
“Freya, lihat!” Lisa menarik tangan Freya dengan panik, lalu menunjuk ke arah luar.
“Ada apa?” Freya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Lisa.
Ketika melihat siapa yang datang, tangan Freya gemetar. Orang yang ingin dihajarnya datang mengantarkan diri untuk dipukul. Bagus sekali.
Lisa mendekat dan bertanya, “Kenapa Bos Besar datang ke sini? Apa dia mencarimu? Aku bersumpah tidak melaporkan kamu berada di sini.”
Freya tertawa sumbang. Tidak perlu Lisa untuk melaporkannya, tentu saja preman itu tahu di mana dirinya berada, pria itu yang mengatur semuanya di sini.
Melihat air muka Freya yang keruh, Lisa menggoyang-goyangkan tangannya dan membujuk, “Freya, aku tidak tahu kamu ada masalah apa, tapi tolong jangan bertengkar di sini. Aku yakin Pak Pram bermaksud baik. Dia sangat peduli kepadamu.”
Peduli? Heh ... itu bukan peduli, tapi semena-mena dan arogan. Aku tidak ingin diperlakukan seperti itu.
Freya mencibir dalam hati. Meski demikian, ia tetap mendengarkan perkataan Lisa dan meredam semua keinginannya untuk berkelahi. Setidaknya, ia tetap harus menjaga wajah suaminya di depan umum.
Seorang pengawal membukakan pintu kafe, lalu Pramudya berjalan masuk. Semua pengunjung menoleh dan menatap pria tampan yang berdiri dengan aura raja di depan pintu. Para gadis sudah hampir meneteskan air liur. Pria itu terlihat seperti dewa, terlalu tampan dan menyilaukan sampai menyakiti mata!
Pramudya terlihat tidak peduli dengan semua perhatian yang tertuju kepadanya. Matanya memindai ke sekitar, mencari sosok mungil yang akhir-akhir ini menggangu konsentrasinya.
Setelah mencari beberapa saat, ia mendapati Freya sedang menatapnya dengan ... ekspresi macam apa itu? Bukankah seharusnya dia senang karena baru saja mendapatkan kafe ini secara cuma-cuma? Kenapa istrinya itu justru terlihat seperti akan ditagih utang?
Pramudya melangkah ke arah meja di sudut ruangan dengan diikuti ******* napas beberapa gadis dan tatapan cemburu para pria. Dua orang pengawal mengikuti di belakangnya dalam jarak aman.
Lisa lebih dulu berdiri dan menyapa Pramudya dengan sopan untuk mengakui kesalahannya, “Selamat sore, Pak. Maaf saya tidak sempat mengabari Anda mengenai—“
“Tidak apa-apa. Aku tahu dia ada di sini,” sela Pramudya. Tatapannya tidak lepas dari istrinya. Gadis keras kepala itu hanya terus tersenyum—yang terlihat jelas kalau senyuman itu sangat terpaksa—dan menatapnya lekat.
Aura yang intens menguar di udara. Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan para gadis yang semula mencuri pandang dengan tatapan memuja tidak berani menoleh lagi. Tatapan gadis yang dihampiri oleh pria tampan itu terlalu mengerikan.
Akhirnya Lisa yang memberanikan diri mempersilakan Pramudya untuk duduk. Ia lalu melarikan diri dari medan pertempuran itu dengan berkeringat dingin. Gila. Situasinya terlalu mengerikan!
Dua orang pengawal berdiri dalam jarak sekitar tiga langkah dari meja dan menghadap ke luar. Situasi itu membuat Freya merasa sedikit tidak nyaman. Orang-orang menatapnya dengan aneh. Ia tidak suka, tapi bagaimana cara mengusir pria ini pergi?
__ADS_1
“Tidak ada yang ingin Anda jelaskan, Pak?” tegur Freya ketika Pramudya hanya duduk di depannya dan memainkan ponsel di tangannya. Sikap macam apa itu?
“Oh?” Pramudya mendongak dengan acuh tak acuh. Akhirnya gadis itu bersedia berbicara dengan dirinya. Ia pikir mereka berdua akan saling mendiamkan untuk beberapa saat, tapi ternyata istri konyolnya itu tidak bisa tahan lebih lama lagi.
Freya menggeram pelan.
"Oh"?
Hanya “oh”?
Freya mengambil gelas dan menyeruput caramel macchiato banyak-banyak. Ia membutuhkan minuman dingin untuk memadamkan api di kepalanya.
“Ini adalah kompensasi atas sepeda motormu yang aku ambil tanpa izin lima bulan lalu.”
“Uhuk!” Freya tersedak tanpa persiapan. Caramel macchiato yang ia minum hampir meluncur keluar dari hidungnya. Ia menepuk-nepuk dada dengan tangan, tapi batuknya tetap tidak mau berhenti.
Kompensasi atas sepeda motor yang diambil tanpa izin? Bukankah itu sama saja pria ini sedang mengaku kalau pernah mencuri? Seorang Pramudya Antasena mengakui bahwa dia mencuri sepeda motor seorang karyawan miskin seperti dirinya? Freya tidak bisa percaya. Sepertinya dunia sudah mau kiamat.
