Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Malam yang Panjang


__ADS_3

Mulut Freya yang sudah terbuka untuk membantah setiap ucapan Pramudya tidak jadi mengeluarkan suara. Rasa hangat dan lembap membuatnya lupa kalau sedang marah.


Ia berkedip dengan linglung.


Pria ini pernah mengatakan menyukai dirinya. Dia juga mengajaknya berpacaran dengan lantang dan semena-mena, tapi baru kali ini dia mengatakan “aku mencintaimu”.


Apa itu cinta?


Omong kosong.


Kata-kata manis yang diucapkan seorang pria di atas ranjang sama sekali tidak bisa dipercaya.


Freya memalingkan wajahnya sehingga bibir Pramudya meleset, menempel di dagunya.


“Menyingkir,” desisnya.


Napas Pramudya berat dan dalam. Api yang berkobar semakin besar dan ia tidak bisa menahannya lagi. Tapi istrinya masih marah.


Ini adalah siksaan terberat yang pernah ia alami seumur hidupnya.


“Freya, aku harus bagaimana agar kamu mau memaafkanku?” Pramudya memohon dengan sangat rendah hati.


Sikap itu membuat hati Freya gamang. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu Pramudya melakukan semua itu demi dirinya. Akan tetapi, kata-kata yang melukai itu juga terlanjur tertoreh dalam. Bukan perkara mudah untuk memulihkan hatinya yang terluka.


Matanya memanas lagi. Perasaan yang campur aduk seperti ini membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan benar.


“Sayangku, maaf, ya. Jangan marah lagi. Aku sungguh tidak berniat untuk mempermainkan kamu. Ketika datang ke sini, aku belum berani berterus terang karena situasi belum benar-benar stabil. Tapi sekarang ... sekarang kita bisa pulang.” Pramudya mengusap air mata yang membasahi wajah istrinya. Rasa bersalah membuat hatinya sesak. Ia tidak pernah ingin melihat istrinya menangis seperti ini.


“Kenapa tidak mengatakannya sejak awal? Aku bisa membantumu. Kita bisa mengatasinya bersama. Kenapa harus dengan cara seperti itu?” Freya menoleh, menatap wajah Pramudya dengan sepasang matanya yang memerah.


“Kalau aku jujur padamu sejak awal, apakah kamu mau pergi? Kamu mau bersembunyi? Atau kamu mau berpura-pura tidak memiliki hubungan denganku?” Pramudya balas bertanya.


Freya tidak langsung menjawab. Ia mencerna semua pertanyaan itu dan menimbangnya dalam hati. Jika Pramudya mengatakan seluruh kebenarannya sejak awal, sudah pasti ia akan bersikeras untuk membantu pria itu, tidak peduli apa yang terjadi. Tidak ada keraguan sedikit pun.


“Saat kamu diculik untuk yang kedua kalinya, aku sudah mengerahkan semua kemampuanku, tapi masih saja tetap terlambat. Yoga yang lebih dulu menemukanmu.”


Freya seperti seekor anak rusa yang tersesat, terpaku menatap wajah suaminya yang sangat menderita.


“Jadi kamu tahu aku diculik?” tanyanya pelan.


Pramudya mengangguk. Ada rasa bersalah sekaligus tak berdaya yang melintas di matanya. Kesedihan dan rasa takut itu bukan pura-pura.


“Saat itu aku berpikir jika keadaan terus seperti itu, cepat atau lambat aku pasti akan benar-benar kehilangan dirimu. Aku tidak bisa, Freya, lebih baik mereka membunuhku daripada menyakitimu.”


“Untuk apa bicara omong kosong? Siapa yang bisa membunuhmu? Bajingan sepertimu pasti berumur panjang.” Freya memaki dan meninju dada Pramudya sambil melotot.


Pramudya tertawa kecil. Ia menunduk, menempelkan ujung hidungnya di kening istrinya.


“Sudah tidak marah?”


Freya mendorong-dorong dada Pramudya agar menjauh. Bagaimana bisa marah lagi? Semua ucapan itu sangat masuk akal. Ia tidak bisa membantahnya, tapi ego dan harga dirinya melarang untuk memaafkan dengan mudah.


“Menyingkir dulu. Aku tidak bisa bernapas,” elaknya.


“Aku tidak mau menyingkir kalau kamu masih marah.”

__ADS_1


“Aku akan semakin marah jika kamu tidak mau bangun.”


Pramudya menghela napas panjang, menumpu dengan sikunya dan mengangkat separuh tubuhnya.


“Begini sudah bisa?” tanyanya.


“Kamu ingin membuatku emosi sampai mati, ya?” Freya mendelik. Ia masih tidak bisa bergerak.


“Freya ....” Pramudya menelan ludah, menatap lekat wajah istrinya. Tuhan yang tahu seberapa besar rasa rindunya.


Freya ikut menelan ludah dan mengelak. Tatapan itu terlalu berbahaya. Ia bisa merasakan ada percikan api yang tersulut di antara mereka berdua.


Pramudya memanggil nama istrinya sekali lagi, memohon agar gadis itu melihat ke arahnya dengan sukarela.


Jantungnya berdebar tak beraturan. Rasanya seperti ada sekelompok kuda yang berderap di dalam rongga dadanya. Istri kecilnya sangat manis dan imut, ia tak sanggup mengalihkan pandangannya.


