Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Teman Baik Memberi Saran


__ADS_3

Pagi itu Lisa terbangun karena nada dering ponselnya yang terus berbunyi tanpa henti. Tadinya ia pikir itu adalah bunyi alarm. Namun, ketika menggapai dan melihat nama yang tertera di layar ponsel, sepasang matanya langsung terbuka lebar.


Ada apa Pak Bayu meneleponnya pagi-pagi begini?


“Halo, Pak?” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.


“Jam segini baru bangun. Gadis macam apa ini?”


Lisa menguap lebar, mengaikan ucapan pria menjengkelkan dari sambungan telepon.


Pak, kalau mau minta tolong setidaknya bicaralah yang sopan. Mau bangun berapa, apa urusannya denganmu? Memangnya kamu siapa? Ayahku?


“Freya pergi dari rumah tadi malam. Coba cek ponselmu, dia menghubungi kamu atau tidak?”


“Apa?” Informasi itu membuat Lisa berhenti memarahi Pak Bayu dalam hati. Tadi malam sepulangnya dari kafe, ia langsung tidur.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia pergi dari rumah?” tanyanya.


“Pramudya menceraikannya. Tapi—“


“Apa?!” Kantuk Lisa langsung menghilang. Ia melompat turun dari atas ranjang sambil mengomel. “Kenapa begitu? Memangnya apa salah Freya? Kalian para pria memang brengsek! Aku sudah bilang kepadanya, orang kaya itu bajingan, tapi dia tidak percaya! Sekarang lihat akibatnya! Kalau sudah begini siapa yang rugi?!”


Lisa yang ingin memaki lagi mendadak terdiam ketika teringat sedang bicara dengan siapa.


“Sudah puas?”


Lisa menggigit bibirnya. Sial. Suatu hari nanti dirinya pasti akan babak belur karena mulutnya yang tidak memiliki rem ini.


“Sebelum kamu lanjut memaki, dengarkan aku bicara. Pramudya terpaksa melakukannya. Dia harus menjauhi Freya agar tidak menjadi sasaran orang-orang itu. Kamu tidak boleh membocorkan hal ini kepadanya, kalau tidak ... kamu tanggung sendiri akibatnya,” jelas Bayu.


Lisa menahan keinginan untuk menangis. Kalau tidak boleh memberitahukan hal ini, lalu mengapa mengatakannya kepada dirinya? Sudah tahu mulutnya tidak bisa dikontrol. Pak Bayu sepertinya sengaja ingin menjerumuskan dirinya dalam bahaya.


Seolah bisa membaca pikiran Lisa, Bayu berkata, “Tugasmu adalah mengirimkan foto kepadaku. Minimal sehari tiga kali. Kamu harus terlihat natural, tidak boleh membuat Freya curiga.”


Lisa duduk dan menggigit bibirnya dengan keras.


Ya, Tuhan. Tugasnya semakin berat.


“Bayaranmu akan diberikan tiga kali lipat. Ingat, jangan sampai Freya curiga. Jika ada hal mencurigakan, langsung laporkan kepadaku. Mengerti?”

__ADS_1


Lisa mengangguk pasrah.


“Mengerti tidak?”


Lisa menepuk keningnya, lupa kalau sedang berbicara di telepon. Ia menjawab, “Iya, Pak.”


“Dia pasti sedang mencari tempat tinggal. Aku akan kirimkan brosur apartemen kepadamu. Tawarkan kepadanya. Lokasinya ada di dekat kampus. Bilang saja ada promosi tanpa uang muka. Bujuk dia agar mau tinggal di sana. Ingat, tidak boleh membuatnya curiga.”


Lisa cemberut. Pantas saja bayarannya sangat mahal. Ia harus menyimpan rahasia, tidak boleh membocorkannya. Masih harus juga mengambil foto dan membuat laporan minimal tiga kali sehari tanpa ketahuan, lalu ditambah dengan membujuk untuk tinggal di apartemen yang memberikan harga miring tanpa menimbulkan spekulasi. Kenapa tidak menyuruhnya menyamar menjadi agen FBI sekalian? Atau shooting Mission Impossible 4 dengan Tom Cruise.


“Gadis tengil, kamu dengar aku tidak?” seru Bayu dari ujung telepon.


“Siapa gadis tengil? Kamu yang gadis tengil! Banyak maunya, tidak sopan pula! Huh! Pantas saja tidak punya pacar!” Lisa langsung memutuskan sambungan telepon dengan kesal. Pagi-pagi menelepon membuat orang emosi saja.


Ia lalu buru-buru membuka kotak pesan dan memeriksa di antara beberapa chat yang masuk. Memang ada pesan dari Freya yang dikirimkan pada pukul 01.05.


[Aku sudah bercerai]


[Katanya dia sudah bosan]


[Lisa, aku sangat sedih ....]


*tautan lokasi*


[Kabari aku kalau kamu sudah bangun]


Lisa langsung mengetik pesan balasan.


[Aku ke sana sekarang]


Setelah mengirimkan pesan itu, ia langsung melesat ke kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi, lalu ganti pakaian dan memesan ojek online. Mandi nanti saja.


