalu, saat ia dikejar dan hampir tersudut di gang yang sepi menjelang tengah malam.
Ternyata hasil penyelidikan Bayu sama seperti dugaannya.
Pramudya menatap ponselnya lagi. Meski sudah menduganya, ia sedikit tidak menyangka hasilnya akan seperti ini.
__ADS_1
***