Lagipula, hey ... Pak, sepeda motor itu hanya seharga 20-an juta! Ditambah bunga angsuran paling tinggi nilainya hanya 33-35 juta rupiah. Bagaimana bisa dibandingkan dengan kafe ini?!
Pramudya mendesah pelan, mengambil tisu di atas meja dan menyerahkannya kepada Freya sambil berkata, “Pelan-pelan ....”
Bukannya mereda, Freya batuk semakin parah sampai wajahnya berubah merah. Sial. Pak Pram yang galak memang menakutkan, tapi Pak Pram yang baik dan perhatian lebih menakutkan.
Tunggu ....
Freya menyeka mulut dan hidungnya dengan tisu, kemudia menatap Pramudya dengan serius dan bertanya, “Jadi itu adalah hadiah pernikahan atau kompensasi motor saya?”
Mendengar pertanyaan itu, Pramudya mengangkat satu alisnya, membalas tatapan menyelidik dari Freya. Wajah gadis itu terlihat sangat lucu dan sedikit bodoh. Apa otaknya tidak bisa mengerti? Haruskah ia menjelaskannya secara langsung?
Pramudya tidak bisa menahan dan sedikit tersenyum. Namun, karena tidak biasa tersenyum, itu lebih terlihat seperti seringaian yang sangat kaku.
Freya memaki dalam hati dan memalingkan wajahnya. Mereka belum pernah duduk berhadapan dan berbicara dengan santai seperti ini. Sialnya, ia merasa seringai kaku di wajah suaminya itu tidak terlihat jelek sama sekali, justru terlihat sangat cocok dengan wajah tampannya.
__ADS_1
“Tidak mungkin aku mengatakan kepada pemilik sebelumnya bahwa kafe ini akan digunakan sebagai kompensasi sepeda motor yang aku ambil tanpa izin, ‘kan? Selain itu, kamu sudah tidak bekerja di Antasena Grup. Kamu bisa mengelola kafe ini dengan bebas. Jadi kamu juga bisa menganggapnya sebagai pesangon. Terserah mau yang mana.”
Penjelasan Pramudya membuat Freya sadar, lagi-lagi ia sudah terlalu banyak berpikir. Otaknya menjadi semakin tidak berguna jika berada di depan suami palsunya ini.
Freya menggigit bibirnya dan menahan diri untuk mengatakan ganjalan di hatinya. Ini adalah tempat umum, rasanya kurang elok jika mereka berdebat di sini.
“Saya mengerti. Terima kasih sudah menjelaskan. Masalah lain, kita bicarakan nanti lagi saja. Saya pamit dulu.” Freya berdiri dan berjalan pergi sebelum Pramudya membalas ucapannya.
Meski tidak mengerti mengapa istrinya terlihat marah dan kesal, Pramudya hanya menatap kepergian gadis itu tanpa mengatakan apa-apa. Tadinya ia datang untuk menjemputnya untuk pulang bersama, sekalian ingin melihat reaksinya setelah menjadi pemilik kafe. Siapa sangka gadis aneh itu justru marah-marah dan emosi. Dasar tidak jelas.
Di depan sana, Freya terus mencari Lisa yang entah sedang bersembunyi di mana. Dasar teman tidak berguna. Selalu melarikan diri ketika ada masalah. Apanya yang setia kawan? Ckckck ... hanya pandai menjilat Bos dan mengorbankan teman setiap kali ada kesulitan. Benar-benar tidak memiliki hati nurani.
Sambil mencari sambil memaki Lisa dalam hati, Freya akhirnya melihat temannya itu sedang duduk di teras depan, di bawah naungan tenda payung kafe yang berwarna hijau tua. Freya menghampirinya dan menjitak keningnya karena kesal.
“Aw!” Lisa memekik dan mengusap keningnya yang sakit. Ia meringis dan ingin memarahi Freya, tapi tidak jadi ketika melihat wajah Freya yang ditekuk dua belas.
“Rasakan! Mulai sekarang kita tidak usah berteman saja!” Freya pura-pura marah dan mengerucutkan bibirnya.
Lisa mendadak melupakan rasa sakit di keningnya. Ia bangkit berdiri dan membujuk Freya.
“Kakakku yang baik, jangan marah ... kamu tahu, nyaliku sangat kecil. Aku mana berani menghadapi Bos, tapi tenang ... kamu tetap nomor satu di hatiku.”
Freya melotot kesal. “Siapa kakakmu? Aku tidak punya adik yang tidak berguna seperti ini!”
Lisa menggelendot di lengan Freya dan berusaha menjadi seimut mungkin.
Freya berusaha mendorong temannya itu menjauh, tapi Lisa justru memeluknya semakin erat. Akhirnya Freya menyerah dan membiarkan Lisa menempel di tangannya.
“Sudahlah. Ayo, pulang,” ajaknya.
Ia terlalu malas berada satu lokasi dengan Pramudya Antasena. Pria itu hanya membuatnya emosi setiap saat.
Lisa tertawa senang dan hampir melompat di udara. Ia tahu Freya tidak akan benar-benar marah kepadanya, temannya ini sangat baik dan murah hati!
__ADS_1
***