Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Kebenaran Waktu Itu


__ADS_3

Karena pengakuan Pramudya sebelumnya, Tari tidak lagi banyak berkomentar. Entah percaya dengan perkataan Pramudya atau tidak, atau karena teguran Pak Tua dan peringatan dari Tommy, wanita itu hanya duduk dengan tenang dan makan dalam diam. Dia tidak mencari masalah lagi.


Pak Tua sangat memanjakan Freya. Ia menyuruh koki memasakkan menu baru khusus untuk Freya. Tentu saja itu adalah hidangan untuk membuat ia bisa segera menggendong cicit yang gemuk dan lucu.


Mendengar perintah itu sekali lagi Freya terbatuk sampaik hampir kesulitan bernapas. Ia semakin ingin pingsan ketika Pramudya meminta agar koki menyiapkan hidangan itu sesegera mungkin.


Ia menoleh dan memelototi pria itu dengan ganas, tapi Pramudya hanya tersenyum tipis dan mengusap punggung tangannya dengan lembut. Refleks Freya menarik tangannya secepat kilat. Ia sangat takut. Pak Pram yang bertingkah aneh terlalu mengerikan.


Freya menghabiskan makan malamnya dengan susah payah. Rasa lapar yang semula mendera entah raib ke mana. Semua hidangan yang tampak lezat mendadak terasa hambar di lidahnya.


Bagaimana tidak? Sepanjang jamuan makan malam itu, Pramudya terus beromong kosong dan bersikap tidak masuk akal. Ia sampai merinding dan ingin melarikan diri dari sisi pria itu. Untung saja semuanya berakhir dengan tenang tanpa terjadi bencana yang tidak diinginkan.


Setelah makan malam selesai, Pak Tua langsung menyeret mereka ke ruang keluarga dan mulai menginterogasi dengan penuh semangat.


Freya duduk dengan pasrah di sisi Pramudya dan membiarkan pria itu membual sesuka hatinya. Jelas-jelas pernikahan palsu mereka akan berakhir dalam enam bulan, tapi Pak Pram bertingkah seolah mereka akan hidup bersama selamanya. Tiba-tiba Freya merasa sakit kepala.


Pramudya yang sibuk berakting itu masih sempat menatap Freya dan sedikit menahan tawa melihat wajah imutnya yang kusut. Sejujurnya, setelah mendapatkan informasi yang ia inginkan dari Bayu, pandangannya terhadap istri kontraknya itu sedikit berubah. Jelas ia berutang nyawa dan sebuah sepeda motor kepada gadis itu.


Astaga, bagaimana ia harus menjelaskan kepada istrinya bahwa sepeda motornya telah hancur ditabrak oleh orang-orang yang mengejarnya?


Pramudya diam-diam melirik ke arah Tommy yang terlihat acuh tak acuh. Waktu itu, ia kembali terpergok setelah meninggalkan tempat kerja Freya. Untung saja Bayu mengirimkan bantuan tepat waktu. Kalau tidak, entah ia bisa menyelamatkan diri atau tidak. Lalu, serangan empat hari lalu ....


“Katakan kepada Kakek, apa yang kalian inginkan sebagai hadiah pernikahan?”


Pertanyaan kakeknya membuat Pramudya mengalihkan fokus dari Tommy. Ia menatap kakeknya dan menjawab, “Kakek tidak perlu repot. Cukup datang saja di resepsi penikahan kami nanti.”


Menyinggung mengenai resepsi pernikahan, Pak Tua mengomel lagi, “Bocah busuk, kamu masih ingat untuk menyuruh Kakek datang? Kalau bukan Tommy yang memberitahukannya kepada Kakek, apakah kamu akan tetap diam sampai kiamat? Dasar cucu durhaka!”


“Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, tolong kakekku yang baik hati ini untuk memaafkan aku, ya,” pinta Pramudya dengan rendah hati.

__ADS_1


Lagi pula, ia tahu itu adalah kesalahannya karena telah melupakan kakeknya dan sibuk mengurusi hal lainnya. Selain itu, mulanya ia menganggap pernikahan ini sama sekali tidak penting, hanya sebuah perjanjian bisnis belaka. Akan tetapi, sekarang ia sedikit merasa berutang budi kepada istri kecilnya ini.


Pria Tua itu akhirnya hanya bisa melambaikan tangannya dengan pasrah. Salah sendiri ia sangat menyayangi cucunya itu. Ia tahu Pramudya sangat sibuk. Lagi pula ia juga sudah bertemu dengan cucu menantunya ini, ia tidak akan mempermasalahkannya lagi.


“Karena semua sudah berkumpul, hari ini kalian menginap di sini saja. Kalian bisa tidur di kamar lamamu,” ucap Pak Tua.


Freya terlihat sedikit tidak nyaman. Ia menatap Pramudya dan berkedip dua kali, memberi isyarat kepada pria itu untuk menolak tawaran kakeknya.


