
Guncangan halus terasa ketika tali parasailing mulai terulur. Freya memejamkan matanya ketika payung besar di atas kepalanya terangkat ke udara, membawa tubuhnya yang tergantung dengan kaki menjuntai ke bawah.
Angin menerpa wajahnya dengan keras, membawa aroma asin air laut yang khas, membuatnya semakin tidak berani membuka mata.
Freya bisa merasakan tali terulur semakin panjang dan tubuhnya terangkat semakin tinggi. Ia menutup dan menggigit bibir keras-keras, mencegah agar dirinya tidak berteriak tak terkendali, sama seperti suara jeritan Lisa yang datang entah dari mana.
Ia tidak berani membuka mata dan mencari di mana keberadaan Lisa dan Pak Bayu. Kaki dan tangannya terasa lemas. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Tadi ia memang sengaja tidak mengatakan dengan jujur kepada Lisa dan Pak Pram: selain tidak bisa berenang, ia juga takut ketinggian. Ia merasa malu untuk mengakuinya. Sekarang ia sangat menyesal. Pasti akan sangat memalukan jika ia tiba-tiba pingsan atau muntah di udara.
Pramudya menoleh ke samping, melihat wajah pucat Freya dan ekspresi ketakutan itu membuatnya merasa sedikit bersalah. Seharusnya tadi ia tidak memaksa istrinya untuk mencoba.
Ia mengulurkan tangan dan mencoba meraih jemari Freya. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Freya berada di sisi kirinya.
“Ada aku di sini!” Pramudya berseru untuk mengalahkan deru angin yang kencang.
Ia menggenggam jemari Freya dengan erat dan kembali berseru, “Kalau takut, berteriak saja! Itu akan membantu membuatmu merasa lebih nyaman!”
Merasakan kehangatan di telapak tangannya dan seruan itu, Freya mengumpulkan keberaniannya dan mencoba untuk membuka mata.
Sedikit demi sedikit, hamparan air laut yang biru cerah terpampang jelas di matanya.
Freya berusaha untuk melupakan rasa takutnya dan mengedarkan pandangan. Ombak berkejaran dan memecah di bibir pantai. Jajaran pepohonan hijau di kejauhan. Dari atas, semuanya terlihat ratusan kali jauh lebih indah.
Ia sedikit memutar tubuhnya menghadap ke arah Pramudya, membalas genggaman tangan pria itu tanpa ragu.
“Pemandangannya sangat indah!” serunya dengan wajah dipenuhi senyuman.
__ADS_1
Meski kakinya yang berayun-ayun di udara bebas membuat perutnya sedikit mual karena gelisah, tapi itu masih bisa diatasi. Ia mulai terbiasa dan dapat menikmati keindahan yang ada di bawah sana. Apalagi dengan adanya pria tampan yang berjanji untuk menjaganya dengan baik.
“Sudah tidak takut?” tanya Pramudya.
Freya mengangguk. Rasa takutnya memang sudah sedikit berkurang, tapi ia merasa berdebar-debar karena alasan yang tidak jelas—entah karena pemandangannya memang indah, atau karena payungnya terbang semakin tinggi, atau karena telapak tangan Pak Pram terasa hangat dan nyaman.
Tentu saja ia tidak mengatakan hal itu kepada suaminya. Ia tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Pak Pram jika mengetahui jantungnya berloncatan setiap kali mereka bersentuhan.
Reaksi ini jelas telah melenceng jauh sejak mereka pertama kali bertemu. Bahkan saat berjalan menuju altar pun ia tidak merasakan apa-apa. Tapi sekarang ... ia tidak memiliki tenaga untuk menyangkalnya lagi. Pesona Pramudya Antasena memang sehebat itu.
Ia harus mengakuinya dengan jujur: waktu yang mereka jalani bersama belum genap satu bulan, tapi ia sudah kalah telak. Ia menyukai Pak Pram.
Jika ia meletakkan sebuah timbangan di dalam hatinya, lalu meletakkan nama Pak Pram di sebelah kanan dan nama Yoga di sebelah kiri, maka ia sangat yakin timbangan itu akan bergerak turun ke sisi kanan.
