
Yoga menatap punggung Freya yang menjauh. Ia berkedip, menahan air mata yang ditahannya sejak tadi agar tidak bergulir turun. Mahasiswa yang baru datang memberinya tatapan aneh, tapi ia tidak peduli, ia masih berdiri di tempat semula dan memandangi tempat di mana Freya tidak lagi terlihat.
Hatinya sangat sakit. Tapi, meski Freya mengatakan semua kalimat yang menyakitkan itu, ia sudah bertekad akan menjadi orang paling pertama yang hadir ketika gadis itu membutuhkan pertolongan.
Ia tahu bahaya yang lebih besar sedang mengancam Freya. Namun, untuk saat ini ia tahu Freya tidak akan mendengarkan apa pun yang diucapkan olehnya. Jadi yang bisa dilakukannya hanya menjaganya dalam diam sambil berharap gadis itu akan berubah pikiran suatu saat nanti.
Yoga mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak menyangka akan memperoleh akhir seperti ini ketika kembali ke Indonesia. Tiga tahun bekerja keras untuk memuaskan kakeknya, hanya demi bisa kembali untuk mencari Freya, tapi gadis itu telah menjadi milik orang lain. Dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah kenyataan itu.
Sudah sangat terlambat. Apa yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi: Freya benar-benar jatuh hati kepada Pramudya Antasena.
Harus ia akui, pesona Pramudya memang tidak dapat ditolak. Siapa yang tidak bisa jatuh hati kepada pria itu? Apa lagi Freya tinggal serumah dengan pria itu, bertemu dan berinteraksi setiap saat, hal yang lumrah jika akhirnya gadis itu jatuh hati kepada suaminya.
“Dasar bodoh. Tidak berguna.” Yoga memaki dirinya sendiri. Jika ada yang harus disalahkan atas semua kejadian ini, maka orang itu adalah dirinya. Ia sendiri yang datang terlalu terlambat.
Sekarang menyesal pun tidak berguna. Kecuali Pramudya melakukan kesalahan fatal yang tidak dapat dimaafkan. Mungkin jika itu terjadi, maka kesempatannya untuk merebut kembali Freya bisa meningkat.
Berbicara mengenai kesempatan, Yoga menggeram dan berbalik memasuki mobilnya. Ia masih harus membuat perhitungan dengan Tommy Antasena.
Kotoran di pakaian Freya dan temannya tadi jelas merupakan salah satu trik licik yang dilakukan oleh pria itu dan ibu tirinya, atau wanita gila bernama Carissa itu. Entah apa yang sedang mereka rencanakan, tapi ia sudah berulang kali menegaskan: tidak boleh mencelakai Freya.
Suara ban mobil yang berdecit meninggalkan kepulan debu di udara. Yoga menginjak pedal gas dalam-dalam, menuju gedung PT.Permata Buana dengan kecepatan penuh.
Beberapa kali ia hampir melanggar lampu lalu lintas yang menyala merah, menyebabkan suara klakson yang berbunyi nyaring datang dari segala arah, tapi ia tidak peduli.
Ketika tiba di PT.Permata Buana, Yoga memarkir mobilnya di depan dan berderap menuju meja resepsionis.
“Di mana CEO kalian?” tanyanya.
“Maaf, apakah Anda sudah membuat janji temu sebelumnya?” Sang resepsionis tetap tersenyum dan mencoba untuk bertanya dengan sopan meski penampilan tamu di depannya terlihat seperti ingin berkelahi.
“Katakan kepada Tommy, Yoga Pratama ingin bertemu.”
“Tapi, Pak, Anda tidak bisa—“
__ADS_1
Yoga menggebrak meja dengan kepalan tangannya. “Di mana dia?”
Sang resepsionis terkejut dan tersentak dari kursinya. “Security!”
Dua orang pria berseragam keamana segera menghampiri, dengan sigap mengapit di sisi kanan dan kiri Yoga.
“Aku akan menghancurkan tempat ini jika kalian tidak memanggilnya keluar sekarang!” ancam Yoga.
Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dengan bukti-bukti penggelapan dan kerja sama yang ia miliki dengan Tommy, bukan perkara yang sulit untuk meratakan PT.Permata Buana dengan tanah, meski itu berarti ia harus ikut hancur bersama Tommy Antasena.
