
Bayu menarik napas panjang, lalu menutupi wajahnya dengan tangan kanan. Sudah ada lima botol wine kosong terguling di lantai. Ia mulai merasa pusing, tapi Pramudya masih duduk dengan santai.
Toleransi sahabatnya itu terhadap alkohol memang tergolong ajaib. Pramudya menenggak minuman berakohol itu seperti sedang meminum air mineral.
"Di mana gadis itu?" tanya Pramudya, tangannya menyusuri tepian meja, mencari botol wine yang tadi diletakkannya.
Bayu menghela napas, menahan keinginan untuk memukul kepala sahabatnya dengan botol wine. Kalau rindu tinggal datangi saja, kenapa harus menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.
"Dia berada di kamarnya, Lisa dan Ruth sedang menemaninya," jawab Bayu dengan mata setengah terpejam. Ia merasa sangat pusing dan mengantuk.
"Kalau kamu sangat merindukannya, pergi lihat dia," imbuhnya dengan kesal.
“Hm.” Pramudya hanya bergumam tidak jelas.
Tadi ia memang sengaja memanggil Lisa dan Ruth untuk menemani Freya. Ia tahu Lisa adalah satu-satunya teman baik istrinya di kantor. Gadis itu juga tampaknya cukup menyukai Ruth, jadi ia meminta mereka datang.
Entah kenapa, Pramudya tidak ingin Freya merasa kesepian karena ia tidak bisa menemani malam ini. Bukannya apa-apa, tapi hubungan mereka sangat jelas hanyalah perjanjian hitam di atas putih. Mereka tidak mungkin tinggal bersama dalam kamar yang secara khusus disiapkan bagi pengantin baru.
Bayu menepis tangan Pramudya yang masih mencari-cari botol wine yang sudah dibuangnya ke tong sampah.
Resepsi sudah selesai sejak enam jam lalu. Para tamu sudah pulang. Bahkan Pak Tua dan Tommy Antasena telah kembali ke kediaman keluarga. Seharusnya ini adalah malam khusus pengantin baru, tapi Pramudya malah memesan kamar lain dan mengajaknya minum. Sebagai peringatan melepas masa lajang, begitu katanya ketika Bayu berusaha mati-matian untuk menolak ajakan itu.
Lalu, di sinilah mereka sekarang, terlibat dalam percakapan absurd dengan kesadaran yang mulai menipis.
"Pramudya, sialan. Aku sudah tidak kuat minum lagi. Apa kau berniat membunuhku perlahan?" oceh Bayu ketika melihat Pramudya mengambil sebotol wine lagi dari atas meja. Sahabatnya yang gila itu memesan hampir semua wine terbaik dari hotel.
__ADS_1
"Berisik sekali. Kalau mati, aku akan mengadakan pemakaman yang mewah untukmu," ucap Pramudya dengan santai.
Selain wajah dan daun telinganya yang memerah, ekspresi wajahnya masih setenang biasa. Ia duduk di sofa, membuka wine dan menuangkannya di gelas. Ia menggoyang gelas itu perlahan, menghidu aroma anggur yang terfermentasi dengan baik, lalu menyesap minuman itu dengan mata terpejam.
Rasanya sangat enak ... sudah lama ia tidak bersantai dan menikmati wine seperti ini.
“Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa jadi aneh begini?” tanya Bayu dengan serius.
Ia tidak pernah melihat Pramudya seperti sekarang ini, bahkan ketika Tommy membuatnya kesal setengah mati, atau ketika ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil, Pramudya tidak pernah menunjukkan sikap dan perilaku aneh seperti ini.
"Apa menurutmu aku ini egois?" Pramudya tiba-tiba balik bertanya.
"Sepertinya kamu mulai mabuk, istirahatlah sebentar. Aku menemanimu di sini sampai pagi.”