Mungkin selisihnya beratnya hanya 0,5 gram, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa hatinya mulai dikuasai oleh suaminya.
Freya hampir menjerit ketika tubuhnya sedikit tersentak ke depan. Refleks ia menggapai dan menarik tangan Pramudya dengan keras. Tali mulai digulung ke arah speed boat, menarik tubuh mereka untuk turun.
“Ya. Kamu masih ingin—“
“Tidak!” Freya berseru sebelum Pramudya menyelesaikan ucapannya. Meski terbang bersama orang yang disukai itu cukup mengasyikkan, ia lebih memilih untuk berjalan dengan tenang di atas hamparan pasir putih.
Pramudya tertawa sambil menangkap tubuh Freya. Kakinya yang panjang lebih dulu menjejak di permukaan speed boat sebelum istrinya mendarat dengan baik.
“Terima kasih.” Freya menumpu bobot tubuhnya pada kedua lengan suaminya yang kokoh.
Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Saling memandang dalam diam, hingga akhirnya suara si gondrong terdengar di samping mereka.
__ADS_1
“Bli dan Gek ayu ini mau coba yang lain? Ada *flyboard, jet ski, marine*—“
“Yang bisa untuk dua orang yang mana?” sela Pramudya.
“Jet ski bisa ... kalau Bli sudah mahir, tidak perlu pendamping.”
“Kamu mau?” Pramudya berbalik dan bertanya kepada Freya.
Lutut Freya gemetaran. Ia hampir tidak bisa berdiri dengan benar, tapi pria yang disukainya menawarinya permainan lain yang bisa dilakukan oleh dua orang dan dirinya bahkan tidak ingin menolak tawaran itu.
Perubahan ini terlalu menakutkan. Freya merasa sedikit khawatir. Takutnya pada akhirnya ia akan rela melakukan apa saja demi Pak Pram.
Berbanding terbalik dengan Freya yang masih ingin mencoba beberapa wahana lainnya, Lisa telah menyerah setelah menjajal parasailing dan jet ski.
Ia terlempar dari atas jet ski ketika Pak Bayu melakukan manuver tajam di tengah laut. Meski memakai jaket pelampung, ia sempat menelan beberapa teguk air laut. Hal itu membuatnya trauma dan lebih memilih untuk menikmati ikan bakar dan es kelapa muda di tempat makan yang tersedia di kawasan Pantai Tanjung Benoa.
Karena merasa bersalah, Bayu memutuskan untuk menemani Lisa di saja. Ia benar-benar lupa kalau gadis yang duduk di belakangnya saat mengendari jet ski tadi adalah seorang amatir.
Meski sudah meminta maaf berulang kali, ia masih tetap merasa tidak enak hati. Oleh sebab itulah ia berusaha menebusnya dengan mengajak Lisa berkeliling dan mencari makanan yang enak.
Di sisi lain, Freya tidak bisa menolak semua tawaran yang datang dari Pramudya Antasena. Kepalanya bergerak otomatis, mengangguk setiap saat seperti pajangan yang ada di dasbor mobil.
Sepanjang hari itu tubuhnya terhuyung-huyung berpindah dari satu wahana ke wahana yang lain. Mulai dari jet ski, banana boat, sampai marine walker, semuanya ia coba. Tentu saja Pak Pram ikut bersamanya mencoba semua wahana itu.
Meski merasa lelah dan harus berjuang sekuat tenaga untuk melawan rasa takutnya, Freya merasa semua pengorbanannya itu tidak sia-sia. Untuk pertama kalinya, ia bisa mendengar suara tawa lepas yang datang dari mulut suaminya. Ia juga bisa melihat senyuman hangat yang tulus dan kebahagiaan di wajah pria itu.
Rasa lelah dan ketakutan yang ditahannya benar-benar sepadan untuk melihat senyuman itu...
__ADS_1
***
Hayo, tebak, siapa yang bucin duluan 😁