“Istriku, jangan marah lagi, ya ....” Pramudya menunduk dan menjarah bibir istrinya sekali lagi.


Suara desahann yang tertahan bergema di udara.


Kali itu Freya tidak menolak. Ia melingkarkan tangannya di leher Pramudya dan membalas ciuman suaminya dengan emosi yang bercampur menjadi satu. Ia menggigit dan menyesap bibir pria itu dengan keras.


Pramudya mengernyit, tapi tidak ada keluhan yang terlontar keluar. Ia menekan leher istrinya dan memperdalam ciuman mereka.


Gigit saja. Ia tidak keberatan.


Telapak tangannya bergerak ke atas, menangkup bukit yang membusung dengan indah, merem*snya pelan sehingga tubuh mungil istrinya tiba-tiba menegang seperti tersengat listrik.


“Pramudya Antasena!”


Freya menelan ludah dengan susah payah. Barusan itu suara Pramudya lebih terdengar seperti gumaman karena rasa nikmat daripada jawaban atas teriakannya.


Cuping telinga Freya memerah. Suara pria brengsek yang ternyata masih menjadi suaminya ini sangat seksi. Ia benar-benar merasa akan hamil hanya dengan mendengar desahannya barusan.


Pramudya menyusupkan wajahnya di ceruk leher Freya dan berbisik, “Sayang, aku menginginkanmu. Bolehkah?”


Bolehkah?


Setelah semua yang mereka lalui ....


Freya ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia mengangkat kepalanya dan mencium bibir Pramudya sambil memejamkan mata.


Pramudya menggeram rendah. Ia menarik blus Freya dan melemparkannya ke lantai. Hanya tersisa sebuah bra berenda yang membungkus gundukan kenyal dan lembut yang membuatnya semakin lapar.


Jari-jari mungil Freya bergerak ke atas, berusaha melepaskan kancing kemeja suaminya dengan gerakan yang kaku.


Pramudya membantu istrinya dengan tidak sabar, hampir merobek lepas kemejanya sendiri ketika melepaskan kancing yang terakhir.


Ia mengerang ketika jari-jari istrinya menyentuh kulitnya yang tidak lagi ditutupi oleh lapisan kain.


Nyala api berkobar semakin besar.


Suara yang ambigu bergema di udara.


Freya terengah-engah dan gemetar ketika telapak tangan yang mengusap kulitnya digantikan oleh lidah yang panas sekaligus lembap. Seluruh tubuhnya seolah terbakar. Ia menggeliat dan ingin melepaskan diri dari siksaan itu. Akan tetapi, gerakan itu justru membuat suaminya menekan semakin kuat, tidak mengizinkannya untuk melarikan diri.

__ADS_1


Pramudya merasa dirinya seperti akan meledak. Sungguh tidak sanggup menahan diri lebih lama lagi.


“Sayangku, tahan sedikit ....”


Freya menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia mencengkeram kedua lengan Pramudya sambil mendesis kesakitan.


Pramudya berhenti bergerak. Ia membungkuk dan mencium bibir Freya, lalu mengusap air mata yang mengambang di sudut-sudut mata istrinya itu.


“Sakit?” tanyanya seraya mengecupi seluruh wajah Freya dengan sangat lembut. Seberapa besar pun hasratnya, ia tetap tidak rela melihat istrinya kesakitan seperti ini.


Freya mengangguk.


Sialan. Kenapa tidak ada yang memberitahukan kepadanya kalau rasanya akan sesakit ini?


“Maaf ... berhenti saja. Aku—“


“Lanjutkan.” Freya menarik leher Pramudya dan menggigitnya dengan keras.


Harus adil.


Siapa bilang hanya perempuan yang bisa merasakan sakit saat melakukannya pertama kali?


Ia sangat pendendam dan perhitungan.


Salah siapa menginginkan dirinya.


Pramudya terkejut sebentar, tapi sedetik kemudian ia menunduk dan menyapukan lidahnya di bibir Freya, mengisap dengan sangat kuat seraya menekan pinggulnya; menembus selubung tipis yang menjadi penghalang.


Teriakan Freya dibungkam oleh ciuman Pramudya yang membuatnya tidak tahu harus merasakan yang mana.


Lidah suaminya terus membujuk dengan penuh gairah, sementara di bawah sana inti tubuhnya terasa sangat penuh dan sesak.


Ia tidak berani bergerak, bahkan bernapas pun dengan sangat hati-hati, tapi setiap sentuhan suaminya membuatnya merespons di luar kendali.


“Pram?” Freya melingkarkan kakinya di pinggul Pramudya. Matanya terpejam erat, tidak sanggup menahan siksaan ini lebih lama lagi.


"Ya, Sayangku?” Penampilan dan suara istrinya yang seperti ini membuat Pramudya hampir gila.


Indah sekali.


Ia menunduk dan mencium bibir istrinya sekilas, lalu mengunci tubuh mereka berdua dan menghunjam dengan kuat.


Freya memekik. Ia memeluk leher Pramudya erat-erat.


Kepalanya tersentak ke atas saat gelombang yang dahsyat datang dan menghantamnya dengan keras.


Gemetar ....


Sepertinya malam ini ditakdirkan untuk menjadi malam yang panjang.


***



yuhuu, jangan lupa komen, like, dan vote ya. thank you ...

__ADS_1


__ADS_2