
Turis asing berdesak-desakan di sepanjang jalan raya Kuta. Mereka mengenakan pakaian santai yang lazim digunakan di pantai: celana pendek dan kaos tanpa lengan. Beberapa turis perempuan bahkan hanya memakai bikini. Tidak sedikit pula turis laki-laki yang hanya memakai celana pantai tanpa atasan.
Pemandangan itu terlihat kontras dengan rombongan wisatawan domestik yang berpakaian lengkap dan rapi, berjalan sembari bercengkeramana dengan kerabat dan teman mereka.
Mobil dan motor melaju perlahan di jalan satu arah, padat merayap. Matahari sudah terbenam sejak tadi, tapi jalanan justru semakin ramai.
Lisa mengedarkan pandangan dan mengamati keriuhan itu dengan takjub. Ia tidak mengira Pantai Kuta akan sepadat ini.
Setelah mobil antar jemput menurunkan mereka di dekat Hard Rock Cafe sepuluh menit lalu, Pak Bayu mengajak mereka untuk berjalan kaki mengitari kawasan Pantai Kuta dan melihat bar dan pub yang menjamur di sepanjang tempat itu.
Suara musik yang kencang terdengar bersahut-sahutan dengan bass yang berdentam-dentam, menggetarkan tanah dan jantung setiap pejalan kaki yang melintas.
Freya merasakan tangannya dipegang erat oleh Pak Pram. Mereka berjalan bersisian di belakang, membiarkan Lisa dan Pak Bayu memimpin di depan.
Freya bisa menebak bahwa Pak Pram tidak menyukai ide ini hanya dengan melihat kerutan yang dalam di kening suaminya itu. Wajah pria itu juga terlihat masam, meski masih tetap terlihat tampan dengan penampilan seperti itu.
Lihatlah. Entah sudah berapa kali ia memuji suaminya tampan. Benar-benar sudah tidak tertolong lagi.
“Kalau tidak suka, kita pulang saja,” ucapnya seraya menarik ujung jari Pramudya.
“Kamu mau pulang?” Pramudya balik bertanya. Meski tidak suka, jika Freya ingin tinggal, maka ia akan menemani meski harus menahan suara musik yang menyakiti gendang telinga.
Freya berpikir sebentar, lalu menggeleng. Sudah sampai di sini, sayang kalau pulang begitu saja.
Lagi pula, apa yang akan dilakukannya di villa? Melamun sepanjang malam? Membosankan sekali. Lebih baik menikmati momen kebersamaan yang terakhir di sini. Ia rela berdesakan di pinggir jalan.
“Ya, sudah ... jalan saja,” ucap Pramudya ketika melihat Freya menggeleng. Toh, paling-paling ia hanya akan vertigo atau sedikit tuli ketika pulang nanti.
__ADS_1
Ia menggengam tangan Freya erat-erat, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng ketika mereka berpapasan dengan serombongan turis asing yang lewat dengan bersemangat.
Freya menyadari hal itu dan merasa hatinya tiba-tiba menjadi hangat. Suaminya ini ... kenapa harus berubah menjadi begitu baik dan perhatian, membuatnya jatuh semakin dalam ....
“Freya, kamu ingin beli oleh-oleh di sini?” seru Lisa yang merasa tertarik melihat pakaian yang dipajang di depan sebuah butik. Semuanya terlihat sangat indah.
Jika dulu, ia tidak pernah bermimpi bisa membeli pakaian sejenis itu. Akan tetapi, sekarang uang tabungannya lebih dari cukup untuk membeli satu atau dua potong gaun tenun yang sangat cantik itu.
Pertanyaan Lisa mengalihkan perhatian Freya. Ia menoleh ke depan dan mendapati Lisa sedang berdiri di depan stand butik. Dilihat dari model pakaian yang dipajang, tema butik itu adalah etnik khas Bali dan NTB. Semuanya memang terlihat sangat cantik dan menawan, tapi ia merasa sedikit sayang karena tahu harganya pasti cukup mahal.