"Pramudya ...." Bayu mulai merasa tidak sabar melihat tingkah sahabatnya itu. "Kamu seharusnya memikirkannya sejak awal. Sudah sampai tahap ini, kamu baru bertanya seperti ini. Apakah tidak terlalu terlambat? Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Menceraikannya besok? Sudahlah. Pak Brata sudah mengabari, besok transfer saham dan kepemilikan sudah bisa dilakukan. Kamu siapkan saja berkas pernikahan sebagai salah satu syaratnya.”
Pramudya menghela napas pelan. Semua ucapan Bayu benar. Ia tidak bisa membantahnya. Tapi, tetap ada perasaan mengganjal di dalam hatinya. Perasaan yang membuatnya merasa sesak tanpa ia tahu apa alasannya.
"Pria itu ... Yoga Pratama, dia datang tidak hari ini?"
"Apa? Apa maksudmu?" Bayu mendongak, menatap Pramudya dengan sorot penuh tanya dan kebingungan. Kening Bayu berkerut dalam, sedetik kemudian, tawa keras membahana dari mulut pria itu.
"Tutup mulutmu!" Pramudya mendengkus kesal.
"Oh, ya ampun. Kau mencemaskan ini sepanjang malam? Kenapa tidak menanyakannya langsung sejak tadi? Sialan ... seharusnya kau tanyakan saja sejak tadi sehingga kita berdua bisa beristirahat dengan tenang," ujar Bayu di sela tawanya.
__ADS_1
Ia menyeka air mata di sudut matanya karena tertawa terlalu keras, lalu mengimbuhkan, "Dia datang, tapi orang-orang kita memblokirnya dari gerbang masuk. Dia tidak berkutik, tapi mungkin sekarang masih menunggu di luar. Mungkin sedang merana karena berpikir kekasihnya sedang menghabiskan malam pertama bersama suaminya. Siapa yang tahu jika pengantin baru ini tidur terpisah? Masing-masing tidur di kamar yang berbeda.”
"Diam!" Pramudya memelototi Bayu dengan sadis, tapi sahabatnya itu tidak terlihat takut sama sekali. Pria berandalan itu justru tersenyum semakin lebar, seolah sangat puas karena melihatnya menderita.
"Tapi kulihat, Yoga lebih cocok dengan Nona Freya. Mereka adalah sahabat masa kecil, biasanya perasaan yang terjalin cukup kuat. Mungkin setelah bercerai denganmu nanti, dia akan kembali ke pelukan kekasih masa kecilnya itu. Kurasa itu juga tidak buruk. Toh, kalian bahkan tidur terpisah sejak malam pertama, seharusnya Yoga masih bisa menerimanya.” Bayu sengaja menyiramkan bensin ke dalam api.
Biarkan saja sahabatnya itu terbakar sampai menjadi arang! Ha! Siapa suruh sangat keras kepala dan angkuh. Rasakan!
"Tutup mulutmu, Bedebah!" Pramudya mengayunkan tangannya ke arah Bayu dengan kesal, tentu saja meleset karena Bayu sudah melompat menjauh.
"Karena sudah kujawab, pergilah tidur. Aku juga mau tidur sebentar."
"Jawaban macam apa itu, sialan," maki Pramudya, "Kau membuatku semakin tidak bisa tidur."
"Kalau begitu, jangan pernah ragukan perasaan dan instingmu. Karena sudah menikah, jalani hidup dengan bahagia. Kalau cocok, singkirkan perjanjian sialan itu. Kalau tidak cocok ya sudah, masih ada banyak gadis cantik lainnya."
Bayu berjalan mendekati Pramudya, lalu merangkul pundak sahabatnya itu dan berkata, "Aku turut berbahagia untukmu. Selamat melepas masa lajang, Saudaraku ... Entah itu dengan Nona Freya atau wanita mana pun yang nantinya cukup beruntung untuk mendampingimu, aku berharap kamu bisa bahagia selamanya ...."
Pramudya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa, tapi diam-diam di dalam hati, ia berharap doa itu akan terkabul ... ia juga ingin merasakan sedikit kebahagiaan dalam hidupnya ....
***
Pak Pram lagi galau 🥲
__ADS_1