
“Brengsek!” umpat Pramudya seraya meninju atap mobil dengan kuat. Ia mengabaikan rasa sakit di buku-buku jarinya dan kembali meninju atap mobil berulang kali. Ia sangat ingin menghajar seseorang untuk melampiaskan kekesalannya.
Tidak peduli itu Tommy, Yoga, bahkan Tari dan Carissa, perempuan atau laki-laki, selama berani mencelakai Freya, ia benar-benar tidak akan melepaskan mereka.
Pramudya menambah kecepatan mobilnya, melesat kencang di jalanan menuju markas pengawal khusus miliknya.
Dengan ancaman yang datang terus menerus dari Tommy dan Tari, ia terpaksa mengambil langkah pencegahan ini: menyiapkan pasukan khusus untuk melindunginya dan Freya. Sayangnya meski telah berusaha semaksimal mungkin, ia masih saja selalu tertinggal satu langkah di belakang.
Markas itu berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Ia menyamarkan tempat itu dengan identitas pabrik pengolahan limbah agar warga sekitar tidak menaruh curiga.
Waktu yang seharusnya ditempuh selama 30 menit dipangkas menjadi separuhnya dengan kecepatan mengemudi Pramudya yang menggila.
Pengawal di pintu masuk telah mendapatkan instruksi dari pemimpinnya sehingga langsung memberikan akses kepada Pramudya untuk masuk.
Pramudya langsung melompat keluar begitu mobil berhenti. Ia bahkan tidak peduli pintu mobilnya telah tertutup rapat atau tidak, melangkah dengan cepat melewati pintu besi dan menyusuri lorong yang panjang.
Seorang penjaga membukakan pintu dan menunduk sopan ketika Pramudya tiba di ujung lorong itu.
Pemandangan pertama yang terlihat adalah Carissa yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Matanya ditutup secarik kain hitam. Rambut pirangnya terserak berantakan. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan seutas tali rami yang kasar. Satu sepatunya terlepas entah ke mana. Mulutnya ditutup dengan lakban sehingga hanya gumaman tidak jelas yang terdengar ketika dia bersuara.
“Di mana orang-orang itu?” tanya Pramudya kepada seorang pengawal yang berdiri paling dekat dengannya.
Pengawal menahan diri untuk menyeka keringat yang bergulir perlahan di keningnya.
Tuan, Anda terbang datang seperti kesetanan. Orang-orang itu masih tertinggal di belakang bersama Tuan Bayu.
“Mereka masih dalam perjalanan, Tuan.” Sayangnya hanya itu yang berani diucapkan oleh sang pengawal.
“Lambat sekali!” gerutu Pramudya sambil menyugar rambutnya dengan kasar.
Sang pengawal buru-buru mengambilkan kursi dan mempersilakan tuannya untuk duduk.
“Jumlah mereka ada dua puluh enam orang. Lima orang ditembak mati, tiga orang patah tangan dan kaki, empat orang sekarat, sisanya hanya luka ringan,” jelas sang pengawal tanpa diminta, berharap laporannya dapat sedikit meredakan emosi sang tuan.
“Singkirkan yang sekarat dan cacat, bawa sisanya ke sini.”
“Baik, Tuan.” Sang pengawal buru-buru mengambil ponsel dan menghubungi Tuan Bayu, memberitahukan perintah yang baru saja diberikan kepadanya.
Di atas lantai, Carissa yang mengenali suara Pramudya menggeliat dan bergumam lebih keras. Ia berharap Pramudya akan segera menolongnya, membuka ikatan di tangan dan kakinya dan membalas orang-orang yang telah menculiknya dengan semena-mena.
__ADS_1
Akan tetapi, setelah berjuang untuk bergerak dan mencari keberadaan Pramudya, bahkan berteriak dan menggeram hingga lehernya sakit, Pramudya tidak memberikan respons apa-apa.
Sekitar lima meter di sisi kanan Carissa, Pramudya menatap wanita itu dengan ekspresi jijik.
Bagaimana bisa dulu ia menjalin hubungan dengan wanita beracun seperti ini? Apa yang hendak dilakukan Carissa terhadap Freya tidak bisa dimaafkan. Dari semua serangan yang terencana itu, jelas Carissa telah mengaturnya dengan matang.
Sejak kapan?
Apakah sejak dia diusir dari kediaman Antasena?
Pramudya mencibir. Seekor ular berbisa harus diberi pelajaran agar jera.
“Pram!” Bayu menyerbu masuk dengan napas terengah. Ia memaki dalam hati. Sahabatnya ini benar-benar bisa kehilangan akal sehat demi istrinya. Maksimal setengah jam. Cih. Ia juga bisa melakukannya hanya dalam waktu 15 menit!
“Di mana orang-orang itu?” tanya Pramudya tanpa menoleh.
“Ada di sini.” Bayu menoleh ke pintu. Ada lebih dari selusin pria yang sedang ditodong senjata laras panjang berdiri menunggu instruksi.