“Cobalah. Bungkus saja mana yang kamu suka.” ucap Pramudya ketika melihat kilatan ketertarikan dalam mata istrinya, tapi gadis itu tetap berdiam diri di sisinya.
Ia melepakan tangannya dan mendorong istrinya untuk maju. “Pergilah. Kalian berdua pilih saja. Aku yang bayar.”
Lisa hampir melompat karena kegirangan. Kalau Pak Bos sudah bilang begitu, ia tidak akan sungkan. Ia langsung masuk dan melihat-lihat beberapa pakaian lainnya yang dipajang.
“Tapi ini tidak sama. Anggap saja hadiah bulan madu,” balas Pramudya dengan santai.
Bayu terbatuk di sebelahnya. Ia mengangkat tangan dan menutup mulut sebelum keceplosan. Sahabatnya ini semakin lihai merayu istri. Benar-benar membuat kemajuan yang sangat pesat hanya dalam waktu empat hari. Tidak sia-sia ia mencecoki isi kepala sahabatnya itu dengan berbagai adegan romantis yang ditontonnya di Netflix.
Pramudya mengabaikan Bayu sepenuhnya. Ia berusaha meyakinkan Freya yang masih tidak mau masuk dan menyusul Lisa.
“Kalau tidak mau, aku saja yang pilihkan?” tawarnya seraya melangkah menuju pintu masuk.
“Tidak usah!” Freya berseru dan menahan lengan suaminya.
“Aku akan masuk,” imbuhnya seraya mendorong Pramudya kembali ke tempat semula. Setelah itu, ia berbalik dan menghampiri Lisa yang sedang menilai sebuah gaun terusan dengan motif tenun khas NTB.
__ADS_1
Model gaun itu sedikit terbuka, tapi sangat cantik. Lehernya dibuat dengan potongan V-neck dan bagian belakang backless, terlihat pas dengan ukuran tubuh Lisa.
“Aku yakin Pak Bayu akan langsung menyatakan cinta kalau kamu memakai gaun itu,”goda Freya separuh berbisik. Ia takut jika tiba-tiba kedua pria di luar sana masuk dan mendengar percakapan rahasia antara dirinya dan Lisa.
“Aku juga yakin sebentar lagi Pak Bos akan menyatakan cinta kepadamu. Lihatlah dia menempel ke mana-mana dan bersikap begitu murah hati. Aku benar-benar harus bersujud kepadamu, Dewiku. Ayo, jangan malu-malu ... aku tahu kamu juga menyukai Pak Bos,” balas Lisa seraya menangkupkan tangannya di depan dada dan membuat gerakan membungkuk.
Freya bungkam. Tiba-tiba ia merasa menyesal telah berani menggoda temannya yang bermulut pedas ini. Lebih baik diam dan pilih baju dengan tenang, jangan sampai Lisa balik membuat dirinya tidak berkutik.
Kalau sampai Pak Pram mendengar ucapan itu dan salah paham, ia tidak sanggup membayangkan konsekuensi apa yang harus dihadapi olehnya.
“Kalau tidak, kamu saja yang beli gaun ini.” Lisa menyodorkan gaun seksi di tangannya kepada Freya.
“Aku yakin Pak Bos tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar,” imbuhnya seraya menggerak-gerakkan alisnya dan mengedipkan mata.
“Tidak!” Freya menepisnya tanpa berpikir dua kali. Gila, ya? Ia tidak berencana menjual diri kepada siapa pun.
Lisa tertawa terpingkal-pingkal. Lihatlah temannya yang sok berani dan naif ini. Baru digoda sebentar saja sudah panik.
Ia meletakkan kembali gaun di tempat semula dan melihat-lihat yang lain. Bandrol harga yang menempel membuatnya merinding. Yang paling rendah sama dengan tiga bulan gajinya. Untung saja Pak Bos yang murah hati memberinya kesempatan untuk menikmati pakaian-pakaian mahal tanpa merogoh kocek sepeser pun.
Lisa berkekeliling sambil menyeringai lebar. Ia harap Pak Pram dan Freya selalu akur agar mereka bisa lebih sering ditraktir belanja.
***
Sang konselor cinta Pak Pram
__ADS_1