Untung saja Pramudya mengerti maksudnya dan segera berkata, “Tidak perlu, Kakek. Aku dan Freya masih harus—“


“Sudahlah, hanya satu malam. Setelah hari ini belum tentu kalian akan datang dan menginap di sini lagi. Anggap saja menemani Kakek menginap di sini. Ini sudah terlalu malam, Kakek tidak mungkin kembali ke vila,” sela Pak Tua.


Pramudya menatap Freya untuk meminta persetujuan. Ia sendiri tidak keberatan, tapi ia harus mempertimbangkan perasaan istrinya. Ia tidak ingin gadis itu untuk menuruti keinginan kakeknya karena terpaksa.


Freya memaksakan diri untuk tersenyum dan mengangguk lemah. “Baiklah, lagi pula memang sudah terlalu malam.”


Kepala pelayan dengan sigap memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kamar Tuan Muda Kedua. Meskipun selalu dibersihkan setiap hari, ia harus memastikan tidak ada kesalahan sedikit pun.


Tari Antasena mengepalkan tangannya dengan kuat. Orang-orang itu berdiskusi untuk menginap di rumahnya tanpa persetujuan darinya. Mereka benar-benar telah menganggap rendah dirinya. Ia melirik Tommy dengan kesal, tapi putranya itu tidak merespon apa-apa. Hal itu membuat Tari semakin kesal, tapi ia hanya bisa menahannya dalam hati.


Tommy mengisi segelas wine dan menyerahkannya kepada Pramudya. Sebuah seringai lebar terpampang di wajah tampannya, terlihat sangat tulus dan sepenuh hati.


Pramudya menatap gelas itu sebentar sebelum mengulurkan tangan dan menerimanya.


Seringai di wajah Tommy semakin lebar. Ia mengangkat gelasnya sendiri dan bersulang, “Selamat untuk pernikahanmu, Dik. Aku mendoakan pernikahan kalian langgeng dan bahagia sampai maut memisahkan.”


Sudut bibir Pramudya berkedut. Ia menatap lurus ke arah Tommy dan membalas, “Terima kasih, Kak. Aku harap kamu bisa segera menyusul.”


Senyuman di wajah Tommy tetap terlihat tenang, tapi Tari Antasena sudah membeku karena amarah. Bajingan kecil itu sangat kurang ajar!

__ADS_1


Pramudya mengabaikan wajah masam ibu tirinya. Ia mengangkat gelasnya dan menenggak habis isinya. Tommy pun melakukan hal yang sama. Kakak beradik itu lalu saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyuman tipis masih tersungging di wajah keduanya.


Freya diam-diam memandang wajah Tommy Antasena dan memujinya dalam hati. Meskipun sedang sama-sama tersenyum, tapi ekspresi wajah pria itu terlihat lebih natural. Berbanding terbalik dengan senyuman Pak Pram yang terlihat seperti akan membunuh orang. Sangat menyeramkan!


Pak Tua yang tidak menyadari keanehan itu melambaikan tangan kepada asistennya dan berkata, “Aku juga ingin bersulang dengan cucuku.”


“Tuan!” Asisten yang sama tuanya dengan Pak Tua itu melambaikan tangannya dengan panik. “Ingat kata dokter, Anda tidak boleh minum alkohol atau begadang. Harus menjaga kesehatan.”


“Haish. Cerewet. Cepat ambilkan—“


“Kakek ....” Freya mengulurkan tangan dan menahan lengan Pak Tua yang sedang melambai-lambai di udara. “Tidak perlu bersulang. Restu dari Kakek sudah lebih dari cukup untuk kami ....”


Sepasang mata Pak Tua melembut. Ia menatap tangan Freya yang masih memeganginya dan membuat keputusan. “Baiklah, Kakek tidak akan minum. Anak baik, kamu ajak suamimu pergi tidur. Kalian masih harus mempersiapkan diri untuk resepsi nanti. Jangan sampai kelelahan dan sakit.”


Freya mengambil kesempatan itu. Ia mengangguk dengan patuh dan segera menggandeng tangan Pramudya.


“Kakek, Bibi, Kakak Ipar, kami pergi istirahat dulu. Terima kasih untuk makan malamnya,” pamitnya sambil membungkuk dengan sopan.


“Ya ... ya ... pergilah. Kakek juga akan pergi tidur, tidak akan menggangu kalian lagi ....” Pak Tua menoleh ke arah Tommy dan Tari, kemudian mengimbuhkan, “Kalian juga pergi beristirahatlah.”


“Baik, Kakek.” Tommy mengangguk dengan patuh, sedangkan Tari tidak mengatakan apa-apa.


Pak Tua melambaikan tangannya, lalu memberi isyarat kepada asistennya untuk memapahnya ke kamarnya.


Pramudya menoleh ke arah Freya, menyentuh lengannya dengan lembut sambil berkata, “Ayo, kita ke kamar, istriku ....”


***


__ADS_1


__ADS_2