“Bawa mereka masuk.”
Bayu memberi isyarat kepada pasukan khusus milik Pramudya. Ia memaki sahabatnya itu sekali lagi di dalam hati. Kenapa bajingan tengik itu menyembunyikan informasi sebesar ini darinya?
Jika bukan karena insiden ini, ia tidak akan pernah tahu kalau Pramudya menyewa pasukan khusus. Lokasi ini juga baru diberitahukan kepadanya saat dalam perjalanan menyelamatkan Freya tadi.
Bayu membulatkan tekadnya, nanti setelah ini semua selesai, ia akan menuntut penjelasan dari sahabatnya yang kurang ajar itu.
“Buka penutup mata dan mulutnya,” perintah Pramudya.
Dua orang pria segera maju dan melaksanakan perintah itu. Mereka tidak melakukannya dengan lembut, membuat Carissa memekik kesakitan ketika lakban ditarik lepas dengan keras.
Carissa menoleh dengan cepat untuk mencari Pramudya. Sepasang matanya bersinar penuh harap ketika melihat pria yang ia cintai duduk tak jauh darinya.
“Aku tahu kamu akan datang untuk menyelamatkanku! Tangkap mereka! Para bajing*n ini menculikku dan bersikap tidak sopan kepadaku!” serunya dengan mata berkaca-kaca.
Tawa Bayu menyembur tak tertahankan. Wanita licik itu masih belum menyadari situasi sebenarnya, atau dia sedang berpura-pura bodoh?
Pramudya menjentikkan jarinya. Kelima belas orang suruhan Carissa yang selamat didorong maju hingga mendekati wanita itu.
“Kalau kalian ingin tetap hidup, lakukan apa yang wanita ini perintahkan untuk kalian lakukan terhadap istriku,” ucap Pramudya dengan air muka yang sangat tenang. Kata demi kata yang terucap dari mulutnya terdengar datar dan biasa saja, seperti sedang memberitahukan kepada Kikan bahwa rapat dibatalkan karena ia ingin tidur siang.
__ADS_1
“Pramudya!” Carissa berseru dengan suara gemetar. “Apa maksudmu? Kamu pasti salah paham! Aku tidak melakukan apa-apa!”
“Salah paham?” Pramudya menaikkan alisnya. Ia lalu menoleh kepada sepasukan pria yang sudah dihajar sampai babak belur itu.
“Apakah ada kesalahpahaman di sini?” tanyanya.
Sekelompok pria itu menggeleng bersamaan.
“Siapa yang membayar kalian untuk mencelakai istriku?”
“Nona Carissa.” Sekali lagi sekelompok orang itu menjawab bersamaan. Jangan ungkit soal loyalitas. Bisa keluar dari tempat itu hidup-hidup adalah sebuah keajaiban.
Carisa menggeleng keras-keras. “Tidak! Tidak! Mereka pembohong! Pramudya, jangan dengarkan mereka. Kamu tahu aku tidak akan melakukan hal rendah semacam itu!”
“Benarkah?” Pramudya menyodorkan tangannya. Seorang pengawal bergegas memberikan ponsel jadul kepadanya.
“Semua bukti ada di sini. Mulai dari panggilan ke luar hingga pesan yang kau terima. Masih ingin menyangkal?”
Mulut Carissa tiba-tiba terasa kering. Air mukanya berubah pias. Ia mengesot di lantai, berusaha menjauh dari sekerumunan laki-laki yang sedang memandangnya dengan tatapan lapar.
Seseorang memasang tripod dan kamera di sudut ruangan. Dua orang yang lain mengeluarkan ponsel dan bersiap untuk merekam.
"Siarkan secara langsung. Ini adalah hadiah dariku untuk Keluarga Winata."
Carissa semakin panik. Air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Pram, aku mohon ... jangan seperti ini ... aku mengaku salah, tapi tolong jangan lakukan ini ....” Carissa memohon sambil terus mencoba menjauh dari kerumunan pria di dekatnya.
“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Seharusnya kamu memikirkannya baik-baik sebelum menyentuh istriku.” Pramudya bangun dan berjalan keluar dari tempat itu. Ia tidak ingin menyaksikan pemandangan yang akan mengotori matanya.
Bayu berlari keluar, menyusul sahabatnya yang entah sedang menyiapkan apa lagi untuk membalaskan dendam istrinya.
Dari belakang, terdengar lengkingan jeritan yang menyayat hati. Bayu menutup telinga dan berlari semakin cepat.
Meski tindakan Pramudya ini bisa dibilang kejam, tapi Carissa lah yang lebih dulu memancing amarahnya.
Bayu tidak berani membayangkan jika tadi Yoga Pratama terlambat datang seperti dirinya dan Pram. Sekarang ia paham, kenapa sahabatnya itu pergi meninggalkan Yoga bersama istrinya begitu saja.
Situasi ini ... sungguh dilema ....
__ADS_1
***