Dua puluh menit kemudian, Lisa sudah berada di depan pintu kamar nomor 104, tempat Freya menginap. Ia mengetuk pintu tiga kali meski telah mengabari melalui WhatsApp bahwa ia telah tiba.


Pintu terbuka. Wajah Freya yang pucat dan penampilannya yang berantakan menyambut Lisa. Ia menghambur masuk dan memeluk Freya erat-erat.


“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.


Mendapat perlakuan seperti itu, Freya yang tadinya sudah sedikit lebih baik malah jadi ingin menangis. Ia membenamkan wajahnya di pundak Lisa dan terisak.

__ADS_1


Lisa mengetatkan pelukannya sambil mengumpat, “Pria kaya memang brengsek, Pak Pram tidak terkecuali. Dia memang bajingan, berani-beraninya bersikap seperti ini kepadamu. Aku akan menghajarnya sampai cacat!”


Freya menangis semakin keras.


Lisa diam-diam menyeka keringat di dahinya.


Pak Bos, maaf, Pak Bayu bilang Freya tidak boleh curiga. Kalau mau berakting, harus totalitas.


“Dia mencampakkan aku ... katanya dia sudah bosan. Hatiku sakit sekali. Memangnya ... ugh, memangnya aku ap ... apa? Main ... mainan?” Freya terbata-bata, mengusap matanya yang terasa perih dan menyusut ujung hidungnya dengan lengan baju.


Lisa mengusap-usap punggung Freya dan menuntunnya ke sofa. “Sudah ... sudah, lupakan pria brengsek itu. Kamu pasti belum makan, ‘kan? Mau aku belikan apa? Nanti setelah makan, kita pergi cari tempat tinggal yang cocok untukmu. Kamu harus kuat ... kamu harus bangkit, jadilah versi dirimu yang terbaik agar pria brengsek itu menyesal setengah mati karena sudah mencampakkan gadis cantik dan mandiri sepertimu.”


Setelah mengucapkan serentetan omong kosong itu, Lisa menahan diri untuk tidak mengacungkan jempol untuk dirinya sendiri. Rasanya ia ingin membuka kelas motivasi bagi orang-orang yang sedang patah hati.


Meski tangisannya belum benar-benar mereda, Freya membenarkan ucapan Lisa dalam hati. Ia harus kuat. Ia harus membuktikan kepada Pramudya Antasena bahwa dirinya bisa sukses dan semakin bersinar, bukannya patah hati dan terpuruk dalam kesedihan berlarut-larut.


Freya mengambil tisu dan menyeka air matanya. “Aku sudah memikirkannya sepanjang malam. Aku ingin memulai usaha sendiri, menjual desain pakaian melalui media sosial. Instagram, TikTok, kalau perlu buat website. Sekarang semua bisa dijual online. Kamu mau membantuku?”


Lisa mengangguk dengan mantap. “Tentu saja. Aku pasti akan membantumu.”


“Aku akan mengembalikan kepengurusan kafe kepada—“


“Jangan!” seru Lisa dengan lantang. Ia lalu buru-buru menggerakkan tangan di udara dengan kikuk ketika menyadari responnya sedikit berlebihan.


“Um, maksudku, kalian memang sudah bercerai, tapi kamu harus tetap bersikap profesional. Bukankah si brengsek itu hanya sebagai pemilik modal dan kamu yang mengelola kafe? Laporan bulanan bisa dikirimkan melalui e-mail, tidak perlu menemuinya. Kamu bisa memanfaatkan area bawah, tambahkan ruang untuk membuat butik kecil-kecilan, pajang hasil karyamu untuk menarik minat pelanggan. Apalagi kamu tahu kafe itu cukup ramai. Pria dan wanita yang berkunjung ke sana bisa sekalian melihat-lihat ... bagaimana?” Lisa menggigit bibirnya setelah selesai berbicara. Sepertinya ia semakin lihai menyebut Pak Bos dengan sebutan pria brengsek hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Kalau pria itu sampai tahu, apakah dirinya akan dipecat?


Freya mengatur napasnya dan mencoba menyingkirkan semua bentuk emosi yang akan membuatnya tidak objektif.


Setelah berpikir dengan jernih, sekali lagi ia sepakat dengan ucapan Lisa. Masih ada ruang kosong di lantai bawah kafe yang tidak digunakan secara optimal. Dengan tabungan yang dimilikinya, seharusnya bisa merenovasi tempat itu menjadi mini butik.


“Kalau begitu, kamu saja yang berurusan dengannya untuk menegosiasikan harga,” ucapnya setelah mengambil keputusan.


“Oke!” Lisa mengacungkan jempolnya dengan bersemangat. “Kamu serahkan saja kepadaku!”


“Terima kasih.” Freya memaksakan diri untuk tersenyum. Ia bersandar di bahu Lisa dan bergumam, “Lisa, kamu satu-satunya teman baik yang aku miliki. Terima kasih selalu ada untukku ....”


Lisa merangkul bahu Freya dan membalas, “Sama-sama ... susah senang kita hadapi bersama, ya. Kamu jangan sedih lagi ....”


Freya mengangguk. Ia akan berusaha kuat untuk tidak bersedih lagi. Masa depan masih panjang, jangan sampai rusak hanya karena seorang pria bajingan.

__ADS_1


***


__ADS_2