“Tapi Pak Tommy sedang tidak ada di kantor.” Sang resepsionis yang sekarang mulai merasa ketakutan mencoba untuk menjelaskan.
“Aku tidak peduli. Panggil dia datang sekarang.”
“Tuan, Anda tidak boleh membuat keributan di sini. Silakan menunggu di luar,” tegur salah seorang security yang bertubuh kekar.
Yoga memberinya tatapan garang. “Panggil tuanmu sebelum aku membuat keributan yang lebih besar!”
Kedua security itu saling memandang dengan ekspresi serba salah. Dari tampilan dan pakaian yang dikenakan, jelas tamu tak diundang yang membuat ulah ini bukan orang biasa. Bagaimana jika ternyata mereka tidak sengaja menyinggung orang penting atau salah satu rekan bisnis bos.
“Cepat panggil—“
“Ada apa ini? Siapa yang membuat onar pagi-pagi begini?”
Semua orang menoleh ke arah sumber suara.
Tommy Antasena melangkah masuk dari pintu utama. Cahaya matahari menerpa punggungnya dari belakang. Kancing jasnya terbuka. Begitu pula dua kancing teratas dari kemeja putih yang dikenakannya.
Sang resepsionis terkesima dan lupa menyapa atasannya. Entah mengapa penampilan sang CEO yang terlihat sembrono dan asal-asalan itu justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuatnya enggan berkedip.
Sayangnya semua pemandangan indah itu tidak berlangsung lama. Entah bagaimana, tiba-tiba Yoga sudah berada di hadapan Tommy, lalu mengayunkan tinju dengan kekuatan penuh.
“Ugh!” Tommy mengerang seraya memegangi perutnya. Ia terbungkuk sambil meringis menahan sakit.
__ADS_1
“Tuan!” Kedua orang security segera maju. Satu memapah Tommy, satu lagi memegangi Yoga.
“Lepaskan aku, baji ngan!” Yoga meronta, tapi petugas keamanan itu mengunci kedua tangannya ke punggung dan menekan tubuhnya dengan kuat.
“Kamu ... ah, sialan ....” Tommy mendesis dari sela giginya. Ia memelototi Yoga, kesal karena tiba-tiba dipukuli tanpa alasan yang jelas.
“Kamu yang sialan! Aku sudah peringatkan, jangan sentuh Freya!” Yoga berteriak penuh amarah.
“Kamu gila? Aku tidak melakukan apa-apa!” Tommy berusaha menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Rupanya rumor bahwa ahli waris Pratama Group adalah mantan petarung jalanan bukanlah bualan belaka. Pukulan barusan hampir membuat napasnya putus.
“Lepaskan dia,” perintahnya kepada security yang masih memegangi Yoga.
“Tapi—“
“Tidak apa-apa, lepaskan.”
Security itu melepaskan kunciannya dengan enggan. Ia menatap setiap gerak-gerik Yoga dengan waspada, jangan sampai menyerang sang CEO lagi.
Yoga melangkah satu demi satu menghampiri Tommy sambil berkata, “Peringatkan ibumu dan Carissa, aku tidak akan segan jika ada di antara mereka yang menyentuh Freya lagi.”
“Kamu tahu, apa yang mereka lakukan tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak bisa ikut campur tangan dalam rencana mereka.” Tommy tersenyum tak berdaya sambil mengangkat bahunya.
Melihat tingkah Tommy membuat Yoga sangat ingin meninjunya sekali lagi, tapi ditahannya dorongan itu.
“Kamu tahu apa yang bisa aku lakukan jika terjadi sesuatu kepada Freya,” ucapnya dengan penuh peringatan.
Tommy terdiam dan membalas tatapan berapi-api yang ditujukan kepadanya. Sejujurnya, ia pun tidak ingin istri Pramudya terluka. Gadis itu tidak bersalah dalam permainan kotor yang sedang mereka mainkan.
Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya dan menempelkannya di dada Yoga.
“Jangan sampai terlambat,” ucapnya.
“Apa ini? Apa maksudnya jangan terlambat?” tanya Yoga. Tangannya menggapai sepotong kertas yang terlepas dan melayang di udara.
__ADS_1
Tommy mengabaikan pertanyaan itu. Ia berbalik dan pergi. Apa yang terjadi setelah ini, bukan urusannya lagi. Sekarang hasil akhir berada di tangan Yoga Pratama sepenuhnya.
***