Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Cinta Diam-Diam


__ADS_3

Freya dan Lisa duduk berhadapan, tapi masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri.


Freya sedang menggambar denah ruangan butik yang ingin dibangun olehnya, sementara Lisa bertugas mencari jasa tukang bangunan yang murah tapi bagus—sungguh tipikal emak-emak Indonesia.


Freya menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu satu jam lebih, kemudian lanjut membuat list barang-barang apa saja yang harus dibeli untuk mengisi butik kecilnya nanti. Di seberangnya, Lisa masih berkutat dengan ponselnya, sibuk menghubungi kontak yang tertera pada video TikTok yang disarankan di berandanya.


Karena tadi mengetik “tukang murah dan bagus” di kolom pencarian, kini hampir 90 persen isi berandanya adalah tukang bangunan, mulai dari yang sedang memamerkan hasil pekerjaan mereka sampai yang sedang goyang pargoy sambil bertelanjang dada.


Lisa mengusap wajahnya dan mengerang pelan. “Tolong, aku di mana ... kamu siapa? Ini kenapa? Ya, Tuhan .....”


Bukan apa-apa, tapi beberapa dari tukang itu memiliki body yang membuatnya hampir melupakan apa tugasnya.


Freya mendongak sambil tertawa. Ia bukannya tidak tahu apa yang sedang dilihat oleh si cerewet itu.


“Dasar plin-plan. Katanya kamu menyukai—“


“Shhht!” Lisa menempelkan telunjuknya di bibir sambil melirik ke arah belakang dengan panik.


“Ada apa?” Freya ikut menoleh ke balik punggungnya.


Separuh tubuh Doni terlihat dari celah pintu.


“Sory, aku tidak bisa mengetuk,” ucap pria itu seraya memutar tubuhnya dan menggunakan bahu untuk mendorong pintu agar terbuka semakin lebar. Di kedua tangannya terdapat piring berisi nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas, membawa harum bawang goreng yang segera menguar di udara.


Lisa terpana. Air liurnya hampir menetes, bukan karena aroma nasi goreng yang menggugah selera, tapi karena sang pengantar makanan terlihat luar biasa tampan di matanya. Waktu seolah berhenti berdetak dan seluruh perhatiannya terfokus kepada sang koki yang masih mengenakan apron. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah perut sang koki juga memiliki susunan roti kotak yang menggiurkan?


“Kalian pasti sudah lapar. Kebetulan kafe sudah tutup, jadi aku ....” Doni tidak menyelesaikan ucapannya, mengangkat bahu dengan seringai canggung di wajahnya, lalu berjalan ke arah meja kerja Freya.


Sebelum pria itu sempat meletakkan piring di atas meja, pintu kembali terbuka lebar. Kali itu Yoga yang menerobos masuk sambil membawa empat buah papper bag di tangannya.

__ADS_1


“Kalian belum makan, bukan?” tanyanya sambil mengangkat bungkusan ke udara.


Freya menghela napas panjang. Ia merasa sangat tidak berdaya.


Di seberangnya, Lisa menggosok-gosok tangannya dengan senang.


Makanan gratis diantarkan sampai di hadapanmu, siapa yang tidak senang?


“Kami belum makan! Bawa kemari!” serunya seraya menyingkirkan benda-benda yang tidak penting di atas meja.


Doni meletakkan kedua piring yang dibawanya, satu di depan Freya, satu lagi disodorkannya kepada Lisa.


“Ini nasi goreng spesial, menu andalan kafe ini,” ucapnya dengan ekspresi bangga.


“Terima kasih.” Lisa menyelipkan anak rambut di balik telinganya dan menatap malu-malu ke arah Doni, tidak peduli jika pria itu hanya terus memandangi Freya sejak masuk ke dalam ruangan itu.


Yoga tidak mau kalah. Ia menaruh bungkusan yang dibawanya di atas meja, lalu mengeluarkan isinya satu per satu.


“Yoga, aku tidak akan bisa menghabiskan semuanya,” sela Freya yang mendadak kenyang hanya dengan melihat tumpukan makanan dijajarkan di depan matanya.


“Ini untuk dimakan bersama,” ucap Yoga seraya menoleh ke arah Lisa. “Aku tidak tahu apa yang kamu suka. Kalau ada yang kurang, bilang saja.”


Lisa memainkan alisnya. Ingin menyogoknya dengan makanan? Memangnya ia semurah itu? Huh. Tidak mungkin ia mengkhianati Pak Bos hanya karena sekotak makanan.


Yoga tertawa kikuk karena Lisa hanya memberinya tatapan yang tidak dapat ia artikan. Apakah gadis itu senang atau tidak puas? Susah sekali membuatnya senang.


“Sudahlah. Karena sudah dimasak dan dibeli, ayo kita makan bersama.” Freya menengahi suasana yang canggung itu.


Ia bangun dari kursi sambil berkata, “Lisa, tolong bantu aku mengambil piring tambahan.”

__ADS_1


“Jangan! Aku saja!” seru Doni dan Yoga hampir bersamaan.


Kedua pria itu lalu saling menatap, kemudian berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa.


Doni mempercepat langkahnya menuju pintu, tapi Yoga setengah berlari menyusulnya lebih dulu.


“Lihat para penggemarmu itu ... aku bahkan tidak dilirik oleh pria yang aku sukai.” Lisa menopang dagunya dan pura-pura merajuk. Ia sudah tahu Doni menyukai Freya, tapi tetap saja hatinya berdebar-debar setiap kali melihat pria itu.


Freya menonyor kening Lisa. “Lihat apa yang terjadi kepadaku. Jangan terlalu berharap kepada pria. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kita harus jadi wanita yang mandiri dan kuat.”


Lisa menghela napas panjang dan memasang ekspresi merana. “Tapi aku juga ingin merasakan jatuh cinta dan dimanja oleh orang yang aku sayang ....”


“Kurasa Pak Bayu lebih cocok denganmu,” goda Freya.


Lisa mengernyit jijik. “Eeew ... aku bisa gila kalau berkencan dengannya. Terlalu berisik. Norak. Menjengkelkan. Bukannya terpesona, aku bisa darah tinggi sepanjang waktu.”


Freya tertawa sampai perutnya sakit. Apa yang akan dikatakan oleh Pak Bayu jika mendengar ucapan ini? Kasihan sekali ....


Untung saja Yoga dan Doni kembali tak lama kemudian. Mereka memegang piring, mangkuk dan nampan berisi gelas air putih.


Freya dan Lisa mengeluarkan makanan yang masih berada di bungkusan, memindahkannya ke dalam piring dan mangkuk, lalu mempersilakan kedua pria itu untuk ikut makan bersama.


Yoga sibuk menawari Freya menu yang ada di atas meja meski Freya hampir selalu menolak apa yang ia ambilkan.


Di sebelah Yoga, Doni menunduk dan makan diam-diam. Ia kesal karena Yoga datang mengganggu sekaligus minder karena masakannya jelas tidak sebanding dengan apa yang dibawakan oleh pria itu.


Mengamati kedua pria yang sedang kasmaran itu, Lisa menarik napas lagi dan menggeleng pelan. Ia merasa kasihan kepada dirinya sendiri yang diabaikan, juga merasa kasihan kepada dua orang pejuang cinta yang sudah kalah sebelum berperang, sebab dalam persaingan ini, ia memiliki seorang kandidat yang jauh lebih kuat.


Pak Bos, tenang saja, aku akan menjaga Freya dengan baik.

__ADS_1


***


__ADS_2